Jangan Tunggu Api Membesar! Mabes TNI Turun ke Pucuk Rantau Kuansing, Perkuat Benteng Karhutla
KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak boleh menunggu api membesar. Pesan itulah yang mengemuka saat Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI yang turun langsung ke Kecamatan Pucuk Rantau, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, Selasa (1/9/2026).

Di wilayah yang memiliki hamparan perkebunan dan lahan terbuka itu, pencegahan Karhutla kembali ditekankan sebagai langkah utama. Bukan sekadar memadamkan api setelah kebakaran terjadi, tetapi membangun kesiapan sejak potensi kebakaran belum berubah menjadi bencana.
Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI menggelar penyuluhan di Aula Kecamatan Pucuk Rantau dengan melibatkan unsur pemerintah kecamatan, TNI, pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pelaku usaha perkebunan, pemilik lahan dan masyarakat.
Kegiatan dipimpin Ketua Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI, Kolonel Kes Endro Utomo, bersama enam personel lainnya.
Sekitar 60 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur yang dinilai memiliki peran penting dalam mata rantai pencegahan dan penanggulangan Karhutla.
Hadir antara lain Camat Pucuk Rantau Hj. Yulinar, S.Pd, Danramil 02/KT Kapten Inf Bambang, Danramil 08/KM Kapten Inf Aprison, para kepala desa dan Ketua BPD se-Kecamatan Pucuk Rantau, pelaku usaha perkebunan, pemilik lahan, personel Koramil 02/KT dan 08/KM, serta masyarakat.
Bukan Sekadar Seremonial
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Camat Pucuk Rantau kemudian menyampaikan sambutan, disusul arahan dari Ketua Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI.
Setelah itu, materi penyuluhan mengenai pencegahan dan penanggulangan Karhutla disampaikan Mayor Inf Darul Amin.
Dalam penyampaiannya, masyarakat diajak meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di kawasan perkebunan dan lahan yang rawan terbakar.
Pesannya jelas: pencegahan harus dilakukan bersama.
Karhutla tidak mengenal batas administrasi. Ketika api muncul di satu lahan dan terlambat ditangani, dampaknya dapat merembet ke wilayah lain. Asap yang ditimbulkan pun berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan lingkungan.
Karena itu, kesiapsiagaan di tingkat paling bawah menjadi bagian penting.
Masyarakat harus mampu mengenali potensi bahaya. Pemilik lahan harus memastikan arealnya tidak menjadi sumber kebakaran. Pelaku usaha dituntut memiliki kesiapan sarana pemadaman. Sementara pemerintah dan aparat harus memastikan koordinasi berjalan ketika ancaman muncul.
Penyuluhan tersebut pun tidak berlangsung satu arah.
Peserta diberi kesempatan berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan mengenai persoalan pencegahan maupun penanggulangan Karhutla.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa persoalan kebakaran lahan bukan isu yang bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan aparat. Kesadaran masyarakat dan kesiapan pemilik lahan menjadi faktor yang tidak kalah penting.
Mabes TNI Cek Peralatan Pemadam Perusahaan
Ada bagian penting setelah penyuluhan selesai.
Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka meninjau peralatan pemadam kebakaran milik PT Rimba Lazwardi yang telah digelar di depan Aula Kecamatan Pucuk Rantau.
Peninjauan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kesiapan sarana pemadaman yang dimiliki pelaku usaha di wilayah tersebut.
Langkah ini penting karena dalam penanganan kebakaran, kecepatan menjadi salah satu faktor penentu.
Api yang baru muncul relatif lebih mudah dikendalikan dibandingkan kebakaran yang sudah meluas. Karena itu, keberadaan peralatan pemadam yang siap digunakan menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan.
Dengan kata lain, kesiapan tidak boleh hanya ada di atas kertas.
Peralatan harus tersedia, personel harus mengetahui penggunaannya, dan koordinasi harus berjalan ketika situasi darurat terjadi.
