Keramat Jubah Merah Putuskan Putri Bungsu di Pancang Kedua, Muaro Sentajo Membuka Langkah dengan Kemenangan

foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

 

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Batang Kuantan seolah kembali menulis sebuah kisah lama dengan tinta yang baru. Di bawah riuh Tepian Narosa, Keramat Jubah Merah dari Muaro Sentajo membuka langkah perdananya di Festival Pacu Jalur Event Nasional 2026 dengan kemenangan meyakinkan.

Rabu (19/8/2026), pada hilir ke-15, Jubah Merah berhadapan dengan Putri Bungsu Sayang Tak Sudah dari Pelukahan.

Pertarungan yang sejak awal ditunggu itu akhirnya menjadi milik Jubah Merah.

Sejak pancang pemisah kedua, jalur kebanggaan Muaro Sentajo mulai meninggalkan lawannya. Jarak perlahan terbuka. Kayuhan Jubah Merah terus terjaga, sementara Putri Bungsu Sayang Tak Sudah berusaha mengejar dari belakang.

Namun hingga pancang demi pancang dilewati, keunggulan itu tak lagi mampu dikejar.

Pancang ketiga terlewati.

Pancang keempat.

Pancang kelima.

Hingga akhirnya pancang keenam—garis finis—berada di depan haluan Jubah Merah lebih dahulu.

Tepian pun pecah oleh sorak.

Keramat Jubah Merah menang.

Sehari sebelumnya, Selasa (18/8/2026), pencabutan undian telah menempatkan Keramat Jubah Merah pada nomor 15.

Angka itu mempertemukan jalur Muaro Sentajo dengan Putri Bungsu Sayang Tak Sudah pada hari pertama perlombaan.

Ketika undian dicabut, angka hanyalah angka.

Namun ketika dua jalur masuk ke Batang Kuantan, angka berubah menjadi pertarungan.

Keramat Jubah Merah menjawabnya dengan kayuhan.

Bukan dengan nama besar.

Bukan dengan sejarah.

Bukan dengan prediksi.

Sebab sungai tidak pernah mau tunduk kepada reputasi.

Ia hanya menerima siapa yang paling mampu menjaga irama sampai garis akhir.

Begitu aba-aba dilepaskan, kedua jalur melesat.

Di tengah suara penonton yang menggelegak dari tepian, anak pacu Keramat Jubah Merah menunjukkan kekompakan. Dayung bergerak dalam irama yang relatif padu, mendorong jalur semakin cepat membelah permukaan Batang Kuantan.

Memasuki pancang pemisah kedua, perbedaan mulai terlihat.

Jubah Merah mulai meninggalkan Putri Bungsu Sayang Tak Sudah.

Jarak itu kemudian menjadi semacam tembok yang sulit ditembus.

Putri Bungsu mencoba mengejar.

Tetapi Jubah Merah terus menjaga langkah.

Pancang demi pancang dilalui dalam tekanan yang semakin tinggi.

Di pacu jalur, beberapa detik dapat terasa seperti berabad-abad. Jarak yang hanya beberapa badan jalur bisa menjadi jurang yang tidak lagi mampu ditutup.

Dan kali ini, jurang itu berpihak kepada Muaro Sentajo.

Kepala Desa Sentajo Raya, Halmadi Asmara, menyampaikan rasa syukur atas kemenangan Keramat Jubah Merah.

“Alhamdulillah, kita sangat bersyukur Keramat Jubah Merah bisa meraih kemenangan pada laga perdana. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi masyarakat, khususnya masyarakat Muaro Sentajo dan seluruh keluarga besar Sentajo Raya,” ujar Halmadi.

Menurutnya, kemenangan tersebut tidak lahir dalam satu hari.

Ada kerja panjang di belakangnya. Ada latihan, persiapan, kekompakan anak pacu, peran pelatih, pengurus jalur, serta dukungan masyarakat.

“Anak-anak sudah berjuang maksimal. Kita melihat sendiri bagaimana mereka menjaga kekompakan kayuhan sejak awal sampai pancang keenam. Tentu kita sangat mengapresiasi perjuangan mereka,” katanya.

Bagi Halmadi, kemenangan tersebut menjadi hadiah awal bagi masyarakat yang terus memberikan dukungan kepada Keramat Jubah Merah.

Namun ia mengingatkan agar kemenangan pertama tidak membuat tim dan pendukung terlena.

“Kemenangan ini jangan membuat kita terlena. Ini baru langkah pertama. Kita harus tetap rendah hati, menjaga kekompakan dan fokus menghadapi pertandingan berikutnya,” tegas Halmadi.

Pesan itu terasa penting.

Sebab pacu jalur bukan perlombaan satu hari.

