Pacu Jalur Bukan Sekadar Lomba, Suparmi: Jika Filosofinya Hilang, Tinggal Jadi Olahraga
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Gemuruh Pacu Jalur tidak hanya lahir dari hentakan dayung dan derap ratusan anak pacu di Sungai Kuantan. Di balik jalur yang melaju membelah arus, tersimpan lapisan panjang adat, seni, simbol, filosofi dan tata nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kamis (27/8/2026).
Karena itu, ketika tradisi tersebut bersinggungan dengan perilaku yang dinilai tidak menghormati adat dan etika setempat, kegelisahan pun muncul dari kalangan pelaku seni budaya.
Suparmi, pelaku dan penggiat seni budaya Kuantan Singingi, menuangkan keresahannya melalui caption di akun media sosial miliknya. Ia mengaku terpukul melihat polemik yang menyeret nama konten kreator Polda Sitanggang dan tokoh adat Kuansing Darwis Dt.
Menurut Suparmi, persoalan tersebut tidak semestinya dilihat hanya sebagai perselisihan antara dua individu. Ada persoalan yang jauh lebih besar yang patut menjadi perhatian bersama: marwah Pacu Jalur sebagai warisan budaya masyarakat Kuantan Singingi.
Ketika Pacu Jalur Berubah Menjadi Sekadar Konten
Dalam unggahannya, Suparmi menyampaikan keprihatinan terhadap apa yang dinilainya sebagai perilaku yang tidak mencerminkan adab, etika dan tata krama yang semestinya dijunjung ketika berada di tengah masyarakat dan lingkungan budaya Kuansing.
Ia menyinggung konten Polda Sitanggang yang menurutnya telah menimbulkan keresahan, termasuk polemik terkait konten yang memperlihatkan minuman yang disebut sebagai tuak serta munculnya persoalan dengan Darwis Dt.
Namun Suparmi tidak berhenti pada polemik tersebut.
Ia justru membawa pembicaraan kembali kepada sesuatu yang menurutnya mulai terlupakan: apa makna Pacu Jalur sesungguhnya?
Sebab, bagi masyarakat Kuansing, jalur bukan sekadar perahu panjang yang dipacu untuk menjadi yang tercepat.
Di dalamnya terdapat simbol dan filosofi yang tidak lahir kemarin sore.
Setiap Bagian Jalur Memiliki Makna
Suparmi kemudian memaparkan berbagai unsur yang terdapat dalam sebuah jalur.
Ia menyebut luan, togak luan atau tukang tari, telinga, ukiran kumai, timbo ruang, paminggang atau tukang uwik, tukang onjai, lambai-lambai atau silek bayung, ukiran silek bayung, cermin atau kaco di silek bayung, gulung siriah hingga sarang lobah.
Tidak berhenti di sana, ia juga menyebut berbagai benda yang digunakan dalam rangkaian tersebut, seperti sitawar, sidingin, kumpai, mayang, bunga pandan, lidi kelapa, upiah yang dipegang timbo ruang, hingga lilin yang dinyalakan pada malam hari di luan, timbo ruang dan kemudi.
Termasuk pula keberadaan rarak godang atau godang baroguang yang dimainkan di kajang jalur.
Bagi orang awam, berbagai unsur tersebut mungkin terlihat sebagai bagian dari dekorasi atau kelengkapan perlombaan.
Tetapi bagi pelaku seni dan masyarakat yang memahami tradisi, setiap bagian memiliki filosofi.
Di sinilah letak kegelisahan Suparmi.
Menurut dia, modernisasi dan popularitas Pacu Jalur tidak boleh membuat masyarakat hanya mempertahankan bentuknya, tetapi kehilangan makna yang berada di baliknya.
“Kalau Filosofi Hilang, Pacu Jalur Bukan Lagi Budaya”
Pesan paling keras Suparmi justru bukan ditujukan kepada satu orang.
Ia mengingatkan seluruh pihak.
Orang adat.
Alim ulama.
Pemerintah.
Dan masyarakat.
Ia berharap para pemangku adat masih memahami filosofi Pacu Jalur, alim ulama tetap memiliki kepedulian terhadap nilai yang hidup di tengah masyarakat, dan pemerintah tidak hanya melihat Pacu Jalur sebagai komoditas pariwisata atau agenda tahunan.
Sebab, menurutnya, ada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada sekadar kemeriahan event.
Yakni identitas budaya.
“Semoga orang adat masih memahami, alim ulama masih mengerti, dan pemerintah masih peduli,” tulis Suparmi dalam caption unggahannya.
Pesannya kemudian mengarah pada satu kekhawatiran besar.
