Silaturahmi Ramadan: Camat Kuantan Tengah Buka Puasa Bersama Datuk Kenegerian, Perkuat Semangat Tali Bapilin Tigo

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa dalam sebuah pertemuan yang mempertemukan unsur pemerintahan dengan para pemangku adat di Kecamatan Kuantan Tengah. Dalam momentum bulan suci Ramadan, Eka Putra, S.Sos., M.Si menggelar silaturahmi sekaligus buka puasa bersama para datuk kenegerian se-Kuantan Tengah.

Kegiatan tersebut berlangsung di Saoeng Kampoeng Teluk Kuantan, Kamis (12/3/2026), dan dihadiri oleh para pemangku adat dari berbagai kenegerian yang ada di wilayah Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.

Dalam pertemuan tersebut hadir Datuak Penghulu Nan Barompek bersama Urang Nan Onam dari sejumlah kenegerian, di antaranya Kenegerian Taluk, Kenegerian Kopah, Kenegerian Kari, serta Bungo Setangkai Jake. Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang berbuka puasa bersama, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi yang mempererat hubungan antara pemerintah dengan lembaga adat yang selama ini menjadi penjaga nilai dan kearifan lokal masyarakat Kuantan.

Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, menyampaikan bahwa kebersamaan antara pemerintah dan pemangku adat merupakan fondasi penting dalam menjaga harmoni kehidupan masyarakat. Terlebih di daerah yang kuat dengan tradisi adat seperti Kuantan Singingi, sinergi antara berbagai unsur sangat diperlukan dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus mendorong kemajuan daerah.

Menurutnya, pertemuan tersebut juga menjadi cerminan hidupnya falsafah masyarakat Melayu yang dikenal dengan Tigo Tungku Sajoghangan atau Tiga Tungku Sejarangan.

Falsafah ini menggambarkan tiga unsur utama yang menjadi penopang kehidupan masyarakat, yakni Pemerintah, Adat, dan Agama. Ibarat tungku tempat memasak di dapur tradisional, tiga batu penyangga harus berdiri kokoh agar periuk dapat tegak dan api dapat menyala dengan sempurna. Jika satu saja goyah, maka keseimbangan akan terganggu.

Dalam kehidupan masyarakat Kuantan, falsafah tersebut juga dikenal dengan istilah Tali Bapilin Tigo. Artinya, tiga unsur itu ibarat tali yang dipilin menjadi satu. Semakin erat pilinannya, semakin kuat pula tali tersebut menahan beban kehidupan sosial masyarakat.

Pemerintah menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan, adat menjaga nilai-nilai budaya dan norma yang diwariskan turun-temurun, sementara agama menjadi penuntun moral serta spiritual bagi masyarakat.

Nilai inilah yang selama ini menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat di berbagai kenegerian. Dalam setiap musyawarah, kegiatan adat, hingga persoalan sosial kemasyarakatan, unsur pemerintahan, datuk penghulu, dan alim ulama selalu duduk bersama untuk mencari jalan terbaik.

Menjelang waktu berbuka puasa, suasana pertemuan semakin khidmat. Doa dipanjatkan bersama, memohon keberkahan Ramadan serta keselamatan bagi masyarakat Kuantan Tengah. Ketika azan Magrib berkumandang, para tamu undangan pun menikmati hidangan berbuka dalam suasana penuh keakraban.

Silaturahmi tersebut menjadi gambaran bahwa di Kuantan Tengah, hubungan antara pemerintah dan pemangku adat tetap terjalin erat. 

Dalam kebersamaan itu, nilai Tali Bapilin Tigo terus hidup—mengikat pemerintah, adat, dan agama dalam satu semangat yang sama untuk menjaga keharmonisan serta membangun daerah menuju masa depan yang lebih baik.*(ald)






Tulis Komentar