PENDAYUNG ABADI
Episode 1: Suara dari Hulu Tabandang
KilasRiau.com - Sore itu menjelang magrib. Langit di hulu Sungai Kuantan perlahan berubah warna—jingga yang hangat merambat menjadi ungu kelabu, lalu perlahan-lahan meredup menuju malam. Di sebuah pulau kecil di tengah arus sungai yang tenang, tepat di bawah kaki Bukit Hulu Tabandang, empat orang pria duduk berdiam.
Pulau kecil itu tidak besar. Hanya hamparan pasir bercampur tanah, beberapa batu besar yang separuh tenggelam di tepi air, serta pohon-pohon liar yang tumbuh tanpa aturan. Namun bagi orang-orang yang hidup di tepian Sungai Kuantan, pulau seperti itu sering menjadi tempat berlabuh pikiran—tempat berbicara tentang harapan, kegagalan, dan takdir.
Di sanalah mereka duduk sore itu.
Yogi, Mojo, Iwan, dan Herdi.
Keempat lelaki itu bukan orang biasa dalam dunia Pacu Jalur, tradisi kebanggaan masyarakat di tepian Sungai Kuantan yang telah hidup turun-temurun sejak zaman para datuak dahulu. Mereka adalah orang-orang yang mengabdikan diri pada sebuah jalur—perahu panjang yang bukan sekadar kayu dan paku, melainkan harga diri sebuah kampung.
Namun sore itu, wajah-wajah mereka tidak memancarkan semangat seperti biasanya.
Yang ada hanya kelelahan.
Yogi yang sejak tadi tertunduk menatap permukaan sungai perlahan berdiri. Ia melangkah ke arah sebuah batu besar yang pecah di tepi pulau. Dengan gerakan pelan ia naik ke atasnya, seolah ingin memandang lebih jauh dari sekadar arus air yang lewat di depan mata.
Angin senja menyentuh wajahnya.
Ia menatap jauh ke arah aliran sungai yang memanjang menuju hilir.
Kemudian ia berkata dengan suara yang berat.
“Aku sudah menaungi jalur kampung ini selama tujuh musim.”
Kata-kata itu meluncur perlahan, seperti beban yang akhirnya keluar dari dadanya.
“Selama tujuh musim kita bertarung di gelanggang. Kita latihan siang malam. Kita mengumpulkan pendayung dari berbagai dusun. Kita memperbaiki jalur, mengganti dayung, menambah semangat…”
Ia berhenti sejenak.
Suara air yang menyentuh tepian pulau terdengar lebih jelas.
“Tapi jangan kan kemenangan,” lanjutnya dengan suara semakin lirih.
“Sedikit peringkat saja kita tak mampu.”
Mojo menghela napas panjang.
Iwan menatap ke arah lain.
Herdi tetap diam.
“Yang kita dapat malah pertikaian,” kata Yogi lagi.
“Pendayung saling menyalahkan, orang kampung saling sindir. Rasanya… hampir saja aku berputus asa.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan.
“Bahkan ketika sponsor sebesar Asadel Group dan Cibria datang membantu, yang langsung dinaungi oleh Igo (Datuak Mangkuto Jilelo), kita tetap tidak mampu menjemput prestasi.”
Yogi menggeleng pelan.
“Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk jalur kampung ini.”
Angin senja tiba-tiba terasa lebih dingin.
Mojo, yang paling tua di antara mereka, akhirnya mengangkat wajahnya. Wajahnya penuh keriput, seolah setiap garis di sana menyimpan cerita tentang puluhan musim pacu jalur yang pernah ia saksikan.
Ia menatap jauh ke arah hutan di balik Bukit Hulu Tabandang.
Kemudian berkata perlahan. “Andai saja… Pendayung Abadi masih ada di kampung ini.”
Yogi menoleh cepat.
Iwan dan Herdi juga ikut menatapnya.
Mojo menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
“Kalau pendayung itu masih ada… aku berani bersumpah kemenangan mutlak akan menjadi milik jalur kita.”
Iwan mengerutkan dahi.
“Pendayung apa maksud Abang?”
Mojo terdiam sejenak. Ia seperti menimbang apakah cerita itu pantas diucapkan kembali atau tidak.
Namun akhirnya ia berkata juga.
“Pendayung Abadi itu hilang sejak tujuh musim terakhir. Tepat setelah jalur kampung kita pernah membantai pendekar-pendekar hebat di gelanggang.”
Ia memejamkan mata sesaat, seolah mengingat masa lalu yang jauh.
“Sejak kemenangan itu… sesuatu berubah.”
Angin mulai bergerak lebih kencang di antara pepohonan pulau.
Mojo melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
“Pendayung itu dulu berada di tangan seorang pemuda bernama Tore Kinantan.”
Nama itu membuat suasana terasa lebih berat.
“Pendayung itu bukan sembarang dayung. Usianya hampir dua ratus tahun. Dibuat oleh seorang ahli perahu dari hulu Sungai Ulo… orang-orang memanggilnya Datuak Raja Bunian Patenggi.”
Iwan menelan ludah.
“Konon,” lanjut Mojo, “pendayung itu dibuat dari kayu kapini sakti. Kayu yang tumbuh di dalam hutan larangan… dijaga oleh ratusan ular berbisa.”
Suasana semakin sunyi.
Burung-burung senja mulai meninggalkan dahan pohon.
Iwan tiba-tiba berdiri.
“Kalau begitu aku akan mencari Tore Kinantan.”
Semua menoleh kepadanya.
“Aku kenal seorang nenek tua di Pangean Hilir. Orang-orang bilang dia bisa melihat jejak masa lalu. Setidaknya… dia mungkin tahu ke mana Tore Kinantan menghilang.”
Yogi menatapnya dengan harapan yang kembali menyala.
Namun Herdi masih diam.
Ia memandang ke arah hutan dengan tatapan kosong, seolah ada sesuatu yang berputar di dalam pikirannya.
Waktu terus berjalan.
Langit akhirnya benar-benar tenggelam.
Malam mulai turun di pulau kecil itu.
Tiba-tiba—
Dari dalam hutan terdengar suara.
Berat.
Dalam.
Seperti datang dari rongga bumi yang gelap.
“Aku tahu… keberadaan Tore Kinantan.”
Keempat pria itu langsung berdiri.
Mata mereka menatap ke arah hutan yang kini hanya terlihat sebagai bayangan hitam.
Sekejap kemudian hutan menjadi gaduh.
Burung-burung beterbangan.
Binatang berlarian.
Angin tiba-tiba bertiup kencang.
Petir menyambar di langit. Halilintar bersambung-sambung di atas Bukit Hulu Tabandang.
Yogi menggenggam batu di tangannya. Mojo berdiri dengan wajah pucat. Iwan menatap tajam ke arah pepohonan. Herdi melangkah setengah langkah ke depan.
Dan dari kegelapan hutan itu…
seolah ada sesuatu yang sedang mendekat.
Sesuatu yang telah lama hilang. Sesuatu yang mungkin lebih tua dari cerita tentang Pendayung Abadi itu sendiri.
Malam di Hulu Tabandang baru saja membuka rahasianya.*
Bersambung...


Tulis Komentar