MOJO D'ROCK: Lelaki Biasa dengan Jejak Luar Biasa

foto: Fauzi (Gagal Dilepas). Mojo D'rock saat manggung di malam Grand Final Pemilihan Edukatif Putra Putri Kuansing. Sabtu (20/12/2025) di Gedung SMAN Pintar Provinsi Riau di Teluk Kuantan/ist. (doc.kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Di Kuantan Singingi, kita sering berpapasan dengan orang-orang yang tampak biasa. Mereka lewat di hadapan kita tanpa sorotan, tanpa panggung, tanpa tepuk tangan. Namun siapa sangka, di balik kesederhanaan itu, ada kisah panjang tentang mimpi, perjalanan, dan pengabdian yang jarang terucap. Zul Achyar—atau yang dahulu dikenal sebagai Zul Achyar Indragiri—adalah satu di antara mereka.

Ia menamatkan pendidikan STM pada tahun 1992/1993 (SMKN 1 Teluk Kuantan, sekarang). Sebuah masa ketika pilihan hidup sering kali ditentukan oleh kebutuhan, bukan kemewahan cita-cita. Ia melangkah ke dunia perkuliahan, memilih program Komputer, sebelum akhirnya menyelesaikan pendidikan di Universitas Bung Hatta, jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP).

Jalan hidupnya tak lurus, tapi justru itulah yang membentuknya.
Kini, ia dikenal sebagai perangkat desa. Setiap hari bersentuhan dengan masyarakat, urusan administrasi, dan denyut kehidupan kampung.

Namun di luar jam tugas, jiwanya hidup dalam dua hal: moto (mengambil gambar foto) dan menulis berita. Dua dunia yang tampak berbeda, namun sama-sama menuntut kepekaan, keberanian, dan ketekunan.

Tak banyak yang tahu, Zul pernah menjadi bagian dari dunia media nasional. Ia bekerja di TRANS TV, salah satu televisi swasta terbesar di Indonesia, di bawah kepemimpinan Bapak Chairul Tanjung. Sebuah pencapaian yang bagi sebagian orang adalah puncak karier. Namun bagi Zul, panggilan hati jauh lebih keras dari gemerlap ibu kota.

Ia memilih mengundurkan diri dari perusahaan, bukan karena kalah, bukan karena gagal, melainkan karena rindu. Rindu pada Tepian Narosa, pada udara kampung halaman, pada tanah yang membesarkannya. Ia pulang, membawa pengalaman, bukan penyesalan.

Di dunia musik, jejaknya tak kalah panjang. Zul Achyar pernah berduet dengan Namara Surtikanti, atau yang lebih dikenal sebagai Kikan, vokalis grup band Cokelat. Ia juga pernah bersama Ikmal Tobing, drummer legendaris yang namanya melekat pada T.R.I.A.D, Mahadewa, dan Ahmad Dani Band.

Di ranah musik Minang dan lokal, ia bersua dan berkarya dengan Anroys, Andra Respati, dan David Istambul. Bersama mereka, ia tidak sekadar tampil, tapi mencipta. Lagu demi lagu lahir, mengalir dari keresahan, kegembiraan, dan kecintaan pada daerah.

Siapa sangka, salah satu karyanya paling fenomenal adalah “Supiar Oto”. Lagu ini telah ditonton lebih dari 3 juta kali di kanal YouTube Kuantan Record. Lagu itu di-cover oleh banyak orang, dinyanyikan ulang, bahkan menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Banyak yang menyanyikannya, tapi tak semua tahu siapa penciptanya.

Bersama Kuantan Record Family, Zul Achyar melahirkan karya-karya yang menjelma identitas. Lagu “Jayalah Negriku”, khusus dipersembahkan untuk Kabupaten Kuantan Singingi, menjadi simbol kebanggaan daerah.

Sementara karya nya dengan judul “Pacu Jalur (Bapacu Jalur Urang di Kuantan)” menggambarkan betapa dahsyatnya budaya, semangat, dan warisan leluhur yang hidup di sungai-sungai Kuantan.

Ironisnya, semakin karyanya dikenal, sosoknya justru kian merendah. Dalam keseharian, kita mengenalnya sebagai:
abang tukang paket,
abang tukang ojek,
abang tukang endorse produk,
atau sekadar abang yang lewat dan menyapa.

Tak ada atribut seniman. Tak ada gelar maestro. Tak ada pengakuan yang ia tuntut.
Di antara kita, ia dijuluki Mr. X—sosok penuh misteri.

Bukan karena ingin disembunyikan, tapi karena ia memilih untuk tidak menonjolkan diri. Ia membiarkan karyanya berjalan sendiri, menemukan pendengarnya sendiri.

Hingga akhirnya, di penghujung tahun 2025, misteri itu perlahan terbuka.
Di panggung Grand Final Pemilihan Edukasi Putra Putri Kuansing 2025, dengan kehadiran Camat Eka Putra, S.Sos., M.Si., serta Ibu Guru BK Ruri Tika Kumala Dewi, S.Pd, sosok itu berdiri di hadapan publik. Tak lagi di balik layar. Tak lagi sekadar nama di balik lagu.

Hari itu, kita menyadari satu hal penting:
bahwa orang besar tidak selalu berdiri di tempat tinggi.
bahwa karya hebat tidak selalu lahir dari sorotan.

Dan para penggemarnya, dengan penuh keyakinan, menyebut satu nama: MOJO D'ROCK.

Bukan sekadar julukan.
Ia adalah simbol ketulusan berkarya.
Simbol pulang ke akar.
Simbol bahwa dari Kuansing, lahir karya-karya yang hidup, tumbuh, dan dicintai.

Ia ada di sekitar kita.
Ia adalah kita.
Dan kini, namanya tak lagi misteri.

D'rock...!!! *(ald)






Tulis Komentar