Di Antara Sunyi dan Nurani

foto: aldian syahmubara/istimewa (doc. kilasriau.com)

Kenapa Harus Memilih Bungkam?

KilasRiau.com - Bungkam sering kali tidak lahir dari kekosongan pikiran, melainkan dari kepenuhan yang menyesakkan. Ia tumbuh dari kesadaran yang terlalu sadar, dari mata yang terlalu sering melihat, dan dari telinga yang terlalu lama mendengar—namun belajar bahwa tidak semua kebenaran aman untuk diucapkan. Bungkam adalah bahasa sunyi dari orang-orang yang paham betul harga sebuah suara.

Di negeri yang gemar memajang kata demokrasi di baliho dan spanduk, suara justru kerap diperlakukan seperti benda rapuh. Sedikit saja terlalu jujur, ia bisa pecah dan melukai pemiliknya. Maka banyak orang memilih menyimpannya dalam-dalam, membiarkan kebenaran menjadi monolog batin yang hanya bergema di kepala sendiri. Bukan karena mereka tak peduli, tetapi karena mereka terlalu peduli pada akibat.

Ada yang bungkam karena takut. Takut pada bayang-bayang kehilangan pekerjaan, kehilangan rasa aman, kehilangan nama baik yang susah payah dirawat. Takut pada bisik-bisik yang berubah menjadi cap: pembangkang, pembuat onar, tak tahu diri. Dalam masyarakat yang mudah tersinggung oleh kritik namun abai pada substansi, suara yang berbeda sering kali dianggap dosa sosial.

Ada pula yang bungkam karena lelah. Lelah menjadi alarm yang terus berbunyi tapi tak pernah didengar. Lelah menyodorkan fakta di hadapan tembok tebal bernama kepentingan. Lelah melihat kebenaran dipelintir, dipatahkan, lalu dikubur rapi oleh narasi yang lebih menguntungkan penguasa keadaan. Pada titik ini, diam bukan lagi pilihan rasional, melainkan mekanisme bertahan hidup bagi jiwa yang nyaris aus.

Namun bungkam tidak selalu polos. Ia kadang lahir dari perhitungan. Dari kenyamanan yang enggan diganggu. Dari kursi empuk yang takut bergeser. Dari relasi hangat dengan kekuasaan yang tak ingin mendingin. Bungkam jenis ini tidak berisik, tetapi berat. Ia tidak menangis, tetapi berdarah pelan-pelan—bukan di tubuh, melainkan di nurani.

Yang jarang disadari, kebungkaman bukanlah ruang hampa. Ia adalah ladang subur bagi ketidakadilan. Saat mereka yang tahu memilih diam, kebohongan menemukan legitimasi. Saat mereka yang mampu bersuara memilih menunduk, penindasan mendapat alasan untuk terus berjalan. Bungkam, dalam banyak kasus, menjadi saksi bisu yang justru ikut menulis sejarah kelam.

Sejarah tidak pernah dibangun hanya oleh teriakan. Ia juga dibentuk oleh keheningan—keheningan yang dibiarkan, dipelihara, dan diwariskan. Banyak tragedi besar tidak terjadi karena semua orang jahat, tetapi karena terlalu banyak orang baik memilih diam. Diam yang awalnya dimaksudkan sebagai perlindungan diri, perlahan berubah menjadi pembiaran kolektif.

Tentu, tidak semua diam adalah salah. Ada diam yang bijak: diam untuk membaca keadaan, diam untuk mengumpulkan bukti, diam untuk menyiapkan langkah yang lebih terukur. Diam yang seperti ini adalah jeda, bukan penyerahan. Ia tahu kapan harus berakhir dan berubah menjadi kata.

Tetapi diam yang terlalu lama, tanpa arah dan tanpa keberanian untuk suatu hari pecah, akan menjelma menjadi pengkhianatan paling halus. Ia tidak berteriak, tidak memukul, tidak melukai secara kasatmata—namun ia membiarkan luka itu terus ada.

Maka pertanyaan sejatinya bukan sekadar kenapa harus memilih bungkam, melainkan: pada titik mana diam berhenti menjadi perlindungan dan mulai menjadi masalah? Karena pada akhirnya, kebenaran tidak pernah benar-benar membutuhkan suara yang paling keras. Ia hanya membutuhkan satu keberanian—untuk tidak terus-menerus ditelan oleh sunyi.*(ald)






Tulis Komentar