Ratusan Hektar Lahan Milik Masyarakat Tercancam Mati, Diduga Akibat Limpahan Air dari PT SAGM
KILASRIAU.com - Masyarakat Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), mengeluh karena tidak melakukan penanaman padi dan perkebunan banyak yang rusak karena persawahan terendam air.
Meluapnya debit air ini diduga akibat limpahan dari air PT. Setia Agrindo Mandiri (SAGM), sehingga lahan perkebunan dan pertanian milik masyarakat Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), terancam mati.
Menurut keterangan dari warga setempat yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan, wilayah dusun Tasik Pilang dan dusun Panglima dalam lima tahun terakhir tidak ada aktivitas perkebunan maupun pertanian yang dilakukan oleh masyarakat di sana.
- Kejar Target TMMD ke-130, Kodim 0314/Inhil Kebut Pembangunan RTLH di Desa Kuala Lemang
- Atasi Kesulitan Air Bersih, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0314/Inhil Kejar Pembangunan MCK di Kuala Lemang
- Ketua RT 22 Tamrani Buka Suara! Hasil Investigasi Media di Parit 9, Kabel dan Meteran Listrik Warga Disebut Masih Utuh
- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia WALHI Riau Ancam Ruang Hidup, Warga Riau dan Kepri Desak Pemerintah Cabut Izin Tambang Serta PSN
- Antisipasi Karhutla, Polsek Reteh Terima Bantuan Peralatan Pemadam Kebakaran dari PT Bumipalma Lestaripersada
"Sejak perusahaan ini masuk di wilayah kami ini lebih kurang 5 tahun terakhir perkebunan kami hancur, pertanian ratusan hektar juga tidak bisa lagi difungsikan, karena air dari perusahaan turunnya ke daerah kami, sehingga menenggelamkan pertanian maupun perkebunan," katanya saat diwawancarai wartawan di lokasi lahan yang memang terlihat genangan air, Kamis (29/9/22).
Kemudian ia menambahkan dulunya di daerah ini salah satu penghasi buah kelapa, dan tidak hanya itu, hasil persawahannya juga melimpah. Namun saat ini bisa dilihat tidak ada yang bisa digarap ataupun untuk ditanami masyarakat.
"Yang biasanya ratusan ton, ya kan, sekarang jangankan ratusan ton, satu biji pun tidak kami dapatkan, dari padi. Belum lagi dari palawijanya biasanya kami nanam jagung nanam kacang sekarang tidak bisa sama sekali," keluhnya.
Selanjutnya dia menuturkan, sejauh ini sebagai masyarakat tempatan dia sudah pernah menyampaikan keluhannya kepada aparat desa dan pemerintah kecamatan. Namun sampai saat ini belum ada yang turun langsung ke lokasi.
"Kami sudah menyampaikan persoalan ini kepada pihak Desa dan pemerintah kecamatan, namun mereka belum ada yang turun ke sini, melihat langsung kondisi kami," tukasnya.
Terakhir, ia berharap dengan adanya informasi ini, semoga masyarakat bisa membantu mengatasi keluhan masyarakat yang selama ini belum menemukan solusi.
"Kami memohon kepada pemerintah untuk bagaimana supaya ini bisa seperti semula," tuturnya.
Sementara itu, secara terpisah, Manager PT SAGM melalui Humas PT SAGM Darma saat di konfirmasi wartawan via telepon dan WhatsApp belum merespon.
Sampai berita ini diterbitkan, pihak media masih menunggu informasi atau jawaban dari pihak perusahaan.

Tulis Komentar