Di Antara Malam dan Aksara
Ketika Buku Menjadi Salam Persahabatan
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Malam tidak selalu datang membawa sunyi. Kadang ia hadir sebagai ruang perjumpaan—tempat kata-kata menemukan rumahnya. Di sebuah ruang sederhana, dua sahabat duduk berdampingan, dipisahkan hanya oleh jarak sedepa dan disatukan oleh gagasan yang telah lama bertumbuh.
Di sisi kiri, Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd, mengulurkan dua buku karyanya. Tidak dengan seremoni, tidak pula dengan pidato panjang. Sabtu (17/01/2026).

Hanya sepasang tangan yang menyodorkan hasil perenungan bertahun-tahun: Sayatan Nada Menuju Surga dan Pesona Indah Negeri Melayu. Buku-buku itu adalah jejak rasa—tentang musik yang disayat oleh spiritualitas, dan tentang Melayu yang dirawat melalui ingatan serta kata.
“Menulis bagi saya bukan soal ingin didengar,” ujar Ronaldo lirih namun mantap. “Tetapi tentang menunaikan tanggung jawab batin. Buku ini saya serahkan sebagai doa—agar nada, budaya, dan nilai yang kita cintai tetap menemukan jalannya, bahkan ketika zaman kerap berjalan terlalu cepat.”
Di hadapannya, Eka Putra, S.Sos., M.Si, menerima buku-buku itu dengan sikap tenang. Ia tahu, yang berpindah tangan bukan sekadar lembaran kertas, melainkan kepercayaan. Sebuah amanah bahwa karya lahir bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk dibagikan dan dijaga maknanya.
“Menerima buku dari sahabat adalah menerima kepercayaan,” ucap Eka Putra. “Di setiap halaman, saya membaca kejujuran dan kecintaan pada akar. Ini bukan sekadar karya, melainkan pengingat bahwa kita punya kewajiban merawat nilai, bukan hanya mengagumi hasil.”
Pertemuan itu berlangsung jauh dari sorotan. Tidak ada panggung, tidak ada tepuk tangan. Namun justru di sanalah maknanya tumbuh paling jujur. Buku menjadi bahasa yang paling setia untuk menyampaikan apa yang tak selalu sanggup diucapkan. Ia menjelma salam persahabatan—diam, namun mengakar.
Di tengah dunia yang bising oleh kepentingan dan tergesa oleh ambisi, dua sahabat memilih berjalan pelan.
Mereka berbagi karya, bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dititipkan pada kesadaran. Sebab tulisan, seperti persahabatan, hanya akan hidup jika dirawat dengan ketulusan.
Pada akhirnya, buku-buku itu akan berpindah rak, dibaca dalam sunyi, mungkin dilipat ujung halamannya, atau diberi catatan kecil di tepinya.
Namun makna perjumpaan malam itu akan tinggal lebih lama. Ia menetap di ruang batin—sebagai pengingat bahwa persahabatan sejati tidak lahir dari kepentingan, melainkan dari kesediaan saling mempercayakan nilai.

Di sanalah letak kemuliaannya: ketika karya tidak sekadar ingin dibaca, tetapi ingin dijaga. Ketika kata-kata tidak berhenti di halaman, melainkan berjalan perlahan—menuju ruang hati, menuju cahaya, menuju surga kecil bernama keikhlasan.*(ald)


Tulis Komentar