Pancang Terakhir Jadi Saksi, Jubah Merah Tumbangkan Kahulu Jantan dan Melaju ke Hari Keempat

foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Sungai Kuantan kembali menjadi panggung pertarungan yang menguras napas. Pada hari ketiga Pacu Jalur Event Nasional 2026 di Tepian Narosa, dua kebanggaan kampung dari Kuantan Singingi beradu kekuatan: Keramat Jubah Merah dari Desa Muaro Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, melawan Kahulu Jantan Danau Kompe dari Desa Benai Kecil, Kecamatan Benai.

Pertarungan itu tersaji pada undian ke-40.

Kedua jalur dihilirkan dari pancang start pada pukul 16.48 WIB. Begitu aba-aba dilepaskan, puluhan anak pacu dari kedua jalur serentak menghentakkan dayung ke permukaan Sungai Kuantan.

Air terbelah.

Kayu jalur meluncur.

Dan tepian sungai seketika berubah menjadi lautan suara.

Sorak pendukung dari kedua belah pihak bersahutan, mengiringi duel yang sejak awal berlangsung sengit.

Tidak ada jalur yang mau menyerah.

Tidak ada dayungan yang diberikan cuma-cuma.

Keduanya terus beradu cepat hingga mendekati pancang pemisah terakhir.

Di situlah drama menemukan ujungnya.

Keramat Jubah Merah akhirnya mampu menghentikan laju Kahulu Jantan Danau Kompe dan memastikan dirinya melaju ke hari keempat.

Kemenangan itu sekaligus menjadi jawaban atas ketegangan yang menggantung sepanjang lintasan.
Jubah Merah bertahan.

Kahulu Jantan harus berhenti.

Angka 16.48 WIB mungkin hanya sebuah catatan waktu.

Namun bagi masyarakat Muaro Sentajo, angka itu akan menjadi bagian dari cerita perjalanan Jubah Merah di Tepian Narosa.

Pada saat itulah Keramat Jubah Merah dan Kahulu Jantan Danau Kompe dilepas dalam undian ke-40.

Dua jalur berangkat dari garis yang sama.

Namun keduanya membawa beban yang berbeda: harapan masyarakat, nama kampung, kerja keras anak pacu, dan marwah tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Begitu dayungan pertama menghantam air, tak ada lagi ruang untuk ragu.

Puluhan anak pacu harus menjadi satu tubuh.

Satu irama.

Satu napas.

Satu tujuan.

Pacu jalur memang tampak sederhana dari tepian. Tetapi di atas jalur, setiap detik adalah pertaruhan.

Satu dayungan terlambat bisa berarti kehilangan jarak.

Satu irama yang pecah bisa mengubah arah pertandingan.

Dan ketika lawan berada begitu dekat, mental menjadi bagian dari kekuatan.

Duel Dua Kebanggaan Kuansing
Keramat Jubah Merah datang dari Desa Muaro Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya.

Sementara Kahulu Jantan Danau Kompe membawa nama Desa Benai Kecil, Kecamatan Benai.

Keduanya berasal dari tanah yang sama—Kuantan Singingi.

Mereka datang dari masyarakat yang sama-sama mengenal Sungai Kuantan sebagai urat nadi kebudayaan.

Karena itu, pertarungan keduanya tidak sekadar mempertemukan dua jalur.

Ia mempertemukan dua harapan.

Dari tepian, masyarakat berteriak memberi tenaga tambahan kepada anak-anak pacu. Sementara di atas jalur, setiap anak pacu berusaha mempertahankan irama dayungan.

Sungai Kuantan menjadi saksi bagaimana tradisi bekerja dalam bentuk paling nyata: puluhan manusia duduk dalam satu jalur dan harus menghilangkan ego masing-masing demi satu gerakan bersama.

Pertandingan terus bergulir hingga mendekati pancang terakhir.

Ketegangan meningkat.

Jarak semakin menentukan.

Dan setiap hentakan dayung menjadi semakin berharga.

Pada fase inilah Keramat Jubah Merah menunjukkan daya juangnya.

Jubah Merah terus menjaga irama hingga akhirnya mampu melewati pertarungan pada pancang pemisah terakhir.

Kahulu Jantan Danau Kompe pun harus mengakhiri perjuangannya.

Tepian Narosa pecah oleh sorak kemenangan.

Bagi Muaro Sentajo, itu bukan sekadar suara kemenangan sebuah jalur.

Itu adalah suara kebanggaan sebuah kampung.

Kepala Desa Muaro Sentajo, Halmadi Asmara, menyambut kemenangan Keramat Jubah Merah dengan rasa syukur.

Menurutnya, kemenangan tersebut merupakan buah dari perjuangan anak-anak pacu sekaligus dukungan masyarakat yang tidak pernah berhenti mengiringi perjalanan Jubah Merah.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Anak-anak pacu sudah memberikan perjuangan terbaik. Ini bukan hanya kemenangan anak pacu, tetapi kemenangan seluruh masyarakat Muaro Sentajo,” ujar Halmadi.

