Dari Desa Air Emas, Sebuah Lompatan Zaman Dimulai: KUD Tirta Kencana Resmikan Timbangan Digital Demi Kesejahteraan Petani

foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

AIR EMAS (KilasRiau.com) – Pagi itu, Senin, 18 Mei 2026, mentari baru saja menapakkan cahayanya di ufuk timur. Embun masih setia menggantung di ujung daun, sementara semilir angin dari hamparan kebun sawit membawa aroma tanah yang telah lama akrab dengan peluh para petani. Di sebuah desa yang namanya begitu bersahaja—Air Emas—sejarah kecil kembali ditulis di Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Bukan dengan tinta, bukan pula dengan pidato semata, melainkan melalui sebuah langkah nyata yang sarat makna: peresmian timbangan digital milik KUD Tirta Kencana.

Di halaman kantor koperasi yang berdiri kokoh di tengah denyut kehidupan masyarakat desa, satu per satu tamu undangan mulai berdatangan. Wajah-wajah penuh harap berkumpul dalam satu tujuan, menyaksikan sebuah perubahan yang diyakini akan membawa manfaat besar bagi masa depan para petani.

Tepat pukul 09.30 WIB, acara dimulai. Suasana mendadak hening ketika lantunan doa menggema, dipimpin oleh Khai Muzakir, Khai Sukarno, dan Khai Misbahudin. Doa-doa itu melayang ke langit, menyatu dengan harapan agar setiap langkah yang diambil hari itu menjadi jalan keberkahan bagi seluruh anggota koperasi.

Turut hadir dalam momentum bersejarah tersebut Ketua KUD Tirta Kencana, Muklis, unsur Koramil 09 Singingi, perwakilan Polsek Singingi, pihak Bank Mandiri, Kepala Desa Air Emas, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para anggota koperasi yang selama ini menjadi denyut nadi perjalanan KUD.

Dalam sambutannya, Muklis berdiri tegap. Suaranya tenang, namun sarat keyakinan. Di balik kata-katanya, tersimpan semangat untuk membawa koperasi menuju zaman yang lebih modern, lebih adil, dan lebih berpihak kepada petani.

“Selama ini anggota kita masih menggunakan timbangan manual. Dalam beberapa kali timbang, sering terjadi potongan tempat yang bisa mencapai kurang lebih 10 kilogram. Mungkin terlihat kecil, tetapi bagi petani, setiap kilogram adalah hasil keringat, adalah biaya sekolah anak, adalah kebutuhan dapur, adalah harapan hidup,” ujarnya, disambut anggukan para hadirin.

Ia kemudian menatap ke arah timbangan digital yang berdiri kokoh di sampingnya—mengkilap, modern, dan seolah menjadi simbol perubahan.

“Hari ini kita melangkah. Dengan timbangan digital, cukup sekali timbang. Lebih akurat, lebih cepat, lebih hemat waktu, dan lebih menguntungkan bagi anggota.”

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti manifesto perubahan.

Muklis juga mengingatkan bahwa koperasi bukan sekadar bangunan, bukan sekadar papan nama, dan bukan pula sekadar tempat transaksi. Koperasi, katanya, adalah rumah bersama. Tempat kepercayaan ditanam, dijaga, dan diwariskan.

Dari total 347 anggota yang pernah bergabung, kini baru sekitar 90 anggota yang masih aktif. Dengan penuh harap, ia mengajak mereka yang pernah berjalan bersama untuk kembali pulang ke rumah besar bernama koperasi.

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya. Mari kembali bergabung. Prospek ke depan sangat baik. Keuntungan bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk anak cucu kita nanti.”

Di tengah sambutannya, Muklis juga menyinggung pentingnya komunikasi yang sehat di tengah masyarakat. Ia tak ingin informasi yang belum jelas berkembang menjadi kabar yang menyesatkan.

“Kalau ada yang belum dipahami, tanyakan langsung kepada manajemen. Tanyakan kepada saya. Jangan sampai informasi yang belum utuh justru berkembang menjadi berita yang blunder. KUD ini terbuka, transparan, dan siap menjelaskan kepada siapa pun.”

Ucapan itu bukan sekadar penegasan, melainkan komitmen.

Ia pun membeberkan bahwa transparansi koperasi selama ini dibuktikan melalui pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang rutin digelar, lengkap dengan laporan pertanggungjawaban keuangan yang dapat diakses oleh seluruh anggota.

Bukan hanya itu, KUD Tirta Kencana kini juga telah memiliki berbagai aset produktif—empat unit mobil cold diesel, tanah, bangunan, hingga fasilitas timbangan digital yang hari itu diresmikan.

Dan tibalah pada puncak acara.

Dengan gunting di tangan dan senyum yang tak mampu disembunyikan, Muklis melangkah menuju pita peresmian. Dalam hitungan detik, pita itu terputus.

Tepuk tangan pun pecah.

Bukan sekadar pita yang terpotong, melainkan batas antara cara lama dan langkah baru.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Air Emas, Suterman, S.E., menyampaikan apresiasinya atas langkah progresif tersebut.

Menurutnya, kehadiran timbangan digital bukan hanya soal alat, tetapi tentang rasa percaya.

“Petani butuh kepastian. Petani butuh kejujuran dalam setiap kilogram hasil panennya. Dengan alat ini, kepercayaan itu semakin kuat,” ujarnya.

Menjelang siang, acara ditutup dengan pembagian door prize dan bingkisan kepada anggota. Tawa, senyum, dan obrolan hangat mengisi halaman koperasi. Anak-anak berlari kecil, para orang tua bercengkerama, dan para petani pulang dengan mata yang tampak lebih optimis dari biasanya.

Di Desa Air Emas, hari itu, teknologi bukan datang untuk menggantikan manusia.

Ia datang untuk menghargai keringat mereka. Ia datang untuk memastikan bahwa setiap kilogram hasil panen, adalah setiap tetes perjuangan yang dibayar dengan adil.*(ald)






Tulis Komentar