Jalan Lurus

KilasRiau.com - Di tengah rimbunnya hutan yang seolah tak pernah tidur, seorang pengembara duduk di tepi aliran air kecil. Angin berembus pelan, membawa suara daun-daun yang saling bersentuhan, seperti bisikan alam yang menenangkan jiwa. Tidak ada hiruk-pikuk manusia, tidak ada lampu-lampu kota, tidak pula gemuruh kendaraan. Yang ada hanya sunyi—sunyi yang jujur, sunyi yang mengajak manusia mendengar dirinya sendiri.

Hari mulai merunduk ke pangkuan senja. Cahaya matahari perlahan memudar di balik pucuk-pucuk pohon yang menjulang tinggi. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, dan dari ketinggian dahan terdengar kicauan yang seolah memberi tanda: siang sedang berpindah kepada malam.

Pengembara itu mengangkat wajahnya. Ia tidak memiliki jam, tidak pula penunjuk waktu seperti manusia kota. Namun ia tahu, alam selalu punya cara untuk memberi tanda. Dari suara burung yang pulang, dari cahaya langit yang menguning, dari hawa yang mulai sejuk—ia tahu waktunya telah tiba.

Dengan langkah sederhana, ia memungut beberapa buah hutan yang jatuh di tanah. Tidak banyak, hanya sekadar untuk menyambung tenaga. Di sampingnya ada sebuah kendi kecil, air yang tersisa dari perjalanan panjangnya menembus rimba. Ia meneguknya perlahan, seperti seseorang yang memahami bahwa hidup tidak selalu tentang kelimpahan, tetapi tentang rasa syukur.

Di tengah kesederhanaan itu, ia justru merasakan kekayaan yang tidak dimiliki banyak orang.

Setelah berbuka dengan apa adanya, ia berdiri. Di hadapannya, hamparan daun kering membentuk permadani alam yang lembut. Ia menundukkan kepala, lalu bersujud di atas tumpukan daun-daun itu.

Tidak ada sajadah. Tidak ada masjid megah. Tidak ada lampu-lampu yang menerangi.

Namun di sanalah, di tengah sunyi hutan yang luas, sujudnya terasa begitu dekat dengan langit.

Doanya mengalir pelan, namun dalam. Kata-katanya sederhana, tetapi sarat makna. Ia tidak meminta harta, tidak pula meminta kekuasaan. Ia hanya memohon satu hal yang paling mendasar bagi seorang manusia yang tersesat dalam perjalanan hidupnya.

“Ya Tuhan… tunjukkanlah aku jalan pulang yang lurus.”

Doa itu tidak hanya menggema di dalam dadanya, tetapi seolah menyusup ke sela-sela pepohonan. Angin membawa bisikan harapannya ke seluruh penjuru rimba. Burung-burung yang bertengger di dahan, gemericik air yang mengalir di batu-batu, bahkan tanah tempat ia bersujud—semuanya seakan menjadi saksi.

Sebab sesungguhnya, setiap manusia adalah pengembara.

Ada yang berjalan di jalan yang terang, tetapi hatinya gelap. Ada yang hidup di tengah keramaian, tetapi jiwanya sepi. Ada pula yang tersesat bukan karena tidak tahu arah, tetapi karena terlalu jauh mengikuti keinginan dunia.

Pengembara itu memahami satu hal: tersesat bukanlah akhir dari perjalanan. Selama seseorang masih mau berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan memohon petunjuk, maka selalu ada kemungkinan untuk kembali.

Kembali kepada jalan yang lurus. Kembali kepada arah yang benar. Kembali kepada Tuhan.

Malam akhirnya turun dengan tenang. Langit hutan menjadi gelap, tetapi bintang-bintang mulai menyalakan cahayanya satu per satu. Pengembara itu masih duduk di tepi aliran air, memandang langit yang luas dengan mata yang lebih tenang.

Barangkali ia belum menemukan jalan pulang malam ini. Barangkali perjalanannya masih panjang.

Namun ia tahu satu hal yang pasti.

Selama doa masih terucap, dan hati masih mencari kebenaran, maka setiap langkah—sejauh apa pun ia tersesat—akan selalu memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan yang lurus.*(ald)






Tulis Komentar