Tangis Haru Ibunda Cici Herfiyuli, Apresiasi Camat Kuantan Tengah di Hari Ibu
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Tangis itu pecah perlahan, tanpa aba-aba. Mata seorang ibu yang sejak tadi menahan getar, akhirnya tak sanggup membendung rasa. Di ruang Kantor Camat Kuantan Tengah, Senin (22/12/2025), momen Hari Ibu menjelma menjadi peristiwa penuh haru, ketika sebuah prestasi anak desa disambut dengan penghargaan dan pelukan emosional seorang ibu.

Pada peringatan Hari Ibu tersebut, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, memberikan apresiasi khusus kepada Cici Herfiyuli—putri terbaik asal Kenegerian Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau—melalui kedua orang tuanya.
Penghargaan itu bukan sekadar simbolis, melainkan pengakuan atas perjalanan panjang seorang anak daerah yang melangkah hingga ke Thailand, mewakili Indonesia dalam ajang SEA Games Thailand 2025 pada cabang olahraga Sepak Takraw.
Saat nama Cici disebut, sang ibu, Agustina Linda, tak kuasa menahan air mata. Tangis haru mengalir sebagai luapan syukur, bangga, dan bahagia—perasaan yang hanya dapat dipahami sepenuhnya oleh seorang ibu yang menyaksikan anaknya tumbuh dari keterbatasan menuju panggung internasional.
“Ini bukan hanya kebanggaan keluarga, tetapi kebanggaan Kuantan Tengah,” ujar Camat Eka Putra dengan suara tenang namun sarat makna.
Ia menegaskan, prestasi Cici menjadi bukti bahwa anak-anak daerah memiliki potensi besar, asalkan diberi ruang, dukungan, dan kepercayaan.
Cici Herfiyuli merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, sekaligus si bungsu dari keluarga sederhana pasangan Kamiswan dan Agustina Linda.
Sejak kecil, ia dikenal gigih dan disiplin. Jalan menuju prestasi tak pernah mudah, namun ia menapakinya dengan ketekunan dan keberanian untuk bermimpi besar.
Lulusan Universitas Lancang Kuning tahun 2022 ini menyandang gelar Sarjana Administrasi Publik (S.AP). Di tengah kesibukan akademik, Cici tetap setia menekuni dunia olahraga. Konsistensinya membuahkan kepercayaan sebagai atlet Sepak Takraw hingga akhirnya menembus level nasional dan internasional.
Dukungan keluarga menjadi fondasi utama. Sang ayah, Kamiswan, tampak berkaca-kaca saat bercerita di momen itu. Aulia Sa’idah, kakak ipar Cici, yang duduk tak jauh dari kedua orang tua, turut larut dalam kebanggaan keluarga besar mereka.
Bagi Agustina Linda, Hari Ibu tahun ini bukan sekadar perayaan seremonial atau ungkapan simbolik. Ia menjadi pengingat bahwa di balik setiap prestasi, selalu ada kerja sunyi seorang ibu—sering kali luput dari perhatian, kebijakan, bahkan statistik pembangunan.
Apresiasi yang diberikan Camat Kuantan Tengah pada momen Hari Ibu itu sejatinya adalah pernyataan sikap. Bahwa negara—melalui pemerintah paling dekat dengan rakyat—tidak boleh terus-menerus hadir hanya saat panggung telah tersedia.
Prestasi Cici Herfiyuli menyentil kenyataan bahwa banyak anak desa bertalenta yang berjalan sendiri, berjuang tanpa sistem pembinaan yang memadai, tanpa jaminan keberlanjutan, bahkan tanpa sekadar pengakuan.
Penghargaan ini menjadi penting bukan karena nilainya, tetapi karena pesan moral yang dikandungnya: anak daerah tidak kekurangan mimpi, yang kerap kurang adalah keberpihakan.
Pandangan tersebut diperkuat oleh tokoh masyarakat Kuantan Singingi, Rahman Ali, yang menilai capaian Cici sebagai keberhasilan kolektif sekaligus cermin pekerjaan rumah bersama.
Menurutnya, prestasi internasional yang diraih anak daerah seharusnya menjadi alarm sosial—bukan hanya bahan perayaan.
“Prestasi Cici bukan hanya kebanggaan keluarga, tetapi kebanggaan Kuantan Singingi. Namun kita juga harus jujur melihat bahwa di balik pencapaian ini, ada perjuangan panjang keluarga dan doa seorang ibu yang berjalan tanpa banyak dukungan sistem. Hari Ibu seharusnya mengingatkan kita bahwa keberhasilan anak selalu bertaut dengan keteguhan ibu, dan pemerintahan wajib hadir lebih awal, bukan datang setelah berhasil,” ujar Rahman Ali.
Di penghujung perbincangan di sebuah warung di Teluk Kuantan usai acara tersebut, ruangan kembali hening sejenak. Tangis sang ibu kembali hadir. Dan memang telah reda, namun maknanya menetap—tentang cinta orang tua yang tak pernah meminta balasan, tentang pengorbanan yang kerap tak tercatat dalam laporan, dan tentang seorang anak bungsu dari Kopah yang hari ini membawa nama Indonesia ke negeri seberang.
Prestasi Cici berdiri sebagai pengingat: bahwa dari desa-desa yang sunyi, harapan terus tumbuh, meski sering kali dibiarkan mencari jalannya sendiri.
Hari Ibu pun tak lagi sekadar seremoni tahunan. Ia menjelma cermin—yang memantulkan cinta seorang ibu, sekaligus pertanyaan sunyi tentang sejauh mana negara benar-benar hadir sebelum air mata kebanggaan itu jatuh.*(ald)


Tulis Komentar