Pendonor dan Pejuang dari Kuantan Singingi
Catatan Hati Seorang Sahabat:
Bakaruddin (1962-2026)
INNALILLAHI wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah Kanda Bakaruddin alias Bincik alias Pak Bonjar, Selasa 27 Januari 2026 sekitar pukul 08.30 WIB. Semoga diampuni segala dosa-dosanya dan mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin.
Izinkan saya sebagai adik, sahabat, teman curhat menulis sekilas tentang Bang Bakar – begitu saya memanggilnya. Saya mengenal almarhum sejak tahun 1990-an ketika saya kuliah di Universitas Riau, Pekanbaru.
Kendati sudah lama tak bersua karena jarak yang memisahkan kami namun hubungan percakapan via handphone terus berlangsung. Kami saling berkabar tentang kondisi masing-masing. Tentang perjuangan pembentukan Kuantan Singingi, tentang donor darah, dan berbagai cerita unik lainnya.
Untuk mengulik kembali kisah Bang Bakar, izinkan saya menulisnya:
Pendonor Darah
SULIT membayangkan seseorang bisa mendonorkan darahnya lebih dari 100 kali. Hanya kalimat saluuuuut yang pantas diucapkan pada dirinya. Itulah yang dilakukan oleh Bakaruddin - putra Kuantan Singingi kelahiran Desa Teberau Panjang, Kecamatan Gunung Toar 26 Desember 1962 ini.
Bakar sudah aktif mendonorkan darah sejak tahun 1980 hingga sekarang. Di Riau mungkin pendonor darah yang paling banyak. Total dia sudah mendonorkan darah 150 kali. Bahkan mungkin lebih karena ada juga yang tak tercatat. Golongan darahnya A-Plus.
Menurut Bakar, dirinya rutin mendonorkan darah satu kali dalam dua bulan. Berarti dalam setahun 6 kali. Hitung saja, sejak 1980 sampai sekarang berapa kali dia mendonorkan darahnya.
Wajar sejumlah penghargaan diterimanya. Diantaranya adalah:
1. Tanda Kehormatan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden RI Joko Widodo pada 21 Januari 2019.
2. Tanda Penghargaan dari Pengurus Pusat PMI yang dengan sukarela telah menyumbangkan darah 100 kali untuk kepentingan kemanusian pada 26 Januari 2019 yang ditandatangani oleh Ketua PMI Pusat Jusuf Kalla.
Bakar tidak tahu kapan dirinya akan berhenti donor darah. Sebab, badannya terasa gatal jika tidak melakukan donor darah. "Selagi masih sehat saya akan melakukan kegiatan amal itu," katanya tersenyum.
Kini, sehari-hari selain mengurus warganya sebagai “Pak Banjar” dia tetap menjalani hobinya memancing di Sungai Kampar. Sepeda motor Win warna merah hitam keluaran 1991 selalu setia menemaninya kemanapun berada.
Nama Pak Banjar melekat pada dirinya ketika dipercaya masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya RT/RW:02/02 Jl. Sukakarya Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru sebagai Ketua RT.
“Jabatan saya sebagai “Pak Banjar”hampir habis. Masyarakat mengusulkan saya menjadi Ketua RW. Jika saya naik pangkat jadi Ketua RW, berarti gelar saya otomotis berubah, dong. Tak lagi Pak Banjar, tapi langsung Pak Camat,” ujarnya tertawa renyah.
Sang Pejuang
SEWAKTU perjuangan pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi, Bakaruddin bekerja sebagai pegawai penghubung Dati II Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) di Pekanbaru. Dia berkantor di Jl. Sokoharjo, Gobah, Pekanbaru.
Dia bertugas mengatur lalu lintas urusan administrasi dan urusan lainnya pegawai dari Inhu yang melakukan dinas luar ke Pekanbaru. Tenaganya juga sering diminta bantuan mengantar surat undangan nikah.
Oleh panitia pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi, Bakaruddin mendapat “tugas tambahan” tanpa SK. Dia mengantarkan surat dari panitia pemekaran untuk pejabat Inhu di Rengat maupun tokoh masyarakat asal Kuantan Singingi yang tinggal di Pekanbaru.
Tandemnya dalam mengantar surat adalah Nuzul, Dunir, dan Syariful Adnan yang akrab disapa Jang Itam. Hampir seluruh alamat rumah pejabat dan tokoh masyarakat asal Inhu, termasuk asal Kuantan Singingi yang tinggal di Pekanbaru dihapalnya dengan baik.
Bakar juga hapal siapa pejabat dan tokoh masyarakat asal Kuantan Singingi yang dulu mendukung dan menolak pemekaran Kabupaten Kuantan Singingi. Namun dia heran ketika Kuantan Singingi mekar, orang yang dulu menolak kini menjadi pahlawan kesiangan.
“Tak eloklah saya sebutkan siapa nama dan orangnya. Cukup saya yang tahu,” katanya merendah.
