Bukan Hanya Keramat Jubah Merah, Romi Alfisah Putra Dukung Seluruh Jalur Sentajo Raya
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Dukungan terhadap jalur-jalur yang berlaga di Tepian Narosa tidak berhenti pada satu nama. Bagi Romi Alfisah Putra, SE., legislator Kuantan Singingi yang berasal dari Kecamatan Sentajo Raya, setiap jalur yang membawa nama Sentajo Raya adalah bagian dari kebanggaan yang sama.
Usai menghadiri pembukaan Festival Pacu Jalur Tradisional Event Nasional 2026 di Teluk Kuantan bersama sang istri tercinta, Nining Astria, SE., MBA, Rabu (19/8/2026), Romi menyampaikan semangatnya kepada seluruh jalur asal Sentajo Raya yang ikut bertarung di Tepian Narosa.
Keramat Jubah Merah memang menjadi salah satu jalur yang mendapat sorotan dan dukungannya.
Namun dukungan itu tidak berhenti di sana.
Seluruh jalur Sentajo Raya yang turun berlaga di Tepian Narosa mendapat dukungan yang sama.
“Jubah Merah, semangat...!!!” ujar Romi sembari mengepalkan tangan.
Seruan itu bukan sekadar dukungan kepada sebuah jalur. Lebih dari itu, menjadi simbol semangat untuk seluruh pejuang jalur asal Sentajo Raya yang sedang membawa nama daerah mereka ke panggung Pacu Jalur Event Nasional.
Bagi Romi, Sentajo Raya bukan sekadar sebuah wilayah administratif.
Sentajo Raya adalah tanah tumpah darahnya.
Di sanalah akar kehidupannya tertanam. Karena itu, ketika jalur-jalur dari Sentajo Raya turun ke Sungai Kuantan, ada ikatan emosional yang sulit dipisahkan antara dirinya, masyarakat, dan tradisi pacu jalur.
Setiap jalur yang meluncur membawa nama Sentajo Raya, menurutnya, membawa pula harapan masyarakat.
Tak peduli jalur itu berasal dari kampung mana, ketika sudah berada di Tepian Narosa, seluruhnya menjadi bagian dari keluarga besar Sentajo Raya.
Pacu Jalur pun berubah menjadi lebih dari sekadar perlombaan.
Ia menjadi pertemuan antara kampung dan zaman. Menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan bahwa tradisi yang diwariskan leluhur masih memiliki denyut yang kuat di tengah perubahan zaman.
Di Tepian Narosa, anak-anak pacu mengerahkan tenaga. Tukang tari menjaga irama. Masyarakat berteriak dari tepian. Dan dari kejauhan, keluarga serta orang-orang kampung menunggu dengan doa.
Dalam suasana seperti itulah dukungan Romi terasa sebagai bagian dari energi kolektif.
Ia tidak menempatkan dukungan hanya kepada satu jalur.
Semua jalur Sentajo Raya adalah kebanggaan yang sama.
Sebab kemenangan satu jalur tentu menggembirakan. Tetapi ketika seluruh jalur mampu menunjukkan perjuangan terbaiknya, sesungguhnya seluruh Sentajo Raya telah menang dalam mempertahankan tradisinya.
Pacu Jalur telah mengajarkan satu hal penting: tidak semua perjuangan harus berakhir dengan menjadi juara untuk disebut sebagai kemenangan.
Ada kemenangan ketika anak-anak muda mau berlatih.
Ada kemenangan ketika masyarakat masih bergotong royong.
Ada kemenangan ketika generasi muda masih mengenal jalur sebagai bagian dari identitas kampungnya.
Dan ada kemenangan ketika sebuah negeri mampu membawa nama baiknya ke hadapan ribuan orang di Tepian Narosa.
Romi melihat semangat itu dari dekat.
Bersama Nining Astria, ia hadir di tengah atmosfer pembukaan, menyaksikan bagaimana Sungai Kuantan kembali menjadi panggung kebudayaan yang menyatukan masyarakat.
Di sana, batas-batas kepentingan menjadi cair.
Yang tersisa hanyalah kecintaan terhadap kampung, daerah dan tradisi.
Sentajo Raya adalah tanah tumpah darah. Jalur-jalurnya adalah anak kandung yang sedang berjuang di sungai.
Maka dukungan kepada mereka bukan semata-mata tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Lebih dalam dari itu, adalah pesan agar setiap anak pacu berani memberikan seluruh tenaga terbaiknya.
Agar setiap jalur bertanding dengan kehormatan.
Dan agar nama Sentajo Raya tetap berkibar di antara riuh tepian Sungai Kuantan.
Di ujung hari, mungkin hanya satu jalur yang akan berdiri sebagai juara.
Namun bagi Romi, setiap jalur Sentajo Raya yang berani turun ke arena telah membawa satu kemenangan penting: membawa nama tanah tumpah darahnya berlari di atas Sungai Kuantan.
Dan ketika dayung menghantam air, doa dari kampung pun ikut mengalir.
“Semangat seluruh jalur Sentajo Raya. Berpacu dengan tenaga, bertanding dengan marwah, dan pulang membawa kebanggaan.” *(ald)

Tulis Komentar