Camat Pangean: Pacu Jalur Kini Semi Profesional, Jalur yang Bertahan hingga Hari Ketiga Layak Diapresiasi

foto: aswandi, S.Pd., MM, camat Pangean/ist. (doc. kilasriau.com)

 

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Sungai boleh mengalir seperti dahulu. Jalur boleh tetap dibuat dari kayu yang sama. Dayung masih menghantam air dengan irama yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sabtu (15/82026).

Namun, menurut Camat Pangean, Aswandi, pacu jalur telah memasuki babak baru.

Pacu jalur hari ini tidak lagi sekadar pacu tradisional. Ia telah bergerak menuju olahraga semi profesional.

Karena itu, kemenangan tidak bisa lagi hanya ditunggu dengan doa, nama besar kampung, atau keberanian turun ke gelanggang. Ada latihan yang harus dijalankan, program yang harus disusun, kekompakan yang harus dijaga dan mental yang harus ditempa.

Pandangan itu disampaikan Aswandi ketika memberikan motivasi kepada masyarakat dan pengurus jalur di Kecamatan Pangean, sekaligus merespons perjalanan jalur-jalur Pangean dalam sejumlah gelanggang pacu sepanjang 2026.

Aswandi memberikan apresiasi kepada jalur-jalur dari Kecamatan Pangean yang mampu bertahan dan melaju hingga hari ketiga pacu jalur di Tepian Lubuok Sobae, Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi.

Menurutnya, mampu bertahan hingga hari ketiga bukan perkara sederhana di tengah persaingan yang semakin ketat.

“Saya memberikan apresiasi kepada jalur-jalur Pangean yang sudah mampu melaju sampai hari ketiga. Itu bukan sesuatu yang mudah. Artinya, anak-anak pacu, pengurus dan masyarakat sudah bekerja keras mempersiapkan jalurnya,” ujar Aswandi.

Baginya, perjalanan sebuah jalur tidak hanya diukur dari apakah akhirnya menjadi juara atau tersingkir.

Ada proses panjang yang harus dihargai.

Ada latihan yang dilakukan jauh sebelum gelanggang dibuka.

Ada pengorbanan masyarakat.

Ada strategi pengurus.

Dan ada anak-anak muda yang mempertaruhkan tenaga di atas sungai.

“Menang tentu kita syukuri. Tetapi kalau belum berhasil, jangan berkecil hati. Setiap pertandingan memberikan pengalaman. Yang penting kita terus melakukan evaluasi dan memperbaiki kekurangan,” katanya.

Namun Aswandi juga menunjukkan sisi lain dari sebuah pertandingan: sportivitas.

Ia menyinggung pengalaman di Tepian Burondo. Pada hari ketiga, tidak satu pun jalur Pangean tersisa dalam persaingan.

Masyarakat Pangean pun berubah posisi—dari pendukung menjadi penonton.

Namun mereka tidak memilih meninggalkan gelanggang.

“Kemarin setelah pacu di Tepian Burondo, hari ketiga tak satu pun jalur Pangean tinggal. Kami menjadi penonton yang sportif dan bertepuk tangan kepada jalur siapa pun yang menang. Maka saya mengambil sikap seperti ini,” ujarnya.

Bagi Aswandi, kekalahan jalur sendiri tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap lawan.

Sebab pacu jalur bukan sekadar pertandingan.

Ia adalah kebudayaan yang mempertemukan manusia dari berbagai daerah.

Di atas sungai boleh saling mendahului.

Tetapi setelah garis finis, persaudaraan harus tetap berdiri.

Setelah mengikuti sejumlah gelanggang sepanjang 2026, Aswandi mengaku memilih turun langsung ke desa-desa.

Ia bergeliling mengikuti rapat persiapan jalur untuk menghadapi berbagai iven budaya, termasuk pacu jalur di Baserah dan Pacu Jalur Event Nasional di Teluk Kuantan.

Salah satu desa yang ia kunjungi adalah Desa Pauh Angit Hulu.

