Di Balik Ucapan, Ada Doa untuk Budaya: Camat Kuantan Tengah Sampaikan Selamat Ulang Tahun kepada Ketua Umum Dewan Kesenian Kuansing

KUANTAN TENGAH (KilasRiau.com) — Di tengah denyut kehidupan masyarakat yang terus bergerak, ada momen-momen sederhana namun sarat makna, ketika sebuah ucapan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan doa, penghormatan, dan harapan yang tumbuh dari ketulusan. Sabtu (2/5/2026).

Momentum itulah yang tergambar dalam peringatan hari ulang tahun Yulia Herma Suhardiman, sosok yang selama ini dikenal aktif mengayomi, merawat, dan menghidupkan denyut kesenian serta kebudayaan di Kabupaten Kuantan Singingi.

Ucapan penuh makna datang dari Eka Putra, S.Sos., M.Si yang turut menyampaikan doa dan harapan terbaik kepada Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Kuantan Singingi tersebut.

Dalam ucapan yang disampaikan bertepatan dengan momentum hari bahagia itu, Eka Putra menyampaikan rasa hormat dan apresiasinya atas dedikasi yang selama ini diberikan bagi kemajuan seni, budaya, serta pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di negeri berjuluk Kota Pacu Jalur.

“Selamat ulang tahun kepada Ibu Hj. Yulia Herma Suhardiman. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, umur yang berkah, kekuatan, serta kebijaksanaan dalam menjalankan amanah dan pengabdian. Semoga terus menjadi inspirasi dalam menjaga, mengembangkan, dan memajukan seni budaya daerah,” ujar Eka Putra.

Bagi Eka Putra, sosok Yulia Herma Suhardiman bukan sekadar figur organisasi, melainkan representasi perempuan yang hadir dengan keteguhan, kepedulian, dan komitmen dalam merawat identitas budaya daerah agar tetap hidup di tengah derasnya arus zaman.

Menurutnya, kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, tetapi fondasi masa depan yang harus terus dijaga bersama. Karena itu, peran para pegiat seni dan tokoh budaya menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi muda.

“Kesenian adalah wajah sebuah daerah. Ketika budaya hidup, maka jati diri masyarakat juga tetap terjaga. Dan Ibu Yulia telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam perjalanan itu,” tambahnya.

Ucapan tersebut juga menjadi simbol sinergi antara unsur pemerintahan dan insan budaya di Kuantan Tengah, bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan angka-angka, tetapi juga tentang menjaga ruh, sejarah, dan identitas masyarakat.

Di tengah usia yang terus bertambah, doa-doa pun mengalir. Bukan hanya untuk panjang umur dan kesehatan, tetapi juga agar langkah pengabdian terus memberi warna bagi perjalanan seni dan budaya di tanah Kuantan.

Sebab di negeri yang dibesarkan oleh tradisi, oleh denting suara, gerak tari, syair, petuah, dan semangat Pacu Jalur, setiap sosok yang menjaga budaya sesungguhnya sedang menjaga masa depan.

Dan pada hari istimewa itu, ucapan dari seorang camat menjadi lebih dari sekadar formalitas—ia menjelma menjadi penghormatan, persahabatan, dan doa yang mengakar pada cinta terhadap tanah, tradisi, dan kebudayaan.*(ald)






Tulis Komentar