IKPP Perawang Mill melalui CSR Perkuat Literasi Lingkungan Lewat Pelatihan Pengelolaan Sampah
Siak, KilasRiau.com – Suasana penuh energi positif terpancar sejak pagi ketika masyarakat mulai memadati Rumah Pintar Abdul Wahid atau lebih akrab disebut Rumpin. Di tempat yang menjadi simbol harapan dan pusat pembelajaran ini, PT IKPP Perawang Mill, raksasa pulp dan kertas yang dikenal sebagai pelopor program hijau berbasis masyarakat, kembali menggelar pelatihan ketiganya, Rabu (10/12/2025).
Pelatihan tersebut bukan sekadar ruang belajar, tetapi wadah menumbuhkan kesadaran baru bahwa sampah dapat menjadi peluang, bukan beban. Selama dua hari, peserta dibimbing oleh narasumber dari Disperindagkop UKM Provinsi Riau yang merupakan pelatih berpengalaman, Pak Warman dan Pak John, yang telah melanglang buana memberikan pelatihan di 12 kabupaten/kota.
Acara dibuka dengan sambutan dari pimpinan PT IKPP Perawang Mill, Hasanuddin The, yang disampaikan melalui CSR IKPP Murseno SAP. Mewakili perusahaan yang selama ini dikenal tidak hanya besar dalam industri, tetapi juga besar dalam dukungan terhadap pendidikan masyarakat, Murseno memberikan pesan yang menyentuh.
“Rumah Pintar Abdul Wahid atau Rumpin ini terbuka untuk seluruh masyarakat. Di lantai dua tersedia berbagai buku seperti pertanian, tata boga, hingga bacaan anak-anak yang bisa diakses mulai pukul 07.30 hingga 16.30,” ujar Murseno, membuka pintu seluas-luasnya bagi masyarakat untuk belajar.
Ia menekankan bahwa kesempatan menambah ilmu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
“Belajar tidak memandang usia. Yang penting ada kemauan, insya Allah ilmu bisa kita dapatkan. Karena itu kami berharap peserta memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” lanjutnya.
Sebagai perusahaan yang menaruh perhatian besar pada isu lingkungan, Murseno kembali mengingatkan bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan tepat.
“Sampah bisa menjadi masalah besar jika dibiarkan, tetapi jika dikelola dengan baik, justru bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bernilai,” tegasnya.

Pelatihan resmi dibuka oleh Camat Tualang, Mursal, S.Sos., yang hadir dengan gaya komunikatif dan karismatik. Suaranya tegas namun penuh ajakan, membuat peserta merasa terlibat dalam misi besar ini.
“Masalah sampah ini tidak bisa lagi kita pandang sebelah mata. Kalau dulu sampah dianggap sebagai kotoran, hari ini kita belajar bahwa sampah justru bisa diolah, dimanfaatkan, bahkan menghasilkan uang. Kita sudah punya bank sampah, dan saya ingin setiap desa mulai membentuk kelompok pengelola sampah sendiri,” ujarnya.
Mursal juga menyinggung persoalan minimnya lapangan kerja di tengah masyarakat.
“Setiap tahun ribuan anak tamat SMA dan S1, tapi perusahaan yang bisa menampung mereka sangat terbatas. Di sinilah pentingnya kreativitas. Melalui pelatihan ini saya berharap muncul ide-ide baru, usaha baru, dan semangat baru dari masyarakat,” ungkapnya.
Ia pun mengingatkan agar pelatihan tidak hanya menjadi agenda seremonial tanpa dampak nyata.
“Jangan hanya datang, dapat baju dan uang saku, lalu pulang tanpa perubahan. Ilmu hari ini harus dipraktikkan. Sampah itu bukan beban kalau dikelola dengan benar, justru menjadi peluang,” tambahnya.
Menutup sambutannya, ia menyerahkan “estafet perubahan” kepada para peserta.
“Setelah pelatihan ini, saya berharap masyarakat benar-benar bergerak. Kalau perlu, bentuk satu kelompok usaha dari peserta hari ini. Mulailah dari sampah rumah tangga sendiri. Dari sinilah kemandirian itu tumbuh,” tutupnya.
Dengan dukungan PT IKPP Perawang Mill, perusahaan besar yang terus membuktikan kepeduliannya terhadap pendidikan dan lingkungan, pelatihan ini menjadi lebih dari sekadar ruang belajar. Ia adalah awal dari gerakan baru.
Gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa sampah dapat menjadi sumber ekonomi. Gerakan yang tumbuh dari kreativitas masyarakat. Gerakan yang, semoga, membuka jalan menuju kemandirian.

Tulis Komentar