Di Bawah Langit Kampung, Kawan Lama Satu Sekolah Merawat Ingatan yang Tak Pernah Usang
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Malam turun perlahan di kampung, membawa serta udara yang tenang dan cahaya lampu yang bersahaja. Di bawah naungan pohon kelapa yang menjulang, sebuah meja kayu tua berdiri apa adanya, menjadi titik temu bagi kenangan yang lama berkelana. Di sanalah Anes Parian, Ronaldo Rozalino, Eka Putra, dan Aldian Syahmubara duduk berhadap-hadapan—kawan lama, satu sekolah, yang kembali dirajut oleh waktu dan kepulangan.
Tak ada sambutan resmi, tak pula kata-kata pembuka yang disiapkan. Kepulangan seorang sahabat lama ke kampung halaman cukup menjadi alasan bagi malam itu untuk hidup. Pesan singkat, kabar yang beredar sederhana, lalu langkah-langkah kaki pun berujung di meja yang sama. Selebihnya, waktu seolah paham betul apa yang harus ia lakukan: melambat, memberi ruang bagi cerita-cerita lama untuk kembali bernapas.
Gelas-gelas kopi tersaji dengan rasa yang akrab di lidah. Asapnya naik perlahan, seakan membawa serta ingatan yang pernah disimpan rapi di sudut kepala. Tentang bangku sekolah yang keras, papan tulis yang berdebu, guru-guru yang dulu terasa galak namun kini dikenang dengan senyum, serta masa-masa remaja yang penuh kegelisahan sekaligus keberanian. Semua kembali mengalir, tanpa dipaksa, tanpa takut dihakimi.
Di meja itu, mereka tak sedang membicarakan siapa yang paling berhasil, siapa yang paling jauh melangkah. Tak ada lomba pencapaian, tak ada perbandingan nasib. Yang hadir hanyalah manusia-manusia yang pernah tumbuh bersama, pernah duduk di ruang kelas yang sama, pernah menertawakan hal yang sama, dan pernah memimpikan masa depan dengan cara yang polos.
“Waktu memang memisahkan kita, tapi tidak pernah benar-benar menjauhkan,” ucap Ronaldo, salah seorang di antara mereka, lirih namun terasa dalam. Kalimat itu melayang di udara malam, lalu jatuh pelan ke hati masing-masing. Sebab setiap dari mereka tahu, hidup telah membawa jalan yang berbeda-beda—ada yang merantau, ada yang bertahan, ada yang berputar mencari arah—namun ikatan itu tetap tinggal, menunggu waktu yang tepat untuk disapa kembali.
Tawa pecah di sela-sela obrolan, menertawakan kisah lama yang dulu terasa besar, kini justru menghangatkan. Panggilan-panggilan lama kembali digunakan, seolah tahun-tahun tak pernah benar-benar berlalu. Di situlah keajaiban persahabatan bekerja: ia tak menuntut pertemuan yang sering, cukup satu malam yang jujur untuk menghidupkannya kembali.
Pembicaraan kemudian beranjak pada hari ini—tentang keluarga yang kini menjadi pusat semesta, tentang tanggung jawab yang kian berat, tentang dunia di luar kampung yang keras dan tak selalu ramah. Dari sanalah pulang menemukan maknanya. Bukan sekadar kembali ke tanah kelahiran, tetapi kembali pada rasa diterima tanpa syarat, pada percakapan yang tak perlu berpura-pura kuat.
Di tengah zaman yang bergerak cepat dan kerap membuat manusia saling asing, pertemuan ini menjadi semacam perlawanan sunyi. Duduk lama, berbicara pelan, dan saling mendengar adalah kemewahan yang tak tercatat dalam daftar prestasi, namun menyelamatkan banyak hal di dalam diri. Di meja kayu sederhana itu, solidaritas dirawat tanpa slogan, persahabatan dijaga tanpa janji berlebihan.
Malam kian larut. Lampu tetap menyala setia, kopi tinggal menyisakan ampas, dan angin kampung berembus ringan. Namun tak satu pun tampak tergesa untuk beranjak. Seolah mereka sepakat, diam-diam, untuk menyimpan momen ini lebih lama—sebagai bekal ketika esok hari kembali memanggil dengan segala tuntutannya.
Akhirnya, ketika perpisahan tak terhindarkan, mereka berdiri dengan perasaan yang lebih utuh. Tak ada ikrar panjang, tak ada pelukan dramatis. Cukup jabat tangan, senyum, dan keyakinan bahwa pertemuan ini bukan yang terakhir—karena persahabatan sejati tak pernah benar-benar pergi.
Di bawah langit kampung yang tenang, empat kawan lama membuktikan satu hal penting: bahwa kenangan tidak menua, dan persaudaraan yang tumbuh sejak bangku sekolah akan selalu menemukan jalannya untuk pulang, selama hati masih menyediakan ruang untuk saling mengingat.*(ald)


Tulis Komentar