Di desa tersebut, pengurus jalur dan pemerintah desa meminta Aswandi memberikan arahan kepada masyarakat dan anak pacu.

Namun malam itu ia tidak berbicara sebagai pejabat pemerintahan.

“Saya sampaikan, malam ini saya tidak akan menyampaikan informasi tentang pemerintahan. Malam ini saya berbicara sebagai seorang pelatih profesional,” katanya.

Sebelum masuk ke materi, Aswandi memperkenalkan pengalaman panjangnya di dunia olahraga.

Ia menyebut dirinya berlatar pendidikan olahraga dan pernah menjadi atlet serta pelatih dalam berbagai cabang.

Ia pernah memperkuat PS UIR dan Persiks Kuantan Singingi, kemudian bermain futsal Riau dan pernah mewakili Riau di tingkat nasional di Manado, Sulawesi Utara, pada 2013.

Ia juga pernah menjadi pelatih sepak bola Popda hingga meraih juara pertama tingkat Riau serta pelatih pencak silat yang membawa prestasi juara umum Popda.

Di cabang dayung, ia terlibat dalam kepengurusan PODSI Kuansing. Ia menyebut Porprov 2022 sebagai salah satu catatan penting, ketika Kuansing meraih 11 medali emas dari 13 medali.

Aswandi juga menyebut keterlibatannya dalam kepengurusan KONI Kuansing sejak awal kabupaten tersebut berdiri hingga sekarang, termasuk di bidang pembinaan dan prestasi.

“Untuk itu, tolong perhatikan apa yang saya sampaikan,” ujarnya.

Pesan Aswandi kemudian mengarah pada satu persoalan yang menurutnya paling mendasar.

Latihan.

“Pacu jalur sekarang ini sudah bukan lagi pacu tradisional, tapi sudah semi profesional. Untuk itu tidak ada jalur yang bisa menang tanpa latihan. Tidak ada atlet yang turun kemudian kuat begitu saja. Kuatnya karena latihan yang kontinu,” tegasnya.

Menurut Aswandi, jalur-jalur yang kini konsisten meraih kemenangan sudah memiliki pola pembinaan yang lebih terarah.

“Jalur-jalur yang juara saat ini sudah mempunyai program latihan. Artinya, tidak ada latihan yang tidak tersusun secara sistematis,” katanya.

Ia ingin masyarakat memahami bahwa pacu jalur modern membutuhkan pendekatan olahraga yang lebih serius.

Latihan harus memiliki tujuan.

Jadwal harus jelas.

Evaluasi harus dilakukan.

Kondisi fisik harus diperhatikan.

Teknik harus diasah.

Dan kekompakan harus dibangun jauh sebelum jalur memasuki sungai.

Sebab ketika pertandingan dimulai, tidak ada waktu untuk memperbaiki kesalahan.

Satu hentakan terlambat dapat menjadi jarak.

Satu irama yang pecah dapat menjadi kekalahan.

Selain latihan, Aswandi menekankan pentingnya persatuan masyarakat.

Ia mengutip ungkapan:

“Rantau halui parau laju.”

Menurutnya, seluruh unsur masyarakat desa harus bergerak dalam satu arah.

“Setiap orang yang berada di desa itu harus kompak, saling menyokong, saling pengertian, saling mendoakan. Jangan sampai ada satu orang pun masyarakat kita yang ingin kalah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa sebuah jalur tidak akan kuat jika masyarakat di belakangnya terpecah.

Pengurus harus kompak.

Pemerintah desa harus mendukung.

Pemuda harus bergerak.

Orang tua harus memberikan doa.

Dan anak pacu harus mendapatkan dukungan penuh.

“Seluruh unsur yang ada di desa itu semuanya satu niat, yaitu menang,” ujarnya.

Pesan Aswandi bukan hanya lahir dari buku atau ruang teori.

Ia mengaku pernah menjadi bagian dari jalur sejak kecil.

