Di Bawah Cahaya Malam Isra Mi’raj, Masjid Darussalam Menyulam Iman

foto: Ustad Busran Alqotri, S.H., M.H, menyampaikan Tausiyah dalam acara Isra Mi'raj di Masjid Darussalam desa Pulau Baru Kopah, Sabtu (03/01/2026) ba'da Isya/ist. (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Malam ba’da Isya itu, Masjid Darussalam Desa Pulau Baru Kopah tampak lebih hidup dari biasanya. Bukan karena gemerlap cahaya semata, melainkan oleh langkah-langkah jamaah yang datang membawa niat dan kerinduan yang sama: mengenang perjalanan agung Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Sabtu malam, (03/01/2025), udara Desa Pulau Baru Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, terasa sejuk dan tenang. Dari sudut-sudut desa, warga berdatangan menuju masjid. Ada yang melangkah perlahan, ada pula yang tergesa, seolah tak ingin tertinggal dari malam yang penuh makna.

Di ruang masjid yang sederhana namun sarat kekhusyukan itu, peringatan Isra Mi’raj digelar. Hadir di tengah jamaah Camat Kuantan Tengah Eka Putra, S.Sos., M.Si, Kepala Desa Pulau Baru Kopah Mahyudin, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat desa dari berbagai usia. Malam itu, masjid menjadi ruang pertemuan antara iman, kepemimpinan, dan kebersamaan.

Dalam sambutannya, Camat Eka Putra mengajak jamaah menjadikan Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa yang dikenang setiap tahun, tetapi cermin untuk menata kembali kehidupan. Ia menegaskan bahwa perjalanan Nabi Muhammad SAW menembus langit bukan hanya kisah spiritual, melainkan pesan yang membumi—tentang salat, disiplin, dan akhlak dalam kehidupan sosial.

“Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa salat adalah tiang agama. Dari salat lah lahir ketenangan, kejujuran, dan persaudaraan di tengah masyarakat,” tuturnya, dengan nada tenang namun sarat makna.

Sementara itu, Kepala Desa Pulau Baru Kopah Mahyudin menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang hadir. Baginya, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan rohani dan ruang silaturahmi yang menyatukan warga.

“Kegiatan keagamaan seperti ini penting untuk terus kita jaga, agar nilai-nilai Islam tetap hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Puncak peringatan Isra Mi’raj malam itu diisi dengan tausiyah oleh Ustad Busran Alqotri, S.H., M.H. Dengan suara yang tenang dan tutur yang mengalir, ia mengajak jamaah menyelami makna Isra Mi’raj lebih dalam. Tentang salat lima waktu—perintah yang diterima langsung oleh Rasulullah SAW tanpa perantara—sebagai hadiah langit bagi umat manusia.

“Salat bukan sekadar kewajiban ritual,” tuturnya, “tetapi jalan pulang bagi jiwa yang lelah, penopang akhlak, dan pengingat agar manusia tetap lurus di tengah hiruk-pikuk dunia.”

Kata demi kata mengendap di ruang batin jamaah. Malam semakin larut, namun keheningan justru semakin bermakna. Doa-doa dipanjatkan, tangan-tangan terangkat, dan harapan diserahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.

Di Masjid Darussalam malam itu, Isra Mi’raj tidak hanya diperingati—ia dihidupkan. Dalam sujud yang khusyuk, dalam doa yang lirih, dan dalam tekad untuk menjadi pribadi yang lebih taat, lebih jujur, serta lebih peduli terhadap sesama.

Ketika jamaah perlahan meninggalkan masjid, malam Pulau Baru Kopah kembali sunyi. Namun cahaya iman telah menyala—diam-diam, namun terang—di dada setiap yang hadir.*(ald)






Tulis Komentar