Ketika Shalat Ditinggalkan, Api Saqar Menjadi Jawaban

foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Siang itu, Masjid Syuhada Beringin Taluk tidak hanya dipenuhi jamaah, tetapi juga oleh keheningan yang terasa berat. Jumat, 23 Januari 2026, khutbah yang disampaikan tidak menggelegar, namun perlahan menyusup ke relung kesadaran. Dari atas mimbar, Ustadz Dr. H. Bakhtihar Shaleh, S.Ag., M.H., Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuantan Singingi, menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi mengguncang: tentang shalat yang sering ditinggalkan, dan dosa yang kerap diremehkan.

“Ada satu perbuatan dosa yang dahsyat,” ucapnya tenang, “bahkan lebih berat dari zina, mencuri, dan merampok. Itulah dosa meninggalkan shalat.”

Kalimat itu tidak menghakimi. Ia justru seperti cermin—membuat setiap jamaah bercermin pada dirinya sendiri. Betapa sering shalat ditunda, disingkat, atau bahkan dilupakan, bukan karena tak mampu, melainkan karena merasa ada hal lain yang lebih penting.

Dalam khutbahnya, Ustadz Bakhtihar menegaskan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi penyangga utama keimanan. Ia adalah tiang agama. Tanpanya, bangunan keislaman menjadi rapuh. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi).

Peringatan itu bukan untuk menstigma, melainkan untuk menyadarkan. Karena dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan sebuah dialog yang mengguncang nurani manusia. Ketika penghuni neraka Saqar ditanya tentang sebab mereka terjerumus ke dalamnya, jawaban pertama yang mereka sampaikan bukan tentang kejahatan sosial, melainkan pengakuan yang tampak sederhana namun fatal:

“Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Muddatstsir: 43).

Api Saqar, sebagaimana digambarkan Al-Qur’an, bukan api biasa. Ia tidak menyisakan dan tidak membiarkan. Ia menghancurkan, sekaligus memperingatkan. Dan sebab pertama yang disebutkan untuk masuk ke dalamnya adalah meninggalkan shalat.

Ustadz Bakhtihar kemudian membawa jamaah pada realitas kehidupan. Bahwa alasan paling sering meninggalkan shalat adalah kesibukan dan kondisi fisik. Namun Islam, kata beliau, tidak pernah menghapus kewajiban shalat, bahkan dalam keadaan paling sulit sekalipun.

“Sakit bukan alasan untuk meninggalkan shalat,” tegasnya.

Islam memberikan keringanan dalam cara, bukan penghapusan kewajiban. Shalat boleh dilakukan sambil duduk, berbaring, bahkan dengan isyarat. Tetapi shalat itu sendiri tidak gugur.

Nada khutbah semakin dalam ketika beliau mengutip pandangan para ulama tentang konsekuensi orang yang dengan sengaja dan terus-menerus meninggalkan shalat. Dalam sebagian pendapat fiqih, orang yang demikian tidak lagi diperlakukan sebagaimana kaum Muslimin, bahkan dalam urusan pemakaman. Sebuah pandangan keras, namun dimaksudkan sebagai peringatan keras pula—bahwa shalat bukan perkara remeh.

Di antara saf jamaah, beberapa kepala tertunduk. Ada wajah yang menegang, ada mata yang memejam. Shalat, yang selama ini dianggap rutinitas, tiba-tiba menjelma menjadi pertanyaan paling jujur: masihkah ia dijaga, atau hanya dikerjakan ketika ada waktu?

Ustadz Bakhtihar lalu menghadirkan teladan paling agung. Rasulullah SAW—manusia yang telah dijamin surga—tidak pernah meremehkan shalat. Dalam kondisi apa pun, shalat tetap menjadi penopang hidupnya. Bahkan di saat-saat terakhir menjelang wafat, pesan yang berulang kali keluar dari lisan beliau adalah: “Ash-shalah, ash-shalah.” Shalat. Shalat.

“Jika Rasulullah SAW yang telah dijamin surga masih begitu menjaga shalatnya,” ujar Ustadz Bakhtihar, “lalu siapa kita yang berani meninggalkannya?”

Khutbah itu tidak ditutup dengan ancaman, melainkan dengan harapan. Ajakan untuk kembali. Untuk bertaubat. Untuk memperbaiki yang selama ini lalai. Bahwa pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Dan bagi mereka yang telah menjaga shalat, doa dipanjatkan agar Allah menganugerahkan keistiqamahan hingga akhir hayat.

Ketika azan zuhur berkumandang dan jamaah berdiri merapatkan saf, khutbah itu menemukan bentuk nyatanya. Kata-kata berubah menjadi gerakan. Nasihat menjelma menjadi sujud. Di Masjid Syuhada siang itu, shalat tidak lagi sekadar dibicarakan—ia ditegakkan.

Dan barangkali, itulah pesan paling dalam dari khutbah tersebut: bahwa keselamatan bukan hanya ditentukan oleh dosa apa yang kita jauhi, tetapi oleh shalat apa yang kita jaga—lima waktu yang menjadi pembeda antara iman yang hidup dan iman yang perlahan padam.*(ald)






Tulis Komentar