Ketika Api Datang di Siang Hari: Duka, Doa, dan Solidaritas di Pintu Gobang Kari

foto: camat kuantan tengah, eka putra, S.Sos., M.Si saat di lokasi kebakaran di desa Pintu Gobang Kari, Rabu (11/2/2026)/ist. (doc. kilasriau.com)

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Siang itu, matahari belum condong ke barat ketika langit di atas Desa Pintu Gobang Kari, Kecamatan Kuantan Tengah, mendadak diselimuti asap kelabu. Sekitar pukul 11.43 WIB, Rabu (11/2/2026), api datang tanpa aba-aba, menjilat atap, dinding, dan seluruh ruang yang selama ini menjadi tempat pulang. Dalam sekejap, rumah milik Raja Ramli (63) berubah menjadi nyala dan bara.

Api membesar dengan cepat, seolah menelan waktu dan kenangan. Teriakan warga memecah sunyi, ember berpindah dari tangan ke tangan, namun kobaran si jago merah terlalu perkasa. Tak hanya bangunan rumah yang luluh lantak, satu unit mobil dan satu unit sepeda motor yang terparkir di halaman pun tak luput dari amukan api. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun runtuh dalam hitungan menit, meninggalkan sisa arang dan kepedihan.

Rumah itu dihuni oleh Afna Mariza (32) bersama suami serta saudaranya Rio (36), anak dari Raja Ramli. Mereka hanya sempat menyelamatkan diri, berdiri terpaku menyaksikan api merenggut ruang-ruang yang selama ini menyimpan tawa, doa, dan cerita keluarga. Tak ada korban jiwa, namun luka batin tak terelakkan.

Di tengah kepanikan yang menyelimuti lokasi kejadian, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, hadir langsung di tempat kejadian perkara. Ia berjalan mendekati keluarga korban, menyampaikan penguatan, dan memastikan bahwa negara hadir dalam duka warganya.

“Musibah ini adalah ujian yang berat. Kami hadir untuk memastikan penanganan berjalan cepat dan keluarga korban tidak merasa sendiri. Pemerintah kecamatan akan berkoordinasi agar korban mendapatkan perhatian dan bantuan yang dibutuhkan,” ujar Eka Putra, suaranya tenang di tengah riuh sirene dan api yang masih membara.

Di lokasi kejadian, terlihat sinergi yang menguatkan. Petugas Pemadam Kebakaran Satpol PP-PKP Kabupaten Kuantan Singingi berjibaku memadamkan api, dibantu aparat kepolisian dan TNI yang mengamankan area, sementara masyarakat sekitar dengan naluri kemanusiaannya ikut membantu sebisanya. Di antara asap dan bara, solidaritas tumbuh, menjadi penyejuk di tengah musibah.

“Dugaan sementara kebakaran akibat kelalaian manusia. Selain rumah, satu unit mobil dan sepeda motor juga ikut terbakar,” ungkap Kasatpol PP-PKB Kuansing Rio Kasyterwandra, S.Sos., M.M. kepada awak media.

Ia menambahkan, berdasarkan pendataan sementara, total kerugian materiil akibat kebakaran ini diperkirakan mencapai sekitar Rp. 1 miliar. Angka yang besar, namun tak pernah sebanding dengan nilai kenangan yang turut hangus terbakar.

Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Garis polisi membentang, puing-puing rumah masih menghitam, menyimpan tanda tanya yang belum terjawab.

Di atas sisa-sisa kayu yang hangus dan logam yang meleleh, kehidupan perlahan akan ditata kembali. Dari musibah ini, Pintu Gobang Kari kembali mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: ketika api merenggut segalanya, kemanusiaan, doa, dan kebersamaan menjadi harta terakhir yang tak pernah bisa dibakar.*(ald)






Tulis Komentar