Kesabaran di Ujung Kail: Eko dari Batu Rijal Menaklukkan Riak Sungai Kuantan
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Pagi di Tepian Narosa belum sepenuhnya hangat ketika ribuan joran mulai terentang, membelah udara dan harap di atas Sungai Kuantan. Dari hulu hingga hilir, orang-orang datang membawa satu tujuan: menunggu. Menunggu sentakan kecil di ujung kail, menunggu rezeki, menunggu cerita yang kelak akan dibawa pulang. Ahad (18/01/2026).
Di antara kerumunan itu, Eko, angler asal Batu Rijal, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, memilih duduk tenang. Tak mencolok. Tak ramai. Ia seperti menyatu dengan sungai—membaca arus, memperhatikan bayang air, dan menakar waktu dengan kesabaran yang terlatih.
Tribar Akbar Mancing Mania Kuansing IX Tahun 2026 memang bukan lomba biasa. Lebih dari seribu peserta berkumpul, datang dari berbagai daerah, lintas komunitas, lintas usia. Namun bagi Eko, hiruk-pikuk itu justru menjadi ruang sunyi. Di sanalah ia merasa paling jujur pada dirinya sendiri.
“Memancing itu bukan soal kuat-kuatan. Ini soal sabar dan rasa. Kita harus paham kapan menunggu, kapan menarik,” ujar Eko pelan, setelah namanya diumumkan sebagai peringkat pertama kategori pemancing ikan.
Jarak Dharmasraya ke Kuantan Singingi bukan hitungan langkah. Eko menempuh perjalanan bersama rekan-rekannya dengan niat sederhana: ikut meramaikan, bersilaturahmi, dan menguji keberuntungan. Ia tak pernah membayangkan akan berdiri di podium tertinggi.
“Kami datang jauh-jauh ke Kuansing bukan semata mau menang. Yang penting bisa ikut, ketemu kawan-kawan, dan merasakan suasana. Alhamdulillah, hari ini ada rezeki,” katanya sambil tersenyum.
Ikan yang mengubah segalanya datang tanpa aba-aba. Tarikan halus, nyaris menipu. Eko tidak terburu-buru. Ia memberi waktu, mengatur napas, membiarkan ikan lelah oleh arus sebelum akhirnya terangkat ke darat. Riuh pun pecah. Sungai seolah ikut menjadi saksi.
“Kalau kita panik, ikan bisa lepas. Tapi kalau kita tenang, insyaallah ada hasil. Sama seperti hidup,” tambahnya.
Kemenangan Eko menjadi simbol ruh Tribar Akbar Mancing Mania Kuansing itu sendiri—bahwa di tepian sungai, tak ada sekat daerah. Semua duduk sejajar, berbagi kopi, tawa, dan cerita.
Bupati Kuantan Singingi, Dr. H. Suhardiman Amby, Ak., MM, yang menjadi penasehat kegiatan, menilai Tribar Akbar bukan hanya perhelatan hobi, tetapi juga bagian dari upaya membangun kebersamaan dan identitas daerah.
“Tribar Akbar ini adalah kekuatan sosial. Ia menyatukan masyarakat lintas daerah, menggerakkan ekonomi rakyat, dan mengingatkan kita bahwa Sungai Kuantan adalah warisan yang harus dijaga bersama,” ujar Bupati Suhardiman Amby.
Menurutnya, event seperti ini memiliki nilai strategis karena mampu mempertemukan hiburan, pariwisata, dan edukasi lingkungan dalam satu ruang yang hidup.
Sementara itu, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa tingginya antusiasme peserta adalah bukti kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan Tribar Akbar yang semakin matang dari tahun ke tahun.
“Ini bukan sekadar lomba memancing. Ini ruang silaturahmi, promosi daerah, dan penggerak ekonomi masyarakat. Kami berharap peserta tetap tertib dan bersama-sama menjaga kebersihan serta kelestarian Sungai Kuantan,” kata Eka Putra.
Ia juga mengapresiasi rangkaian kegiatan penebaran benih ikan yang dilakukan panitia sebagai wujud tanggung jawab ekologis.
Saat matahari mulai condong dan satu per satu joran diangkat, Eko bersiap pulang. Ia membawa lebih dari sekadar gelar juara. Ada cerita tentang sungai yang ramah, panitia yang tertib, dan persaudaraan yang hangat.
Di Tepian Narosa, Eko telah menorehkan jejak kecil—bahwa kesabaran selalu menemukan jalannya sendiri. Dan bahwa dalam dunia memancing, seperti juga dalam hidup, kemenangan sering kali datang kepada mereka yang paling mampu berdamai dengan waktu.
Sungai terus mengalir. Riak air menutup lomba hari itu. Namun kisah Eko, dari Batu Rijal ke Kuantan Singingi, akan terus dikenang—sebagai cerita tentang kesabaran di ujung kail, dan persaudaraan yang lahir di tepian sungai.*(ald)


Tulis Komentar