Dari Angin dan Samudra, “Spice & Heritage” Menghidupkan Kembali Swarnadwipa di Pesisir Lampung
PESAWARAN (KilasRiau.com) – Ada nama yang lahir dari angin dan samudra. Nama yang melintas musim, melampaui cakrawala, lalu bersemayam dalam ingatan bangsa-bangsa. Nama itu adalah Swarnadwipa—Pulau Emas.
Dari tanah yang diselimuti kesuburan dan harum rempah, layar-layar pernah terkembang. Kapal-kapal dari negeri jauh berlayar mengikuti jejak pala dan lada yang tumbuh dari rahim Sumatra. Mereka datang membawa bahasa, pengetahuan, keyakinan, dan mimpi. Mereka bertemu, berpisah, saling mengenal, lalu menenun peradaban yang melampaui zamannya.
Ingatan itulah yang akan dihidupkan kembali melalui pertunjukan tari-teater visual “Spice & Heritage”, salah satu sajian utama dalam rangkaian Pesenggiri Festival 2026, yang akan berlangsung pada 3 hingga 5 Juli 2026 di kawasan pantai Lampung Marriott Resort & Spa, Kabupaten Pesawaran. Festival tahun ini mengusung tema besar “Spice, Heritage & Harmony”, sebuah perayaan yang berangkat dari kekayaan rempah Nusantara dan filosofi Piil Pesenggiri masyarakat Lampung.
Di tepi laut Hurun yang tenang, tempat ombak berbicara dengan angin dan langit menjatuhkan warna senja ke permukaan air, tubuh-tubuh akan mulai berkisah. Gerak, cahaya, musik, dan puisi akan berpadu menjadi bahasa yang tak hanya ditonton, tetapi dirasakan.
Sebab "Spice & Heritage" bukan sekadar pertunjukan.
Ia adalah perjalanan pulang.
Swarnadwipa tidak pernah semata tentang emas dan kekayaan yang dicari manusia. Ia adalah tanah yang hangat oleh kehidupan. Rahim yang melahirkan harapan, pengetahuan, dan kebijaksanaan.
Tanah yang telah menyaksikan perjumpaan dan perpisahan, kejayaan dan luka, tetapi tak pernah kehilangan jiwanya.
Di arus waktu yang terus bergerak, nyalanya tetap hidup.
Menjaga ingatan tentang siapa sesungguhnya kita dan dari mana kita berasal.
Melalui "Spice & Heritage", jejak-jejak itu kembali digali. Bukan untuk memuja masa lalu, melainkan untuk mengingat bahwa rempah yang dahulu menghubungkan dunia, sesungguhnya adalah warisan peradaban yang harus dijaga.
Sebab ada emas yang tak dapat ditimbang oleh timbangan perdagangan.
Ia hidup dalam kebudayaan.
Ia bersemayam dalam ingatan.
Dan ia akan terus menyala selama masih ada manusia yang setia mengenangnya.
Karya besar ini lahir dari pertemuan banyak jiwa.
Di balik panggung, nama Dibal Ranuh dipercaya sebagai Artistic Director. Dari Denpasar, Bali, ia membawa semangat Komunitas Kita Poleng untuk menjalin tradisi dan estetika kontemporer dalam satu nafas.
Koreografi digarap oleh seniman asal Jepang, Jasmine Okubo, bersama Aditya Guna Eka Putra, menghadirkan dialog antara Timur dan Nusantara melalui bahasa tubuh yang universal.
Komposisi musik dibangun oleh seniman Riau, Epi Martison, bersama Tommy Respati, yang akan merangkai bunyi menjadi ombak, angin, dan denyut perjalanan panjang jalur rempah.
Sementara kekuatan cerita dipercayakan kepada Wendra Wijaya sebagai penulis naskah. Jalannya produksi dikawal oleh W.S. Wulandari selaku Project Manager serta Ananda Gayatri sebagai Line Manager.
Tak hanya itu, para penari dan pemusik ada yang dari Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan ada pula mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Seni Musik Universitas Lampung serta dari sanggar-sanggar seni lampung turut menjadi bagian dari kolaborasi besar ini, mempertemukan generasi muda dengan denyut sejarah yang pernah membesarkan Nusantara.
Pertunjukan ini juga akan diperkuat oleh sejumlah karya musikal.
Komposisi "Spirit of Riau" dari Duo Percussion telah dipastikan menjadi bagian dari sajian artistik. Begitu pula karya "Lampung Sai" dari Elite Music yang akan memperkaya nuansa lokal.
Sementara karya monumental "Swarnadwipa" milik maestro musik Indonesia, Erwin Gutawa, masih menunggu konfirmasi akhir untuk turut mengiringi perjalanan panggung tersebut.
Musik-musik itu akan menjadi suara laut.
Menjadi desah angin.
Menjadi gema kapal-kapal yang pernah melintasi Selat Malaka dan membawa harum pala serta lada menuju berbagai penjuru dunia.
"Spice & Heritage" dibangun dalam empat babak besar.
Babak pertama membawa penonton memasuki mitologi Swarnadwipa, Pulau Emas yang menjadi simbol kemakmuran dan kebesaran Nusantara.
Babak kedua mengisahkan masa ketika rempah menjadikan Sumatra sebagai simpul penting perdagangan dunia. Kapal-kapal asing berdatangan. Pelabuhan-pelabuhan tumbuh. Dunia bertemu di tanah yang sama.
Babak ketiga berbicara tentang pelayaran, perjumpaan, dan pertukaran ilmu pengetahuan yang melahirkan peradaban.
Sedangkan babak terakhir menjadi ruang perenungan.
Tentang identitas.
Tentang luka sejarah.
Tentang perjuangan.
Dan tentang bagaimana nilai-nilai budaya tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Pada bagian penutup, falsafah Piil Pesenggiri hadir sebagai jiwa yang menghidupkan seluruh kisah.
Martabat.
Kehormatan.
Harga diri.
Nilai-nilai yang selama ini menjadi napas masyarakat Lampung.
Tak banyak pertunjukan yang lahir dengan latar seindah ini.
Lampung Marriott Resort & Spa berdiri di tepian pantai Desa Hurun dengan bentang pesisir sepanjang sekitar 1,5 kilometer yang langsung menghadap lautan. Dari tempat inilah langit dan air seolah bertemu tanpa batas.
Di sana, ketika matahari perlahan tenggelam dan warna jingga memenuhi cakrawala, tubuh-tubuh para penari akan bergerak.
Musik akan mengalun.
Cahaya akan berbicara.
Dan sejarah yang selama ini hanya tersimpan dalam buku-buku akan menjelma menjadi pengalaman visual dan emosional.
Karena sesungguhnya, "Spice & Heritage" bukan hanya tentang masa lalu.
Ia adalah tentang ingatan.
Tentang identitas.
Tentang sebuah bangsa yang pernah menjadi pusat dunia, tetapi tak pernah kehilangan jiwanya.
Dan seperti ombak yang tak pernah lelah kembali ke pantai, Swarnadwipa akan selalu pulang.
Hidup dalam setiap hati yang masih setia mengingatnya.*(ald)

Tulis Komentar