Jiwa DMJ & Pacu Jalur: Tentang Kesetiaan, Pengorbanan, dan Marwah di Tepian Kuantan

foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

KilasRiau.com - Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan yang mempertandingkan kecepatan perahu panjang di atas derasnya arus Sungai Kuantan. Ia adalah denyut nadi masyarakat, warisan leluhur yang telah mengakar dalam kehidupan, serta ruang tempat harga diri, persaudaraan, dan pengorbanan dipertaruhkan.

Di balik riuh tepuk tangan masyarakat, gemuruh tabuhan gendang, dan teriakan penyemangat dari tepian, terdapat kisah-kisah yang tak selalu dilihat oleh banyak mata. Ada air mata yang jatuh dalam diam. Ada kelelahan yang disembunyikan di balik senyuman. Ada harapan yang dipikul oleh puluhan anak pacu yang mengayuh bukan hanya demi kemenangan, tetapi demi menjaga nama baik kampung halaman.

Jika mereka merasa hancur dan berputus asa karena kekalahan dalam Pacu Jalur, maka akulah yang turut merasakan kehancuran itu. Ketika seorang anak pacu menundukkan kepala karena merasa gagal membawa jalurnya menuju kemenangan, sesungguhnya ada bagian dari jiwaku yang ikut tenggelam bersama kesedihannya.

Ketika sebagian jalur kehilangan anak pacu akibat cedera atau harus berjuang dalam kondisi yang tidak sempurna, akulah orang yang merasakan sakit itu seolah berada di dalam perahu yang sama. Sebab bagiku, mereka bukan sekadar peserta perlombaan. Mereka adalah saudara-saudara seperjuangan yang mengorbankan tenaga, waktu, bahkan keselamatan demi menjaga kehormatan jalur yang mereka bela.

Ketika banyak jalur kalah dan harus dipulangkan lebih awal, tidak ada rasa bangga yang lahir dari kekalahan orang lain. Yang ada hanyalah kepedihan karena menyaksikan harapan-harapan yang harus tertunda. Aku memahami betapa berat langkah anak pacu saat kembali ke kampungnya tanpa membawa kemenangan yang diimpikan oleh masyarakatnya.

Namun demikian, Pacu Jalur telah mengajarkan bahwa kemenangan bukanlah satu-satunya ukuran kehormatan.

Sebab jika hari ini aku merasakan sukacita atas kemenangan beberapa jalur, maka aku juga harus siap menerima kenyataan bahwa di waktu yang lain, aku akan merasakan getirnya kekalahan. Dalam Pacu Jalur, roda nasib selalu berputar. Tidak ada jalur yang selamanya berada di depan, dan tidak ada pula yang selamanya tertinggal.

Aku adalah keduanya.

Aku adalah lawan dalam arena pacuan, karena setiap jalur datang dengan tekad untuk menjadi yang terbaik. Namun aku juga adalah teman, sebab setelah perlombaan usai, kami tetap dipersatukan oleh kecintaan yang sama terhadap budaya yang diwariskan oleh nenek moyang.

Aku adalah pemacu jiwa bagi mereka.
Ketika semangat mulai memudar, aku ingin menjadi pengingat bahwa setiap kayuhan adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur. Ketika kepercayaan diri mulai runtuh akibat kekalahan, aku ingin menjadi suara yang mengatakan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia selama dilakukan dengan kejujuran dan kehormatan.

Aku memahami bahwa di balik sebuah jalur yang megah, ada masyarakat yang bergotong royong mengumpulkan biaya. Ada ibu-ibu yang memanjatkan doa agar anak-anak mereka diberi keselamatan. Ada para tetua kampung yang menitipkan harapan agar marwah desa tetap terjaga. Ada anak-anak kecil yang bermimpi suatu hari nanti dapat menjadi bagian dari jalur kebanggaan kampung mereka.

Maka, ketika sorak sorai kemenangan menggema di arena pacuan dan ribuan pasang mata bersinar penuh kebahagiaan, akulah orang yang ikut tersenyum. Kebahagiaan itu bukan hanya milik sang juara, tetapi milik seluruh masyarakat yang telah bekerja keras menjaga tradisi ini tetap hidup dari generasi ke generasi.

Namun ketika ada pendayung yang dipatahkan akibat luapan emosi karena kekalahan, ketika kekecewaan mengalahkan kebijaksanaan, akulah yang merasakan kesakitan itu. Sebab Pacu Jalur dibangun di atas nilai sportivitas dan persaudaraan, bukan kebencian dan permusuhan.
Kekalahan memang menyakitkan, tetapi kehilangan jati diri jauh lebih menyedihkan.

Saat ini, jiwaku ada dalam setiap perahu panjang yang membelah arus Sungai Kuantan. Aku hadir dalam setiap kayuhan yang penuh harapan. Aku ada dalam setiap tetes keringat yang jatuh di atas badan jalur. Aku hidup dalam doa-doa yang dipanjatkan sebelum perlombaan dimulai.

Karena itu, aku akan tetap berada di sana.

Dalam kemenangan, aku akan mengajarkan arti syukur dan kerendahan hati.

Dalam kekalahan, aku akan mengajarkan arti ketabahan dan keberanian untuk bangkit kembali.

Sebab Pacu Jalur bukan hanya tentang siapa yang pertama menyentuh garis akhir. Pacu Jalur adalah tentang bagaimana kita menjaga marwah, menghormati lawan, mencintai kampung halaman, dan meneruskan warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Aku, Datuak Mangkuto Jilelo, tidak memilih untuk hanya berada di pihak mereka yang menang. Aku juga tidak akan meninggalkan mereka yang kalah. Sebab jiwaku telah menyatu dengan setiap jalur yang turun ke arena pacuan.

Hari ini, besok, dan selama Sungai Kuantan masih mengalir, aku akan tetap ada dalam setiap cerita Pacu Jalur.

Aku akan tertawa bersama mereka yang menang.

Aku akan menangis bersama mereka yang kalah.

Aku akan berdiri di tengah-tengah, mengingatkan bahwa pada akhirnya kita semua adalah anak-anak negeri yang dititipi amanah untuk menjaga warisan leluhur ini.

Karena Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan.

Ia adalah identitas.
Ia adalah kebanggaan.
Ia adalah jiwa.

Dan selama masih ada orang-orang yang mencintainya dengan tulus, maka semangat itu tidak akan pernah padam.*(ald)






Tulis Komentar