MOJO D’ROCK: Dari Nada ke Pondasi, Kisah Pulang dan Berkarya Anak Kuansing
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Sendiri, menemukan pendengarnya sendiri. Tanpa gemuruh promosi dan sorotan berlebih, musik itu tumbuh pelan namun pasti. Ia hidup di ruang-ruang sunyi, mengendap di hati pendengarnya, hingga akhirnya menemukan bentuk pengakuannya sendiri. Sabtu (31/1/2026).

Hingga di penghujung tahun 2025, misteri itu perlahan terbuka. Di panggung Grand Final Pemilihan Edukasi Putra Putri Kuantan Singingi 2025, suasana malam berubah menjadi penanda sejarah kecil. Dengan kehadiran Camat Kuantan Tengah Eka Putra, S.Sos., M.Si., serta Guru Bimbingan Konseling Ruri Tika Kumala Dewi, S.Pd., sosok yang selama ini lebih dikenal lewat karya akhirnya berdiri di hadapan publik.
Tak lagi di balik layar. Tak lagi sekadar nama di balik lagu.
Hari itu, publik Kuantan Singingi seolah diingatkan pada satu kebenaran sederhana namun mendalam: bahwa orang besar tidak selalu berdiri di tempat tinggi, dan karya hebat tidak selalu lahir dari sorotan.
Dengan keyakinan yang nyaris serempak, para penggemarnya menyebut satu nama: MOJO D’ROCK.
Bukan sekadar julukan, Mojo D’rock menjelma simbol. Simbol ketulusan dalam berkarya. Simbol kesetiaan pada akar. Simbol bahwa dari daerah seperti Kuantan Singingi, karya-karya bernyawa dapat lahir, tumbuh, dan dicintai tanpa harus gaduh.
Ia ada di sekitar kita. Ia lahir dari keseharian yang sama. Ia adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.
Dan kini, namanya tak lagi menjadi misteri.
Seiring berjalannya waktu, perjalanan Mojo D’rock pun memasuki babak baru. Ia tidak berhenti berkarya—ia hanya memperluas maknanya. Kini, ia berkecimpung di dunia bisnis properti, sebuah ranah yang mungkin terdengar jauh dari musik, namun sejatinya berangkat dari semangat yang sama: membangun.
Ia memilih pulang ke tanah kelahirannya, Kota Jalur, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Pulang bukan sekadar untuk menetap, tetapi untuk ikut menanam harapan di kampung sendiri.
Langkah itu bermula ketika dirinya diajak bergabung oleh seorang pengusaha muda Kuantan Singingi, Datuak Mangkuto Jilelo (DMJ). Ajakan tersebut lahir dari kesamaan pandang tentang pentingnya peran anak daerah dalam pembangunan lokal. Bagi DMJ, potensi sumber daya manusia Kuansing harus diberi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi secara nyata.
Ajakan tersebut kemudian mendapat sambutan positif dari Direktur Cibria Townhouse, Delka Hermawita. Menurut manajemen perusahaan, semangat kerja, kedisiplinan, serta latar belakang kreatif Mojo D’rock menjadi nilai tambah yang dibutuhkan dalam pengembangan usaha properti yang berorientasi jangka panjang.
Melalui proses rekrutmen yang diinisiasi oleh Datuak DMJ dan disetujui langsung oleh Direktur Cibria Townhouse, Mojo D’rock resmi bergabung sebagai bagian dari perusahaan tersebut. Keputusan ini menegaskan komitmen Cibria Townhouse untuk memberi ruang kepada anak daerah yang memiliki integritas dan kemauan belajar.
Melalui Cibria Townhouse, Mojo D’rock pun mulai mengambil peran dalam pembangunan hunian dan lingkungan. Dari dunia seni ke dunia usaha, ia belajar bahwa membangun rumah bukan sekadar mendirikan bangunan, melainkan menciptakan rasa aman dan masa depan bagi penghuninya.
“Musik mengajarkan saya tentang kejujuran dan proses. Di dunia properti, nilai itu tetap sama. Kita membangun bukan hanya bangunan, tapi kepercayaan dan masa depan orang lain,” ujar Mojo D’rock.
Ia mengakui, ajakan DMJ menjadi titik balik penting dalam perjalanannya. Bukan sekadar tawaran kerja, melainkan ajakan pulang dan bertanggung jawab pada kampung halaman.
“Saya melihat visi yang sama pada Datuak DMJ. Ada keberanian untuk percaya pada anak daerah. Itu yang membuat saya yakin bergabung bersama Cibria Townhouse,” tuturnya.
Sementara itu, Datuak Mangkuto Jilelo (DMJ) menilai kehadiran Mojo D’rock sebagai representasi anak muda Kuantan Singingi yang berani lintas ruang—dari seni ke dunia usaha—tanpa kehilangan nilai.
“Kuansing punya banyak potensi, tapi yang paling penting adalah manusianya. Mojo D’rock punya integritas, konsistensi, dan semangat belajar. Itu yang kami butuhkan dalam membangun usaha yang berkelanjutan,” kata DMJ.
Ia menegaskan bahwa Cibria Townhouse tidak semata berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga membawa misi sosial dan pemberdayaan lokal. Keterlibatan anak daerah merupakan bagian dari komitmen tersebut.
Dari denting gitar dan Drum ke pondasi bangunan. Dari panggung seni ke tapak tanah. Namun satu hal tetap terjaga: kejujuran dalam proses.
D'rock..., Ia tidak menjual nostalgia. Ia menanam masa depan.
Di tengah dunia yang kerap memuja popularitas dan pencapaian instan, Mojo D’rock memilih bekerja dalam senyap—konsisten, bersahaja, dan membiarkan waktu yang memberi kesaksian. Pulang, baginya, bukan tanda kalah, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab pada asal-usul.
“Kalau bukan kita yang membangun kampung sendiri, lalu siapa lagi,” ucapnya singkat.
Kisah Mojo D’rock bersama DMJ dan Cibria Townhouse menjadi potret geliat kewirausahaan lokal di Kuantan Singingi. Tentang kolaborasi, kepercayaan, dan keberanian memberi ruang bagi anak daerah untuk tumbuh.

Karena pada akhirnya, mereka yang sungguh berkarya tidak sibuk menjelaskan siapa dirinya. Jejaklah yang berbicara.
MOJO D’ROCK.*(ald)

Tulis Komentar