“Saya juga mantan pemacu. Waktu kecil saya pernah menjadi togak luan, tukang concang, tukang minggang, tukang ojai kamudi dan lainnya,” tuturnya.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pacu jalur memiliki teknik yang tidak sederhana.

Ada posisi.

Ada pembagian tugas.

Ada irama.

Ada koordinasi.

Ada ketahanan fisik.

Dan ada kemampuan menjaga konsentrasi ketika tubuh mulai kehilangan tenaga.

Karena itu, ketika memberikan arahan ke desa-desa, ia juga menyentuh persoalan teknis berpacu.

Menurutnya, semakin modern sebuah kompetisi, semakin serius pula pembinaan yang harus dilakukan.

Ada satu kebiasaan lain yang dilakukan Aswandi ketika turun ke desa.

Setiap kali menghadiri rapat persiapan jalur, ia mengaku memberikan bantuan pribadi sebesar Rp500.000.

“Setiap saya turun ke desa ikut rapat, saya tetap memberikan bantuan sebanyak Rp500.000. Hanya itu yang bisa saya bantu dalam kondisi sekarang,” katanya.

Ia mengakui keterbatasan ekonomi membuat tidak semua desa mampu dikunjunginya.

Namun bagi Aswandi, datang ke desa tidak cukup hanya membawa mikrofon dan menyampaikan pidato.

“Saya sangat malu kalau memegang mikrofon tidak meninggalkan bantuan,” ujarnya.

Nilai bantuan mungkin tidak besar.

Tetapi pesan di baliknya jauh lebih besar: bahwa masyarakat yang sedang berjuang mempersiapkan jalur tidak boleh merasa sendirian.

Kini, salah satu perhatian Aswandi tertuju kepada Panah Samudra, jalur dari Desa Pauh Angit Hulu.

Ia menyebutnya sebagai “si bungsu tak baradiak lai”, sebuah jalur yang membawa harapan sekaligus menjadi duta Kecamatan Pangean di Tepian Lubuok Sobae.

“Untuk jalur Panah Samudra ini, yang si bungsu tak baradiak lai, harapan dan duta Kecamatan Pangean, tentu masyarakat Pangean mendoakan semoga di Tepian Lubuok Sobae tahun 2026 ini mendapat prestasi yang terbaik,” kata Aswandi.

Ia berharap Panah Samudra mampu membawa nama Pauh Angit Hulu sekaligus mengharumkan Kecamatan Pangean.

Tetapi harapan tersebut, menurutnya, harus disertai kerja keras.

Sebab sungai tidak mengenal belas kasihan.

Ia tidak peduli seberapa besar nama kampung.

Ia tidak peduli berapa banyak penonton berdiri di tepian.

Begitu dayung menghantam air, yang diuji adalah kesiapan.

Pernyataan Aswandi pada akhirnya membuka perbincangan yang lebih luas tentang masa depan pacu jalur.

Tradisi harus tetap dijaga.

Tetapi cara mempersiapkan atlet tidak boleh berhenti pada pola lama.

Pacu jalur boleh lahir dari kebudayaan.

Namun ketika persaingan semakin terbuka, ia membutuhkan ilmu olahraga.

Semangat tanpa latihan hanya menjadi slogan.

Nama besar tanpa kekompakan hanya menjadi cerita masa lalu.

Doa tanpa ikhtiar tidak akan mengubah garis finis.

Karena itu, pesan Aswandi terdengar sederhana sekaligus menohok:

“Tidak ada jalur yang bisa menang tanpa latihan.”

Dari desa ke desa, pesan itu ia bawa.

Dari rapat ke rapat, ia ulangi.

Dan dari tepian ke tepian, masyarakat Pangean terus belajar bahwa pacu jalur bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mengayuh.

Ia tentang siapa yang paling siap.

Siapa yang paling kompak.

Siapa yang paling disiplin.

Dan siapa yang mampu mengubah keringat menjadi kemenangan.

Sebab ketika sungai menjadi arena, nama besar berhenti di tepian. Hanya kerja keras yang ikut naik ke atas jalur.*(ald)






Tulis Komentar