Mahasiswa KUKERTA UNRI Tanamkan Budaya Anti-Perundungan di SMPN 6 Sentajo Raya, Bangun Sekolah Aman Sejak Hari Pertama MPLS

foto: tim mahasiswa KKN UNRI/rh. (doc. kilasriau.com)

 

MUARA LANGSAT (KilasRiau.com) — Setiap anak datang ke sekolah dengan membawa harapan yang sederhana, tetapi sangat berharga. Mereka datang membawa mimpi yang masih bersih, rasa ingin tahu yang belum habis, dan keyakinan bahwa sekolah adalah rumah kedua tempat mereka bertumbuh. Namun, di balik riuh tawa dan langkah-langkah kecil menuju ruang kelas, selalu ada kemungkinan lahirnya luka yang tak terlihat—luka yang bukan berasal dari jatuh di halaman sekolah, melainkan dari kata-kata yang menyakitkan, ejekan yang dianggap candaan, pengucilan yang perlahan menggerus rasa percaya diri, hingga tindakan perundungan yang meninggalkan bekas jauh lebih lama daripada memar di tubuh.

Kesadaran bahwa setiap anak berhak belajar tanpa rasa takut itulah yang menggerakkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau (UNRI) untuk hadir di SMPN 6 Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, Kamis (16/7/2026). Di tengah rangkaian hari keempat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi peserta didik baru kelas VII, mereka membawa sesuatu yang lebih penting daripada sekadar materi presentasi: mereka membawa pesan tentang kemanusiaan, empati, dan keberanian untuk berkata bahwa tidak ada tempat bagi perundungan di sekolah.

Pagi itu, ruang sekolah bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah sosialisasi. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, harapan, dan nilai-nilai kehidupan yang hendak diwariskan kepada generasi muda. Sebuah ruang di mana mahasiswa dan siswa duduk dalam satu lingkaran pembelajaran, saling berbagi cerita tentang bagaimana menghargai sesama manusia.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB itu dibuka langsung oleh Kepala SMPN 6 Sentajo Raya, Ritzalona. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kepedulian mahasiswa KUKERTA UNRI yang memilih menghadirkan pendidikan karakter sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, masa pengenalan lingkungan sekolah bukan hanya momentum memperkenalkan ruang kelas, tata tertib, ataupun guru-guru yang akan mendampingi para siswa selama tiga tahun ke depan. Lebih dari itu, MPLS merupakan kesempatan pertama untuk memperkenalkan nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi fondasi budaya sekolah.

"Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa KUKERTA UNRI yang telah meluangkan waktu untuk berbagi ilmu di sekolah kami. Edukasi anti-bullying ini sangat penting, terutama di masa MPLS, agar anak-anak kita memahami batasan dalam bergaul sehingga tercipta lingkungan sekolah yang aman, nyaman, serta penuh rasa kekeluargaan," ujarnya.

Sambutan itu menjadi penanda bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya mengajarkan cara menghitung angka atau menyusun kalimat. Pendidikan juga mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang mampu menjaga perasaan manusia lain.

Memasuki sesi inti, dua mahasiswa KUKERTA UNRI, Rahmat Hidayat dan Annisa Fitri, tampil sebagai narasumber. Mereka tidak datang dengan gaya menggurui. Sebaliknya, mereka memilih mendekati para siswa melalui bahasa yang akrab dengan dunia remaja.

Suasana yang semula dipenuhi wajah-wajah malu perlahan berubah menjadi hangat melalui sesi ice breaking. Gelak tawa mulai terdengar. Rasa canggung menghilang sedikit demi sedikit. Dari permainan sederhana itu, terbangun sebuah kedekatan yang membuat setiap peserta merasa dihargai dan diterima.

Barulah setelah suasana mencair, pembicaraan beralih kepada persoalan yang lebih serius.

Rahmat dan Annisa menjelaskan bahwa bullying bukan hanya tentang memukul atau mendorong teman. Bullying dapat hadir dalam bentuk ejekan yang terus diulang, julukan yang merendahkan, pengucilan dari kelompok pertemanan, penyebaran kabar bohong, hingga penghinaan melalui media sosial. Banyak tindakan yang selama ini dianggap sekadar candaan ternyata mampu meninggalkan luka yang tidak kasatmata.

Untuk memperkuat pemahaman para siswa, mahasiswa KUKERTA menayangkan video edukasi yang menggambarkan dampak nyata perundungan terhadap kehidupan korban. Tayangan itu membuat ruangan sejenak hening. Di balik layar yang memutar kisah-kisah sederhana, para siswa diajak memahami bahwa satu kalimat yang diucapkan tanpa empati bisa menjadi beban yang dipikul seseorang selama bertahun-tahun.

Rahmat Hidayat kemudian mengajak seluruh peserta melihat persoalan bullying bukan sebagai kesalahan individu semata, melainkan sebagai tanggung jawab bersama.

"Kami berharap materi yang disampaikan hari ini bisa menjadi bekal berharga bagi adik-adik kelas VII. Harapannya, mereka semakin sadar terhadap tindakan-tindakan perundungan yang sering kali tidak disadari, baik itu secara verbal maupun non-verbal. Bullying adalah perilaku tercela yang harus kita cegah dan hindari bersama," tegasnya.

Pesan itu disampaikan dengan sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam: keberanian terbesar seorang pelajar bukanlah ketika ia mampu mengejek teman-temannya hingga ditertawakan banyak orang, melainkan ketika ia berani menghentikan ejekan itu meski harus berdiri sendirian.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Pada sesi diskusi, sejumlah siswa mengangkat tangan, bertanya tentang cara menghadapi pelaku bullying, bagaimana membantu teman yang menjadi korban, serta langkah melapor kepada guru apabila menyaksikan tindakan perundungan di sekolah.

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pertanda bahwa benih kesadaran mulai tumbuh. Bahwa anak-anak yang baru beberapa hari mengenakan seragam SMP itu mulai memahami satu hal penting: sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan apabila setiap orang bersedia menjaga hati orang lain.

Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan saat ini, kegiatan sederhana yang dilakukan mahasiswa KUKERTA UNRI sesungguhnya membawa pesan yang jauh lebih besar. Mereka mengingatkan bahwa membangun sekolah yang berkualitas tidak hanya dimulai dari pembangunan gedung atau penyediaan fasilitas belajar, tetapi juga dari keberhasilan membangun budaya saling menghormati.

Karena sesungguhnya, peradaban tidak lahir dari ruang-ruang yang dipenuhi ketakutan. Peradaban tumbuh dari ruang belajar yang menghadirkan rasa aman, tempat setiap anak bebas bermimpi tanpa takut ditertawakan, bebas bertanya tanpa takut direndahkan, dan bebas menjadi dirinya sendiri tanpa khawatir dihakimi.

Melalui sosialisasi ini, mahasiswa KUKERTA Berdampak Universitas Riau tidak sekadar menjalankan program pengabdian kepada masyarakat. Mereka sedang menanam benih-benih empati di hati generasi muda. Benih yang kelak diharapkan tumbuh menjadi pohon persaudaraan, tempat setiap anak dapat berteduh dari kerasnya dunia.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah sekolah bukan hanya diukur dari berapa banyak siswanya meraih nilai sempurna, tetapi juga dari berapa banyak anak yang pulang ke rumah dengan senyum yang tetap utuh, hati yang tetap hangat, dan keyakinan bahwa sekolah adalah tempat paling aman untuk menjadi manusia.*(ald)






Tulis Komentar