Di Antara Kopi dan Niat Baik: Dod Endrygo alias Datuk Mangkuto Jilelo (DMJ) dan Eka Putra, Dua Jalan Menuju Negeri yang Maju

foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Meja itu tetap sederhana. Tak lebih dari alas bagi cangkir kopi, botol air mineral, dan camilan yang disentuh seperlunya. Namun di sanalah Pagi itu menemukan maknanya. Duduk berhadap-hadapan, Dod Endrygo—yang akrab disapa Datuk Mangkuto Jilelo (DMJ)—dan Eka Putra membiarkan waktu berjalan perlahan, seolah dunia di luar sengaja diredupkan agar percakapan bisa bernapas lebih panjang.

Dod Endrygo alias DMJ adalah wajah pengusaha muda yang tumbuh dari kerja, bukan sekadar wacana. Ia memahami dunia usaha sebagai jalan sunyi yang menuntut keberanian dan ketekunan. Jatuh bangun adalah bagian dari pelajaran, sementara kepercayaan adalah mata uang paling mahal. Baginya, usaha bukan semata soal laba, melainkan tentang nilai—tentang bagaimana sebuah ikhtiar dapat memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Di hadapannya, Eka Putra duduk dengan ketenangan seorang birokrat yang telah lama bersentuhan dengan denyut masyarakat. Ia terbiasa berjalan di antara aturan dan kenyataan, di antara harapan warga dan keterbatasan kebijakan. Namun pagi itu, ia hadir tanpa sekat jabatan. Ia datang sebagai insan yang ingin berbagi pandangan, mendengar kegelisahan, dan mencari titik temu.

Percakapan mengalir tanpa naskah. DMJ berbicara tentang generasi muda yang memiliki semangat tetapi kerap kehilangan arah. Tentang potensi lokal yang besar, namun belum sepenuhnya mendapat ruang. Ia menyinggung pentingnya keberanian negara dan daerah dalam memberi kepercayaan kepada anak-anak muda untuk tumbuh, berusaha, dan gagal tanpa stigma.

Eka Putra mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia menanggapi dengan bahasa yang sederhana, jauh dari kesan birokratis. Ia berbagi pengalaman tentang upaya menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat, lebih mendengar, dan lebih peka terhadap kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, birokrasi sejatinya adalah alat, bukan tujuan—jembatan yang menghubungkan gagasan dengan kenyataan.

Asap rokok melayang pelan, menyatu dengan senyap yang sarat makna. Di sela-sela jeda itu, tumbuh kesadaran bersama: negeri ini tidak akan bergerak maju jika setiap peran berjalan sendiri-sendiri. Pengusaha tanpa kebijakan yang berpihak akan tertatih, sementara kebijakan tanpa keberanian pelaku usaha hanya akan menjadi arsip.

DMJ meyakini, pengusaha muda harus menempatkan diri sebagai bagian dari solusi. Usaha harus menjadi ruang tumbuh bersama, membuka kesempatan kerja, dan menghidupkan ekonomi rakyat. Sementara Eka Putra percaya, birokrasi harus terus menanggalkan ego, membuka ruang dialog, dan memastikan kebijakan berpijak pada realitas, bukan semata angka di atas kertas.

Pagi kian merambat menuju Siang. Cahaya menerang, percakapan semakin meninggalkan terang di pikiran dan hati. Tak ada janji besar yang diumbar, tak ada komitmen yang dituliskan. Namun dari meja sederhana itu, lahir satu harapan yang diyakini bersama—bahwa perubahan besar kerap berawal dari dialog kecil yang jujur.

Di antara kopi yang mulai dingin dan tawa yang tersisa, Dod Endrygo alias Datuk Mangkuto Jilelo (DMJ) dan Eka Putra meninggalkan pesan yang senyap namun kuat: memajukan negeri bukan hanya tugas jabatan atau dunia usaha, melainkan panggilan nurani.

Sebuah panggilan untuk berjalan bersama, saling memahami peran, dan menumbuhkan kepercayaan—demi negeri yang bergerak maju, dari percakapan sederhana yang lahir dengan ketulusan.*(ald)






Tulis Komentar