5 Hektare Habitat Gajah dan Harimau di TNTN Riau Terbakar
KILASRIAU.com - Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Pelalawan, Riau mengalami kebakaran yang dahsyat. Seluas 5 hektare lahan yang merupakan habitat gajah dan harimau sumatera itu.
Kepala TNTN Heru Sutmantoro mengatakan lahan seluas 5 hektare dalam kawasan itu terbakar pada Sabtu (19/4) malam. Kebakaran itu pertama kali dilaporkan masyarakat dan petugas TNTN.
"Kebakaran lahan TNTN seluas 5 hektare dan itu baru diketahui dari pantauan warga dan petugas kita. Lokasi yang terbakar itu rawan gangguan masyarakat," ujar Heru, Senin (21/4).
- Di Tengah Anggaran Ratusan Miliar Rehabilitasi Mangrove, Ribuan Hektare Kebun Kelapa Inhil Terus Rusak, Satwa Liar Mulai Turun ke Permukiman
- Tanaman Pekarangan Dan Jagung Pipil Untuk Ketahanan Pangan Indonesia Dari Indragiri Hulu
- Mahasiswa KKN Universitas Riau Laksanakan Penanaman dan Penyerahan TOGA kepada Pemerintah Desa Sako
- Perkuat Benteng Pesisir Sekaligus Dorong Ekonomi Masyarakat
- Polres Inhil Bersama Forkopimda Tanam 5.000 Bibit Mangrove Serentak dan di 21 Polsek Jajaran Peringati Hari Mangrove Sedunia
Menurut Heru lahan yang terbakar itu merupakan lahan mineral. Mirisnya, lahan itu dirambah masyarakat dengan cara tradisional untuk selanjutnya dijadikan perkebunan kelapa sawit.
Heru menyebutkan, pemadaman sendiri mengalami kendala karena keterbatasan akses. Tapi, api berhasil padam setelah turun hujan deras.
"Alhamdulillah terbantu dengan adanya hujan, kebakaran dapat padam dan ini upaya penyelidikan bersama kepolisian. Yang jelas TNTN itu ya ditanami sawit. Dulunya hutan, dibuka, semak belukar dan mau dibuka lagi, sudah dibersihkan," jelas Heru.
Pelaku perambahan ternyata mengelabui petugas saat meninggalkan kawasan TNTN usai pemadaman dan patroli. Mereka membuka lahan saat para petugas selesai patroli.
"Masyarakat cari celah petugas. Kita selalu kucing-kucingan sama perambah. Tahu petugas kita balik, mereka buka," terang Heru.
Perlu diketahui, Kawasan TNTN merupakan habitat harimau dan gajah sumatera. Kawasan itu mulai menyempit akibat perambahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

Tulis Komentar