Di Balik Uluran Negara, 31 KPM Desa Dusun Tuo Terima BLT-DD; Kades Titip Pesan tentang Dapur, Harapan, dan Kesadaran Pajak
KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Pagi di Desa Dusun Tuo, Senin (11/5/2026), berjalan dengan ritme yang sedikit berbeda. Langit tampak teduh, angin berembus pelan menyusuri halaman tempat masyarakat berkumpul, seolah turut menjadi saksi bagaimana negara kembali hadir di tengah warganya-bukan dengan pidato panjang, bukan pula dengan janji-janji, melainkan lewat uluran tangan yang nyata.
Satu per satu masyarakat datang. Ada langkah yang pelan, ada wajah-wajah penuh harap, ada pula tatapan yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan hidup, tentang dapur yang harus terus mengepul, tentang anak-anak yang harus tetap makan, dan tentang hari-hari yang harus terus dijalani meski keadaan tak selalu ramah.
Hari itu, Pemerintah Desa Dusun Tuo menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) untuk periode April hingga Mei 2026 kepada 31 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Di ruangan yang dipenuhi kesederhanaan itu, hadir Camat Kuantan Hilir Rahman Candra, Kasi PMD Yudepi, Pendamping Desa, Pendamping Lokal Desa, anggota BPD, serta jajaran perangkat desa yang turut memastikan proses penyaluran berjalan dengan tertib dan tepat sasaran.
Namun pagi itu bukan sekadar tentang angka, bukan hanya tentang 31 nama penerima, bukan pula hanya tentang lembaran rupiah yang berpindah tangan. Ada pesan, ada amanah, dan ada harapan yang ikut disampaikan.
Di hadapan masyarakat, Kepala Desa Dusun Tuo Itarto Haryono berdiri dengan tenang. Suaranya tegas, namun penuh kehangatan-seperti seorang kepala keluarga yang sedang menasihati anggota keluarganya sendiri.
Ia mengucapkan selamat kepada seluruh penerima bantuan. Baginya, bantuan ini bukan sekadar program administratif, melainkan bentuk nyata hadirnya pemerintah di tengah denyut kehidupan rakyat kecil.
“Selamat kepada bapak dan ibu yang hari ini menerima bantuan. Ini adalah bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat. Gunakanlah bantuan ini dengan bijak, utamakan untuk kebutuhan pokok, untuk beras, kebutuhan dapur, dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Sebab bagi sebagian keluarga, dapur bukan hanya tempat memasak-melainkan simbol bertahannya kehidupan.
Di Desa Dusun Tuo, bantuan yang diterima hari itu mungkin tidak mengubah segalanya dalam sekejap. Ia mungkin tidak menghapus seluruh kesulitan. Namun setidaknya, bantuan itu mampu menghadirkan sedikit ruang bernapas, sedikit jeda dari kerasnya perjuangan hidup.
Tak berhenti sampai di situ, momentum penyaluran bantuan itu juga dimanfaatkan Kepala Desa untuk menyampaikan pesan yang lebih besar—tentang kesadaran, tentang tanggung jawab, dan tentang masa depan kampung yang dibangun bersama.
Dengan penuh keyakinan, Itarto Haryono mengajak masyarakat agar tidak hanya menunggu bantuan, tetapi juga ikut berkontribusi bagi pembangunan melalui kepatuhan membayar pajak.
Ia menegaskan bahwa pajak bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi sosial yang manfaatnya akan kembali kepada masyarakat sendiri.
“Sebagai warga negara yang baik, kita harus memiliki kesadaran untuk membayar pajak, baik Pajak Bumi dan Bangunan maupun pajak lainnya. Karena dari situlah pembangunan berjalan-jalan diperbaiki, fasilitas umum dibangun, dan desa bisa terus berkembang,” tuturnya.
Pesan itu melayang di antara masyarakat yang mendengarkan dengan saksama. Sebab di balik setiap ruas jalan yang mulus, setiap lampu yang menyala, setiap fasilitas yang berdiri, selalu ada gotong royong yang tak selalu terlihat-dan pajak adalah salah satunya.
Sementara itu, Camat Kuantan Hilir Rahman Candra turut memberikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Desa Dusun Tuo dalam memastikan bantuan tersalurkan dengan baik serta terus membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pembangunan desa.
Hari pun terus berjalan. Satu per satu warga pulang membawa bantuan, membawa kantong harapan, dan mungkin juga membawa pesan yang akan terus teringat: bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang memberi kembali.
Di Dusun Tuo, Senin itu, negara memang hadir lewat bantuan. Namun lebih dari itu, negara juga hadir lewat nasihat, kesadaran, dan mimpi tentang desa yang tumbuh dari tangan-tangan warganya sendiri.*(ald)

Tulis Komentar