Sebanyak 102 jalur datang dengan ambisi masing-masing. Sebagian akan tersingkir. Sebagian lainnya akan bertahan. Dan semakin jauh perjalanan, semakin berat pula lawan yang mungkin menghadang.

Satu kemenangan belum menjadikan sebuah jalur juara.

Ia hanya membuka pintu berikutnya.

Keramat Jubah Merah kini telah melewati pintu pertama itu.

Di tengah kegembiraan atas kemenangan, Halmadi juga memberikan penghormatan kepada Putri Bungsu Sayang Tak Sudah.

“Kita tetap menghormati lawan. Menang dan kalah adalah bagian dari pacu jalur. Yang paling penting pertandingan berlangsung dengan sportivitas dan kekeluargaan,” ungkapnya.

Pesan tersebut mengingatkan bahwa pacu jalur bukan sekadar pertarungan untuk mencari siapa tercepat.

Di dalamnya terdapat tradisi, persaudaraan dan identitas masyarakat.

Dua jalur boleh saling mendahului di sungai, tetapi dua kampung tidak harus menjadi musuh setelah perlombaan berakhir.

Sebab di Tepian Narosa, kemenangan adalah kebanggaan.

Namun sportivitas adalah kehormatan.

Ada satu gambaran yang mungkin akan lama diingat masyarakat Muaro Sentajo dari laga perdana ini.

Keramat Jubah Merah mulai menjauh pada pancang kedua.

Dari sana, keunggulan dipertahankan.

Pancang ketiga dilewati.

Kemudian pancang keempat.

Pancang kelima.

Dan akhirnya pancang keenam.

Garis finis.

Jubah Merah tiba lebih dahulu.

Tidak ada lagi ruang bagi pengejaran.

Tidak ada lagi kesempatan bagi lawan untuk membalikkan keadaan.

Sungai telah menjatuhkan putusannya.

Dan putusan itu bernama kemenangan Keramat Jubah Merah.

Kemenangan tersebut tentu menjadi suntikan semangat bagi Muaro Sentajo.

Tetapi perjalanan belum selesai.

Justru setelah kemenangan pertama, tekanan akan semakin besar.

Jalur yang menang akan menjadi perhatian. Lawan berikutnya akan mempelajari kekuatannya. Setiap kelemahan akan menjadi bahan perhitungan.

Di sinilah Jubah Merah harus membuktikan bahwa kemenangan perdana bukan kebetulan.

Ia harus kembali menemukan ritme.

Kembali menyatukan kayuhan.

Kembali menjaga tenaga.

Dan kembali menempatkan kerendahan hati di atas nama besar.

Halmadi berharap Keramat Jubah Merah mampu terus melaju.

“Kita doakan bersama semoga Keramat Jubah Merah diberikan kelancaran, kesehatan dan kekuatan. Mudah-mudahan bisa melaju sejauh mungkin dan memberikan hasil terbaik untuk Muaro Sentajo serta Kabupaten Kuantan Singingi,” pungkasnya.

Pacu jalur selalu punya cara untuk membuat sebuah kampung terasa lebih dekat.

Ketika jalur bergerak di tengah sungai, jarak antara kampung dan gelanggang seperti menghilang.

Yang tersisa adalah nama.

Nama yang diteriakkan dari tepian.

Nama yang dibawa oleh anak pacu.

Nama yang bergerak bersama dayung.

Begitu pula dengan Keramat Jubah Merah.

Ketika haluannya menembus air, Muaro Sentajo seakan ikut berada di atas Batang Kuantan.

Ketika kayuhan mulai rapat, jantung tepian berdegup lebih cepat.

Dan ketika pancang keenam akhirnya dilewati lebih dahulu, kemenangan itu kembali kepada mereka yang sejak awal menunggu.

Hari pertama telah memberikan jawaban.

Keramat Jubah Merah tidak tumbang.

Ia justru membuka perjalanannya dengan kemenangan.

Namun Tepian Narosa masih panjang.

Masih banyak jalur.

Masih banyak pancang.

Masih banyak pertarungan.

Dan masih banyak cerita yang belum selesai.

Selasa, undian menentukan nomor 15.

Rabu, Batang Kuantan menentukan pemenangnya.

Kini Keramat Jubah Merah telah melewati Putri Bungsu Sayang Tak Sudah sejak pancang kedua dan mengunci kemenangan hingga pancang keenam.

Muaro Sentajo boleh bersorak malam ini.

Tetapi esok, mereka kembali harus menunggu.

Sebab Jubah Merah belum sampai ke tujuan.

Ia baru saja memulai perjalanan panjang menuju puncak Tepian Narosa.*(ald)






Tulis Komentar