Dari Sebuah Posko di Rawang Bonto, Mahasiswa UNRI Menyalakan Cahaya Belajar untuk Anak-anak Desa

 

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Menjelang senja, ketika riuh permainan anak-anak biasanya memenuhi sudut-sudut Desa Rawang Bonto, Kecamatan Kuantan Hilir, suasana berbeda justru tampak di sebuah posko sederhana. Buku-buku pelajaran terbuka di atas meja. Suara anak-anak mengeja, berhitung, dan berdiskusi bergantian memenuhi ruangan. Tawa mereka sesekali pecah, menyatu dengan semangat untuk memahami pelajaran yang mungkin belum sepenuhnya mereka kuasai di sekolah.

Di tempat itulah, sebelas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau berusaha menghadirkan sesuatu yang sederhana, tetapi memiliki makna besar: memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar.

Rumah Belajar Gratis menjadi nama yang mereka pilih. Sebuah ruang yang tidak dibatasi tembok sekolah, tidak dipungut biaya, dan terbuka bagi siapa pun yang ingin menimba ilmu.

Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan mahasiswa Universitas Riau di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dodi Dahnus, M.Pd. Tim tersebut terdiri atas Dito Adjie Ananta, Andini Anugrah, Vivin Nurmalasari, Putri Desmita Oktavian, Fadhila Mahfuzoh, Anggun Fathiya Sanny, Radhitya Yusuf Al-Farizi, Klara Marsyakila, Aprilia Dilfajri, Muqtia Destari, dan M. Hafiz Alamsyah.

Sejak awal pelaksanaan KUKERTA hingga masa pengabdian berakhir, rumah belajar itu menjadi tempat berkumpul anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan. Mereka datang membawa buku, pena, dan rasa ingin tahu yang terus tumbuh.

Bagi Ketua Kelompok KUKERTA, Dito Adjie Ananta, rumah belajar bukan sekadar agenda kerja mahasiswa. Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar kecil agar pendidikan dapat dijangkau oleh semua anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi.

"Melalui program ini, kami berharap seluruh anak-anak di Desa Rawang Bonto dapat lebih aktif dalam belajar dan menambah pengetahuan. Rumah belajar ini kami hadirkan agar menjadi ruang yang nyaman untuk belajar bersama," ujar Dito.

Harapan itu lahir dari kenyataan bahwa tidak semua keluarga mampu mengikutsertakan anak-anak mereka dalam bimbingan belajar berbayar. Karena itu, rumah belajar menjadi jembatan yang mempertemukan semangat belajar dengan kesempatan yang selama ini belum tentu dimiliki setiap anak.

Di ruangan sederhana itu, pelajaran sekolah dipahami kembali dengan cara yang lebih akrab. Mahasiswa tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi, mendengar, memberi motivasi, bahkan menjadi kakak bagi anak-anak desa. Hubungan yang terbangun bukan sekadar antara pengajar dan murid, melainkan antara sesama yang saling bertumbuh.

Dukungan masyarakat pun mengalir. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Rawang Bonto menilai kehadiran rumah belajar telah memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh warga.

"Program rumah belajar yang dilaksanakan mahasiswa KUKERTA UNRI sudah sangat bagus. Banyak memberikan manfaat bagi anak-anak di Desa Rawang Bonto, bahkan juga diikuti anak-anak dari luar desa," katanya.

Pemerintah desa melihat program tersebut sebagai pelengkap bagi pendidikan formal. Sekolah tetap menjadi fondasi utama, sementara rumah belajar menghadirkan ruang kedua yang membuat anak-anak semakin percaya diri dalam memahami pelajaran.

Perubahan kecil mulai terlihat dari rumah-rumah warga. Sinta, salah seorang orang tua peserta rumah belajar, merasakan sendiri dampak program tersebut terhadap anaknya.

"Semenjak adanya rumah belajar ini, anak saya jadi lebih semangat belajar karena bisa bertemu teman-temannya dan belajar bersama. Waktu bermain gadget juga jauh berkurang karena lebih sibuk belajar, jadi sering lupa dengan gadget," tuturnya.

Kesaksian itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi sebuah desa, ketika anak-anak mulai memilih membuka buku daripada menatap layar gawai, sesungguhnya sedang tumbuh sebuah harapan baru.

Rumah belajar yang dibangun mahasiswa Universitas Riau itu memang tidak megah. Tidak memiliki ruang kelas bertingkat ataupun fasilitas serba modern. Namun, di dalamnya tersimpan keyakinan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

Semangat "KUKERTA Berdampak" yang diusung mahasiswa Universitas Riau menemukan maknanya di Rawang Bonto. Pengabdian tidak berhenti pada laporan akhir atau penilaian akademik, tetapi menjelma menjadi ruang yang menghidupkan mimpi-mimpi anak desa.

Di tengah berbagai tantangan pemerataan pendidikan, rumah belajar itu menjadi pengingat bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya tugas sekolah atau pemerintah. Ketika kampus, masyarakat, dan pemerintah desa berjalan beriringan, secercah cahaya dapat lahir dari sebuah posko sederhana.

Dan mungkin, dari ruang kecil itulah, masa depan anak-anak Rawang Bonto sedang ditulis—halaman demi halaman, dengan pensil, buku, dan harapan yang terus menyala.*(ald)






Tulis Komentar