Pengecekan peralatan pemadam milik perusahaan menjadi salah satu gambaran bahwa pencegahan Karhutla membutuhkan keterlibatan sektor usaha, terutama perusahaan yang memiliki aktivitas perkebunan dan mengelola lahan dalam skala luas.
Dari Desa, Benteng Karhutla Dibangun
Pucuk Rantau menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan terhadap potensi kebakaran.
Karena itu, keterlibatan kepala desa, Ketua BPD, pemilik lahan dan masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi strategis.
Pemerintah desa berada paling dekat dengan masyarakat. Mereka dapat menjadi mata dan telinga pertama ketika muncul tanda-tanda kebakaran.
Begitu pula masyarakat. Mereka adalah pihak yang paling cepat mengetahui perubahan kondisi di sekitar tempat tinggal dan lahan mereka.
Jika komunikasi berjalan cepat, potensi kebakaran dapat segera dilaporkan dan ditangani sebelum berkembang menjadi lebih besar.
Sebaliknya, keterlambatan informasi dapat membuat api kehilangan batas.
Inilah mengapa penyuluhan Karhutla tidak seharusnya berhenti pada ruang pertemuan. Pengetahuan yang diperoleh harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.
Jangan Sampai Pencegahan Kalah Cepat dari Api
Karhutla kerap dimulai dari sesuatu yang terlihat kecil.
Satu titik api, satu kepulan asap atau satu area lahan yang terbakar mungkin terlihat sepele. Namun dalam kondisi tertentu, api dapat berkembang cepat dan sulit dikendalikan.
Karena itu, pendekatan pencegahan menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar mengandalkan pemadaman.
Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI mendorong seluruh elemen untuk membangun kewaspadaan secara kolektif.
TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa, pelaku usaha, pemilik lahan dan masyarakat harus berada dalam satu barisan.
Tidak boleh ada pihak yang merasa bahwa Karhutla merupakan urusan orang lain.
Sebab ketika kebakaran terjadi, dampaknya juga tidak berhenti di batas lahan yang terbakar.
Asap dapat mengganggu masyarakat. Lingkungan dapat mengalami kerusakan. Aktivitas ekonomi dapat terdampak. Bahkan penanganannya dapat membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar dibandingkan upaya pencegahan sejak awal.
Sinergi Jangan Berhenti di Aula
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Padamu Negeri”, pemberian bingkisan dan foto bersama.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman dan lancar.
Namun substansi terpenting dari kegiatan tersebut justru berada setelah acara berakhir.
Kesadaran dan kesiapsiagaan harus dibawa keluar dari aula dan diterapkan di lapangan.
Pemerintah kecamatan dan desa perlu terus memperkuat komunikasi dengan masyarakat. Pemilik lahan dan pelaku usaha harus memastikan kesiapan sarana pemadaman. Aparat harus menjaga koordinasi dan respons cepat.
Masyarakat pun harus berani melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran atau aktivitas yang berisiko memicu Karhutla.
Sebab perang melawan Karhutla tidak dimulai ketika sirene berbunyi.
Perang itu dimulai ketika semua pihak memilih untuk waspada sebelum api muncul.
Melalui penyuluhan tersebut, Tim Mabes TNI berharap terbangun kesadaran bersama sekaligus kesiapan menghadapi potensi Karhutla di Kuansing.
Pucuk Rantau menjadi salah satu titik penguatan pesan tersebut: jangan menunggu api membesar untuk bergerak.
Semakin dini potensi kebakaran dikenali, semakin besar peluang api dikendalikan.
Dan semakin kuat sinergi antara aparat, pemerintah, perusahaan, pemilik lahan dan masyarakat, semakin kokoh pula benteng pencegahan Karhutla di Kuantan Singingi.
Kini tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana memadamkan api.
Tetapi bagaimana memastikan api tidak pernah mendapat kesempatan untuk membesar.*(ald)

Tulis Komentar