Jika filosofi budaya tersebut hilang, Pacu Jalur pada akhirnya hanya akan menjadi olahraga.
Kalimat itu menjadi kritik sekaligus alarm.
Sebab sebuah kebudayaan dapat kehilangan ruhnya bukan karena bentuknya lenyap, tetapi karena masyarakat tidak lagi memahami alasan mengapa tradisi itu dijalankan.
Pacu Jalur, Antara Tradisi dan Panggung Digital
Polemik yang melibatkan Polda Sitanggang juga memperlihatkan tantangan baru yang dihadapi Pacu Jalur di era media sosial.
Hari ini, Pacu Jalur bukan lagi hanya tontonan masyarakat Kuansing.
Ia telah menjadi konten.
Setiap gerakan anak pacu dapat direkam. Setiap komentar dapat dipotong menjadi video pendek. Setiap kontroversi dapat menyebar dalam hitungan menit.
Popularitas digital membawa keuntungan.
Tetapi juga membawa risiko.
Ketika budaya menjadi konten, batas antara kreativitas dan penghormatan terhadap adat menjadi semakin penting untuk diperhatikan.
Konten kreator memiliki kebebasan berekspresi, tetapi kebebasan itu tetap bersinggungan dengan norma sosial, etika dan hukum yang berlaku.
Apalagi ketika konten tersebut dibuat di ruang publik dan menyangkut simbol atau tokoh adat masyarakat setempat.
Jangan Sampai Persaudaraan Hulu-Hilir Ikut Rusak
Menariknya, Suparmi tidak menjadikan unggahannya sebagai ajakan untuk memperbesar konflik.
Sebaliknya, ia secara terang menyebut tujuan utamanya adalah menjaga dan meningkatkan tali persaudaraan antara masyarakat hulu dan hilir, begitu pula sebaliknya.
Ini penting.
Sebab Pacu Jalur pada hakikatnya tidak seharusnya menjadi panggung pertentangan.
Ia adalah ruang pertemuan.
Ruang kebersamaan.
Ruang bagi masyarakat dari berbagai daerah untuk berkumpul di tepian Sungai Kuantan.
Karena itu, polemik yang muncul seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi bersama, bukan justru memperlebar jarak antarmasyarakat.
Kritik Budaya Tidak Harus Berujung Permusuhan
Suparmi juga menyampaikan permohonan maaf apabila ada bagian dari tulisannya yang dianggap kurang berkenan.
Ia menegaskan bahwa dirinya hanya menyampaikan pandangan dan kegelisahan sebagai pelaku seni budaya.
Bukan untuk membuka ruang perdebatan.
Sikap tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa yang hendak dipersoalkannya bukan sekadar siapa yang sedang viral dan siapa yang sedang menjadi sasaran kritik.
Yang jauh lebih penting adalah pertanyaan:
Apakah masyarakat Kuansing masih memahami Pacu Jalur sebagai budaya?
Atau perlahan-lahan ia hanya akan menjadi sebuah event besar yang diukur dari jumlah penonton, jumlah konten, jumlah wisatawan dan tingkat viralitas?
Pertanyaan itu layak dijawab.
Sebab Pacu Jalur tidak lahir dari algoritma media sosial.
Ia lahir dari masyarakat.
Dari adat.
Dari gotong royong.
Dari sungai.
Dari seni.
Dan dari perjalanan panjang masyarakat Kuantan Singingi.
Menjaga Marwah di Tengah Popularitas
Semakin besar Pacu Jalur dikenal dunia, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga nilai yang membentuknya.
Tidak cukup hanya mempercantik jalur.
Tidak cukup hanya memperbesar panggung.
Tidak cukup hanya menghadirkan hiburan.
Tidak cukup pula hanya membuat konten yang viral.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan generasi berikutnya masih memahami mengapa semua simbol itu ada.
Mengapa ada togak luan.
Mengapa ada silek bayung.
Mengapa ada ukiran.
Mengapa ada rarak godang.
Mengapa ada benda-benda tertentu yang digunakan.
Dan mengapa seluruh rangkaian tersebut tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya masyarakat Kuantan Singingi.
Pesan Suparmi pada akhirnya menjadi refleksi bagi semua pihak.
Pacu Jalur boleh menjadi tontonan dunia, tetapi jangan sampai masyarakat Kuansing sendiri kehilangan pemahaman terhadap jiwanya.
Sebab ketika filosofi hilang, yang tersisa mungkin hanya perahu, dayung, sungai dan perlombaan.
Dan ketika itu terjadi, Pacu Jalur memang masih ada.
Tetapi budayanya bisa saja telah pergi.*(ald)

Tulis Komentar