Pesona Jembatan Gentala Arasy: Simfoni Senja dan Jejak Peradaban di Atas Batanghari

foto: safar/ist. (doc. Kilasriau.com)

JAMBI (KilasRiau.com) — Saat matahari perlahan turun ke ufuk barat, cahaya jingga memantul di permukaan Sungai Batanghari. Angin berembus pelan, membawa aroma sungai yang menyimpan ribuan cerita masa lalu. Di momen itulah, Jembatan Gentala Arasy menunjukkan pesonanya—tenang, anggun, dan penuh makna.

Jembatan pedestrian yang membentang di atas Sungai Batanghari ini telah menjelma menjadi ikon wisata Kota Jambi. Bukan sekadar penghubung dua daratan, Gentala Arasy adalah ruang publik yang hidup, tempat warga melepas penat, wisatawan berburu keindahan, dan sejarah berjumpa dengan denyut kehidupan modern.

Dengan desain melengkung menyerupai huruf “S”, Jembatan Gentala Arasy tampak unik dan berbeda. Panjangnya membentang ratusan meter, dirancang khusus untuk pejalan kaki. Dari atas jembatan, mata pengunjung dimanjakan oleh hamparan Sungai Batanghari—sungai terpanjang di Sumatera—yang sejak dahulu menjadi nadi peradaban masyarakat Jambi.

Di pagi hari, jembatan ini ramai oleh warga yang berolahraga ringan. Sementara sore menjelang malam, suasananya berubah lebih romantis. Lampu-lampu jembatan mulai menyala, menciptakan siluet indah yang kerap diabadikan kamera pengunjung.

“Kalau ke Jambi belum ke Gentala Arasy, rasanya belum lengkap,” ujar salah seorang pengunjung, sembari mengabadikan senja dengan gawainya. Ahad (28/12/2025).

Di salah satu ujung jembatan berdiri kokoh Menara Gentala Arasy, menjulang tinggi sebagai penanda peradaban dan identitas budaya. Menara ini bukan hanya ornamen kota, tetapi juga menyimpan museum yang merekam jejak sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Tanah Pilih Pusako Betuah.

Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan berbagai koleksi artefak budaya, manuskrip, hingga replika yang menggambarkan perjalanan panjang masyarakat Jambi. Menara ini seolah menjadi saksi bisu, menjaga nilai-nilai sejarah agar tak hanyut bersama arus zaman.

Gentala Arasy juga menghadirkan kehidupan ekonomi rakyat. Di sekitar kawasan jembatan, pedagang kaki lima menjajakan aneka kuliner lokal. Aroma jagung bakar, kopi panas, dan jajanan tradisional berpadu dengan tawa pengunjung yang menikmati suasana malam.

Bagi sebagian warga, kawasan ini bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga ruang mencari nafkah. Gentala Arasy memberi denyut ekonomi sekaligus ruang interaksi sosial yang terbuka bagi semua kalangan.

Lebih dari sekadar destinasi wisata, Jembatan Gentala Arasy menjadi simbol harmoni—antara masa lalu dan masa kini, antara alam dan manusia. Ia mengajarkan bahwa pembangunan tak harus menghapus identitas, melainkan bisa berjalan seiring dengan pelestarian budaya.

foto: Net

Di atas jembatan ini, orang-orang berjalan tanpa sekat. Anak-anak berlari kecil, pasangan muda berbincang pelan, orang tua duduk menikmati senja. Semua menyatu dalam satu ruang yang sama, di bawah langit Jambi yang ramah.

Saat malam kian larut dan lampu jembatan memantul di permukaan sungai, Gentala Arasy seolah berbisik pelan: bahwa keindahan sebuah kota bukan hanya pada bangunannya, tetapi pada cerita dan kehidupan yang tumbuh di sekitarnya.

foto: Net

Dan di Kota Jambi, cerita itu mengalir tenang—seperti Batanghari—di bawah lengkung anggun Jembatan Gentala Arasy.*(ald)






Tulis Komentar