Panggung Rasa di Teluk Kuantan: Saat Mimpi-Mimpi Muda Menyala di FLS2N 2026
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Di bawah langit pagi yang masih menyisakan embun, Sport Center SMAN Pintar Provinsi Riau yang terletak di Teluk Kuantan, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, menjelma menjadi panggung besar bagi lahirnya mimpi-mimpi muda. Rabu, 29 April 2026, bukan sekadar tanggal dalam kalender pendidikan, melainkan sebuah peristiwa batin—ketika ratusan siswa datang membawa harapan, lalu menaburkannya dalam bentuk karya di ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional 2026.

Riuh tepuk tangan, denting musik, dan lantunan sastra berkelindan dalam satu tarikan napas yang sama. Di sudut-sudut arena, wajah-wajah muda tampak menyimpan cerita. Ada yang menggenggam naskah dengan tangan bergetar, ada yang menatap kosong ke arah panggung, seolah tengah berdialog dengan kegelisahannya sendiri. Di sana, seni tidak lagi sekadar lomba, tetapi menjadi bahasa jiwa yang menemukan jalannya pulang.
Sebanyak 122 peserta dari 22 sekolah hadir, membawa ragam ekspresi dalam 16 cabang lomba. Mereka datang bukan semata untuk menang, melainkan untuk membuktikan bahwa kreativitas adalah denyut nadi yang tak bisa dibatasi oleh dinding kelas. Dari gerak tari yang mengalir seperti sungai, hingga tulisan jurnalistik yang tajam menembus realitas—semuanya menjadi potret utuh generasi yang sedang tumbuh dan mencari makna.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh pendidikan yang menjadi saksi sekaligus penjaga arah perjalanan ini. Ketua MKKS SMA/MA, Rohandi, Ketua MKKS SMK Kusnadi, serta Kepala Sekolah SMAN Pintar Provinsi Riau, Elniyeti, bersama jajaran kepala sekolah se-Kabupaten Kuantan Singingi, turut hadir menyaksikan denyut kreativitas itu. Kehadiran mereka menjadi penegas bahwa pendidikan bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang rasa dan jiwa.
Ketua panitia pelaksana, Pispian Rahman, menyampaikan bahwa pelaksanaan tahun ini mengedepankan keterbukaan dan kejujuran. Dengan memilih konsep luring, panitia ingin menghadirkan kembali ruh pertunjukan yang hidup dan menyentuh.
“Pertunjukan seni itu bukan hanya soal hasil, tetapi tentang rasa yang hadir di setiap detiknya. Dan rasa itu hanya benar-benar hidup ketika kita saling melihat, saling merasakan,” ujarnya.
Di balik gemerlap panggung, terselip pesan yang mengakar kuat. Perwakilan dewan juri, Prima Wahyudi, mengingatkan pentingnya menjaga integritas di tengah derasnya arus teknologi.
“Gunakan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai jalan pintas. Orisinalitas adalah ruh dari karya. Jangan biarkan teknologi mencuri kejujuran kreativitas kalian,” tegasnya.
Sementara itu, Rohandi dalam sambutannya menegaskan bahwa FLS2N adalah ruang untuk menemukan diri, bukan sekadar arena kompetisi.
“Seni menyeimbangkan olah pikir, olah hati, dan olah rasa. Di sinilah karakter dibentuk, toleransi dipupuk, dan solidaritas diuji,” ungkapnya.
Dengan penuh semangat, ia pun menyerukan kalimat yang membakar motivasi seluruh peserta.
“Tampillah tanpa takut. Jika gugup, biarkan itu menjadi bagian dari perjalananmu. Ekspresikan bakatmu, ceritakan kisahmu, dan nikmati setiap detik di atas panggung ini.”
Tepuk tangan pun pecah, menggulung seperti ombak yang tak terbendung. Di momen itu, panggung bukan lagi milik segelintir orang, melainkan milik semua yang berani bermimpi.
FLS2N 2026 tingkat Kabupaten Kuantan Singingi bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ruang tumbuh—tempat mimpi-mimpi kecil dipertemukan dengan keberanian besar. Dari panggung sederhana di Teluk Kuantan ini, harapan-harapan dilangitkan, dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti, nama Kuansing akan kembali bergema di tingkat provinsi hingga nasional.

Dan mungkin, di antara ratusan wajah hari itu, ada satu yang kelak akan dikenang. Bukan hanya karena kemenangannya, tetapi karena keberaniannya untuk tampil, untuk jujur dalam berkarya, dan untuk percaya bahwa seni adalah cara paling tulus untuk menjadi manusia.*(ald)

Tulis Komentar