Bea Cukai Aceh Dorong Aceh Jadi Hub Perdagangan Global di Wilayah Barat Indonesia
KILASRIAU.com, Banda Aceh – Kanwil Bea Cukai Aceh menegaskan komitmennya mendukung terwujudnya Aceh sebagai pusat perdagangan global dalam Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Naskah Akademik Master Plan Pengembangan Ekonomi “Aceh Sebagai Lokomotif Ekonomi Indonesia Wilayah Barat” yang diselenggarakan Kantor Bappeda, Banda Aceh.
Mewakili Kanwil Bea Cukai Aceh, Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Asral Efendi memaparkan peluang besar Aceh sebagai transhipment hub dan gateway ekspor-impor Indonesia bagian barat.
Posisi strategis Aceh di ujung barat Indonesia yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka, jalur pelayaran tersibuk di dunia, Aceh memiliki potensi menjadi simpul penting perdagangan internasional yang terhubung langsung dengan pasar ASEAN, India, dan Timur Tengah.
- PMI Inhil Gelar Rapat Kerja 2026, Perkuat Sinergi Pelayanan Kesehatan dan Kemanusiaan
- Kemnaker Transformasikan BPVP Jadi Mini Campus yang Adaptif dan Modern
- Ekspose Percepatan Pembangunan dan Manajemen Talenta ASN, Bupati Inhil Dorong Pengembangan Karier Berbasis Kompetensi
- Nawakara Perkuat Kapabilitas Rescue dan Jejaring Global melalui Partisipasi dalam 2nd Mission of Light Challenge di China
- Jelang Penutupan MagangHub Batch III, Kemnaker Imbau Peserta, Mentor, dan Operator Lengkapi Tahapan Akhir
Asral menyoroti beragam fasilitas dan insentif kepabeanan, seperti Tempat Penimbunan Berikat (TPB), Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Fasilitas ini menawarkan pembebasan atau penangguhan bea masuk, pembebasan PDRI, serta insentif pajak untuk mendorong investasi dan pengembangan industri.
Bea Cukai Aceh turut menampilkan capaian ekspor daerah, termasuk ekspor kembali CPO melalui Pusat Logistik Berikat (PLB) Agro Murni di Lhokseumawe, serta keberhasilan lima UMKM binaan menembus pasar internasional ke negara seperti China, Jepang, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Rusia.
"Pentingnya peningkatan kualitas data ekspor sebagai bahan bakar kebijakan baik secara nasional maupun pada tingkat daerah serta optimalisasi infrastruktur pelabuhan, termasuk rencana pembukaan jalur laut Lhokseumawe–Penang yang nantinya dapat mendorong perdagangan lintas negara, dan juga menjelaskan tentang skema fasilitas carnet,"ujarnya.
FGD ini dihadiri perwakilan Bank Indonesia, BPKS, Dinas Perhubungan Aceh, akademisi, dan tokoh masyarakat, yang bersama-sama membahas strategi menjadikan Aceh sebagai lokomotif ekonomi Indonesia wilayah barat.

Tulis Komentar