Ikbal Sayuti: Inhil Kaya Kelapa, Jangan Biarkan Keuntungan Dinikmati Daerah Lain

Kilasriau.com — Anjloknya harga kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, membuat para petani semakin terhimpit. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat karena hasil kebun yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga tidak lagi mampu menopang kebutuhan hidup sehari-hari.

Menanggapi kondisi tersebut, anggota DPRD Provinsi Riau dari Daerah Pemilihan (Dapil) Inhil, H Ikbal Sayuti, angkat bicara. Ia menilai pemerintah harus segera mengambil langkah nyata agar petani kelapa tidak terus bergantung pada penjualan bahan mentah yang harganya sangat fluktuatif.

Menurut Ikbal, salah satu solusi yang paling realistis dan bisa langsung diterapkan adalah mendorong hilirisasi produk kelapa berbasis home industry atau industri rumahan di tengah masyarakat.

“Harga kelapa yang turun ini jangan hanya dilihat sebagai persoalan pasar semata, tetapi harus menjadi momentum untuk mengubah pola ekonomi masyarakat. Petani kita jangan terus menjual kelapa bulat saja, harus ada produk turunan yang punya nilai tambah,” kata Ikbal Sayuti, Sabtu (16/5/2026).

Ia mengatakan, Inhil selama ini dikenal sebagai daerah penghasil kelapa terbesar di Indonesia. Namun ironisnya, sebagian besar hasil perkebunan masyarakat masih dijual dalam bentuk mentah sehingga keuntungan terbesar justru dinikmati daerah lain maupun pihak industri di luar daerah.

Padahal, lanjut Ikbal, potensi ekonomi dari kelapa sangat besar jika dikelola secara maksimal melalui industri pengolahan skala kecil dan menengah.

“Kalau kita hanya menjual kelapa mentah, tentu harga sangat bergantung pada pasar. Tapi kalau masyarakat bisa mengolah menjadi produk jadi, nilainya bisa berkali-kali lipat,” ujarnya.

Ikbal kemudian memaparkan sejumlah produk turunan kelapa yang dinilai sangat potensial dikembangkan masyarakat Inhil melalui industri rumahan.

Salah satunya adalah Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni. Produk ini memiliki permintaan tinggi di pasar kesehatan, kecantikan, hingga kosmetik karena dikenal memiliki banyak manfaat bagi tubuh.

Selain itu, tepung kelapa atau desiccated coconut juga memiliki peluang pasar yang besar, terutama untuk kebutuhan industri roti, kue, dan makanan olahan.

“Produk seperti VCO dan tepung kelapa ini pasarnya jelas. Tinggal bagaimana masyarakat diberikan pelatihan dan alat produksi agar bisa berkembang,” katanya.

Tidak hanya itu, Ikbal juga menyoroti potensi gula semut kelapa yang berasal dari nira kelapa. Menurutnya, produk ini memiliki nilai jual tinggi bahkan berpeluang menembus pasar ekspor karena dianggap lebih sehat dibanding gula biasa.

Sementara itu, limbah kelapa seperti tempurung dan sabut juga dinilai memiliki nilai ekonomi jika diolah secara kreatif.

Tempurung kelapa, kata dia, dapat dijadikan briket arang berkualitas untuk kebutuhan barbecue (BBQ) dan shisha yang kini banyak diminati pasar luar negeri. Sedangkan sabut kelapa bisa diolah menjadi cocopeat dan cocofiber yang digunakan sebagai media tanam dan kebutuhan pertanian modern.

“Selama ini limbah kelapa sering dianggap tidak bernilai, padahal kalau diolah bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat,” jelasnya.

Ikbal menegaskan, pengembangan hilirisasi kelapa tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah. 

Karena itu, ia meminta adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk membantu masyarakat melalui pelatihan, bantuan alat produksi, akses modal usaha, hingga pemasaran produk.

Ia juga berharap adanya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga keuangan agar industri berbasis kelapa di Inhil dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kalau home industry tumbuh, maka ekonomi desa akan bergerak. Lapangan pekerjaan terbuka, anak-anak muda tidak perlu pergi keluar daerah mencari kerja, dan yang paling penting petani bisa lebih sejahtera,” tuturnya.

Di tengah lesunya harga kelapa saat ini, masyarakat berharap solusi konkret segera diwujudkan. Sebab bagi warga Inhil, kelapa bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi sumber kehidupan yang menopang ekonomi ribuan keluarga.






Tulis Komentar