Ironi di Kota Peraih Adipura: Gunungan Sampah Kepung Pasar dan Ruas Jalan Utama Teluk Kuantan

foto: istimewa (doc. kilasriau.com)


TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Wajah ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) kembali dipertanyakan. Tumpukan sampah menggunung terlihat di sejumlah ruas jalan utama di pusat Kota Teluk Kuantan. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga memicu keluhan masyarakat karena dinilai telah berlangsung berulang kali tanpa penyelesaian yang tuntas.

Pantauan media ini pada Ahad (2/8/2026) sekitar pukul 09.31 WIB, tumpukan sampah terlihat di sepanjang Jalan Imam Munandar hingga Jalan Tuanku Tambusai, tepatnya mengepung kawasan Pasar Terminal Lama dan Pasar Tradisional Berbasis Modern.

Tak hanya itu, pemandangan serupa juga ditemukan di jalur dua mulai dari bawah SMKN 1 Teluk Kuantan hingga Simpang Empat Lapas Kelas IIB Teluk Kuantan. Di sejumlah titik, kantong-kantong sampah rumah tangga, kardus, dan limbah campuran tampak menumpuk di tepi jalan, bahkan sebagian meluber ke badan jalan.

Ironisnya, salah satu titik penumpukan sampah berada tidak jauh dari Tugu Adipura. Padahal, tugu tersebut merupakan simbol penghargaan atas keberhasilan suatu daerah dalam menjaga kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Pemandangan gunungan sampah yang berada di sekitar ikon tersebut menghadirkan ironi sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai komitmen menjaga wajah ibu kota kabupaten.

Kawasan yang setiap hari menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat itu kini justru dikepung tumpukan sampah. Bau menyengat mulai tercium hingga ke area pertokoan dan lapak pedagang, sementara lalat tampak mengerumuni sampah yang belum diangkut.

Sejumlah warga dan pedagang mengaku resah. Mereka menilai kondisi tersebut tidak hanya mengurangi kenyamanan beraktivitas, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

"Kalau siang baunya sudah menyengat. Kami yang berjualan dan masyarakat yang datang ke pasar tentu merasa terganggu. Ini kan pusat kota, seharusnya bersih," ujar seorang pedagang sekitar.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya. Mereka khawatir tumpukan sampah menjadi sarang lalat dan tikus. Saat hujan turun, air lindi dari sampah juga mengalir ke badan jalan.

"Kalau dibiarkan terus seperti ini, kesan pertama orang yang datang ke Teluk Kuantan adalah kota yang kotor. Padahal ini pusat pemerintahan dan pusat perdagangan Kuansing," kata seorang warga.

Ironisnya, persoalan ini bukan terjadi untuk pertama kalinya. Penumpukan sampah di sepanjang Jalan Imam Munandar, Jalan Tuanku Tambusai hingga jalur dua di bawah SMKN 1 Teluk Kuantan telah berulang kali menjadi keluhan masyarakat. Namun hingga kini, persoalan tersebut belum menunjukkan penyelesaian yang tuntas.

Setiap kali volume sampah meningkat atau pengangkutan terlambat, kawasan pasar dan sejumlah ruas jalan utama kembali berubah menjadi lokasi penumpukan sampah. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem pengelolaan persampahan yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi.

Sorotan juga datang dari pengamat lingkungan sekaligus Ketua LSM Permata Kuansing, Junaidi Affandi. Menurutnya, berulangnya persoalan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak cukup hanya mengangkut sampah ketika keluhan masyarakat mencuat.

"Kalau sampah terus menumpuk di titik yang sama, berarti yang perlu dievaluasi bukan hanya pengangkutannya, tetapi seluruh sistem pengelolaan persampahan. Pemerintah harus melihat apakah armadanya mencukupi, bagaimana jadwal pengangkutan, kondisi tempat penampungan sementara (TPS), hingga pengawasan terhadap masyarakat yang membuang sampah di luar ketentuan," ujar Junaidi.

Menurutnya, kawasan Pasar Terminal Lama, Pasar Tradisional Berbasis Modern, hingga koridor jalan utama Kota Teluk Kuantan merupakan wajah Kabupaten Kuantan Singingi yang seharusnya menjadi prioritas pelayanan kebersihan.

Junaidi menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar menyangkut keindahan kota. Tumpukan sampah yang dibiarkan berhari-hari berpotensi mencemari lingkungan, mengundang lalat dan tikus, menimbulkan bau tidak sedap, serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

Ia juga menyoroti dampaknya terhadap citra Kuantan Singingi sebagai daerah tujuan wisata budaya yang setiap tahun menyelenggarakan Festival Pacu Jalur.

"Jangan sampai orang yang datang ke Teluk Kuantan justru disambut gunungan sampah di pintu masuk kawasan pasar maupun di ruas-ruas jalan utama kota. Kebersihan kota adalah cerminan kualitas pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Ini harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap persoalan biasa," tegasnya.

Junaidi mendesak Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi segera melakukan langkah konkret, mulai dari membersihkan seluruh titik penumpukan sampah, mengevaluasi sistem pengelolaan persampahan secara menyeluruh, menambah armada pengangkut bila diperlukan, memperbaiki manajemen pengangkutan, hingga menegakkan aturan terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan.

Bagi masyarakat, persoalan ini bukan lagi sekadar sampah yang terlambat diangkut. Penumpukan yang terus berulang di sejumlah ruas jalan utama menunjukkan perlunya pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola persampahan di Kabupaten Kuantan Singingi.

Selama gunungan sampah masih menjadi pemandangan di pusat Kota Teluk Kuantan—bahkan di sekitar Tugu Adipura, simbol kebersihan yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah—kritik terhadap kualitas pelayanan publik akan terus mengemuka. Tanpa langkah pembenahan yang nyata dan berkelanjutan, wajah ibu kota Kuansing akan terus dibayangi persoalan klasik yang seharusnya sudah lama mendapat penyelesaian.*(ald)






Tulis Komentar