Kenangan Oncol
SALAH seorang tokoh pejuang dan saksi sejarah pendiri Kabupaten Kuantan Singingi, Rafles yang akrab disapa Oncol punya kenangan menarik dengan Bakar. Sebelum antar surat itu, Bakar sering bertanya kepada dirinya. Dia datang dengan sepeda motor win warna merah kesayangannya menanyakan alamat surat tersebut.
“Win itu ajaib, boleh percaya atau tidak. Jika orang kena langgar win itu pasti kena penyakit TETANUS. Tak percaya coba tanya kepada pemiliknya langsung,” ujar Oncol.
Suatu waktu kata Oncol, Bakar bertanya pada dirinya soal tugasnya mengantar surat itu. “Bang, kapan lagi adik abang ini ikut diundang. Tiap ada undangan tugas adik abang ini hanya mengantar surat undangan. Sekali-kali diundang kan tak salah, Bang.”
Oncol hanya tersenyum mengenang kisah itu. Dia hanya bisa menyampaikan pesan, setiap orang ada waktunya. Dan setiap waktu ada orangnya. Kapan? Entahlah.
Ketika hal itu ditanya kepada Bakar, dia hanya tersenyum.“Oncol itu sudah saya anggap abang. Dia tahu perjuangan hidup saya. Kalau Bang Oncol cakap seperti itu, betullah tu!”katanya seraya menyebut Bang Oncol sudah membuka coki dirinya.
Lalu tentang curhatannya kepada Oncol tentang undangannya itu, lagi-lagi Bakar tersenyum getir. “Alhamdulillah saya tak pernah diundang dan menghadiri undangan itu. Saya adalah PENGANTAR UNDANGAN YANG TAK PERNAH DIUNDANG oleh Pemerintah Kuantan Singingi. Syukuri saja apa adanya.”
Sekilas peran Bakar memang kecil. Hanya sebagai pengantar surat. Namun, di balik perannya itu, dialah sebenarnya yang “berperan besar” mengumpulkan orang-orang untuk rapat. Kalau dia merajuk, sebenarnya bisa saja surat dari panitia tidak diantarkannya. Tapi, itu jauh dari pikirannya.
“Abang ini hanya pegawai rendahan yang bertugas apa saja, termasuk mengantar surat ini. Kalau ada yang menolak menerima surat, abang aminkan saja. Yang penting amanah yang dititipkan sudah Abang sampaikan,” ujarnya suatu ketika merendah.
Kata Oncol, Bakar ibarat “tukang canang” yang menyampaikan pesan dari Kepala Desa untuk masyarakatnya. Namun sebagaimana halnya tukang canang pesannya sampai namun si tukang canang sering dilupakan. Dia dipanggil ketika dibutuhkan, setelah itu dilupakan.
Kesayangan Ruchiyat
KETIKA Kuantan Singingi mekar jadi Kabupaten tahun 1999, Bakar tetap “bertahan” sebagai pegawai Inhu. Bupati Inhu kala itu Ruchiyat Saefuddin menyampaikan pesan khusus kepada mantan anak buahnya Asisten Pemerintahan Dati II Inhu, Drs. Moh. Ris Hasan yang diangkat jadi Sekwilda Kuantan Singingi.
“Pak Ris, orang Kuantan Singingi yang bertugas di Inhu kalau mau balik kampung (pindah) silahkan. Kecuali Bakar. Selagi saya jadi Bupati, dia tetap bersama saya,” ujar Ruchiyat kala itu.
Permintaan Ruchiyat ini diamini Ris Hasan.“Tak mungkin Pak Ris Hasan melawan toke,” ujar Bakar tertawa. Barulah pada tahun 2007 ketika Ruchiyat tak lagi jadi bupati, dia diajak Bupati Kuantan Singingi Sukarmis pindah ke Kuantan Singingi.
“Saya ditugaskan sebagai kepala penghubung Kabupaten Kuantan Singingi di Pekanbaru. Kantor saya di Wisma Jalur Punai/Parit Indah No. 14 Tengkerang Selatan, Pekanbaru,” ujarnya.
Selama tugas di Wisma Jalur Bakar punya banyak cerita unik. Banyak pejabat dan kawan kawannya termasuk keluarga asal Kuantan Singingi yang menginap di Wisma Jalur. Anehnya mereka semua minta gratis. Hahahaha….
Padahal kalau dia bayar kata Bakar, uang itu kembali ke daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah.
PRIA bertubuh pendek dan gemuk ini menjalani masa pensiunnya sejak Desember 2020 lalu di Jl. Sukarya No. 2 Pekanbaru. Dia menjalani hidup dengan damai bersama istri tercinta Yurna dan tiga anaknya: Linda Aprita Sari, Luffi Wirdani, dan Suci Anugrah Ramadhani.
Tak banyak yang berubah dari dirinya. Rendah hati dan apa adanya.
Bang Bakar, hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikanmu.
Selamat jalan Abangku. Doa kami menyertaimu.
Penulis: Sahabat Jang Itam
Published by: Forum IKKS/IKWAKUSI se Indonesia
Tanjungpinang Shared: 27 Januari 2026

Tulis Komentar