Ia meminta seluruh tim tidak terlena dengan kemenangan tersebut.
Sebab, kata dia, perjalanan Jubah Merah masih panjang dan tantangan pada hari keempat tentu akan semakin berat.

“Kita tahu, lawan-lawannya semakin berat. Karena itu jangan cepat puas. Tetap fokus, jaga kekompakan, jaga kesehatan, dan terus berjuang. Kita mohon doa seluruh masyarakat agar langkah Jubah Merah bisa terus berlanjut,” katanya.

Halmadi juga memberikan penghormatan kepada Kahulu Jantan Danau Kompe yang telah memberikan perlawanan sengit.

“Kita juga memberikan penghormatan kepada Kahulu Jantan Danau Kompe. Mereka sudah memberikan pertandingan yang luar biasa. Inilah pacu jalur, ada menang dan ada kalah, tetapi semuanya tetap saudara dalam menjaga marwah budaya Kuantan Singingi,” ujarnya.

Kemenangan atas Kahulu Jantan Danau Kompe menjadi tiket bagi Jubah Merah untuk melangkah ke hari keempat.

Tetapi justru di sinilah perjalanan semakin berat.

Tidak ada tempat bagi kesombongan.

Tidak ada ruang untuk kehilangan konsentrasi.

Sebab semakin jauh sebuah jalur melangkah, semakin besar pula tekanan yang menunggunya.

Halmadi menyadari itu.

“Jubah Merah melaju ke hari keempat. Kita tidak ingin membebani anak-anak pacu dengan target yang berlebihan. Jalani saja setiap pertandingan dengan tenang, kompak dan penuh keyakinan. Yang terpenting berikan yang terbaik sampai dayungan terakhir,” tutur Halmadi.

Pesan itu terdengar sederhana.

Namun dalam pacu jalur, kesederhanaan justru menjadi kekuatan.

Tetap tenang.

Tetap kompak.

Tetap mendayung.

Sebab kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak berbicara sebelum pertandingan, melainkan siapa yang mampu mempertahankan dayungan ketika tenaga mulai terkuras.

Keramat Jubah Merah bukan sekadar sebuah nama di papan pertandingan.

Ia membawa nama Muaro Sentajo.

Membawa nama Kecamatan Sentajo Raya.

Dan pada akhirnya membawa pula nama Kuantan Singingi.

Di belakangnya ada masyarakat yang menunggu kabar.

Ada keluarga yang berdoa.

Ada anak-anak muda yang berlatih.

Ada tenaga, waktu dan pengorbanan yang dikumpulkan untuk satu tujuan: membuat jalur bergerak lebih cepat daripada lawannya.

Karena itulah pacu jalur tidak pernah benar-benar selesai ketika jalur melewati garis akhir.

Cerita justru baru dimulai ketika kemenangan dibawa pulang ke kampung.

Kekalahan Kahulu Jantan Danau Kompe tidak menghapus perjuangan yang telah mereka berikan.

Jalur dari Desa Benai Kecil itu telah menjadi bagian dari pertarungan hari ketiga yang berlangsung keras dan penuh gengsi.

Dalam pacu jalur, kemenangan dan kekalahan adalah dua sisi dari satu tradisi.

Hari ini seseorang menang.

Hari ini pula seseorang harus menerima kekalahan.

Namun sungai tetap mengalir.

Pacu tetap berlanjut.

Dan tradisi tetap hidup.

Justru di situlah kekuatan pacu jalur: ia tidak hanya mengajarkan bagaimana memenangkan perlombaan, tetapi juga bagaimana menerima hasil dengan kepala tegak.

Kini Keramat Jubah Merah melaju.

Dari undian ke-40, dari pelepasan pukul 16.48 WIB, melewati pertarungan panjang hingga pancang pemisah terakhir, Jubah Merah berhasil mengunci langkah menuju hari keempat.

Sungai Kuantan belum selesai bercerita.

Pancang-pancang berikutnya masih menunggu.

Lawan berikutnya belum diketahui.

Dan tepian masih akan kembali dipenuhi suara-suara yang menyebut nama jalur kebanggaan mereka.

Bagi Muaro Sentajo, harapan itu kini kembali disematkan pada puluhan anak pacu yang duduk dalam satu tubuh panjang bernama Keramat Jubah Merah.

Mereka telah melewati satu pertarungan.

Mereka belum memenangkan semuanya.

Sebab di Tepian Narosa, setiap hari memiliki ceritanya sendiri.

Jubah Merah telah melewati hari ketiga.

Kahulu Jantan Danau Kompe telah terhenti.

Dan kini, dengan sisa tenaga, doa, serta marwah yang dibawa dari Muaro Sentajo, Keramat Jubah Merah kembali bersiap mendayung pada hari keempat.

Sungai Kuantan masih mengalir.

Pacu belum berakhir.

Dan Jubah Merah masih mengejar takdirnya di Tepian Narosa.*(ald)






Tulis Komentar