Jika Ingin Menjadi Negara Maju Indonesia Harus Kerjakan PR
KILASRIAU.com - Perekonomian Indonesia masih berada dalam kelas berkembang. Jika ingin naik kelas menjadi negara maju, RI harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR) terbesarnya.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, PR besar yang belum pernah selesai dikerjakan oleh Indonesia adalah industrialisasi. Padahal PR itu yang menjadi batu loncatan jika ingin naik kelas.
"Bagaimana bisa, kita belum kerjakan 1 PR besar yaitu industrialisasi," ujarnya dalam sebuah seminar di Energy Building, Jakarta, Kamis (22/11/2018).
- Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026
- Kemnaker–Transjakarta Teken MoU, Buka Akses Kerja di Sektor Transportasi
- Menaker: Pemerintah Perkuat Perlindungan Pekerja melalui Regulasi Pembatasan Alih Daya
- Diduga MBG di Tuah Madani Tak Layak, Siswa Terima Pisang Mentah, Layanan Pengaduan Bungkam
- Listrik Jakarta Berulangkali Padam, IWO: Dirut PLN Tak Kenal Budaya Mundur, Harus Dicopot dan Diperiksa!
Bambang menjelaskan, padahal Indonesia pernah merasakan dampak positif dati industrialisasi pada periode 1990 hingga 1998. Di periode itu pertumbuhan ekonomi Indonesia juga mencapai titik tertingginya yakni 7-8% per tahun.
"Pertumbuhan itu bukan semata-mata komoditas. Memang saat itu yang kuat 1 oil and gas serta kayu. Kita ekspor pengolahan kayu. Tapi di atas itu yang membuat Indonesia disebut Macan Asia itu karena manufaktur," tambahnya.
Memang saat itu Indonesia terbilang beruntung. Jepang sebuah negara industri yang sangat maju mulai merelokasi industri-industrinya.
Asia Tenggara menjadi target relokasi dari industri Jepang. Targetnya adalah Indonesia, Thailand dan Malaysia. Akhirnya Jepang kepincut dengan Indonesia lantaran upah buruh yang murah.
"Upah buruh kita paling rendah sehingga mereka berbondong-bondong masuk ke Indonesia," tambahnya.
Saat masuknya gelombang industri Jepang ke Indonesia, sumbangsih sektor manufaktur ke PDB mencapai hampir 30%. Padahal jika sumbangsih manufaktur ke PDB lebih dari 30% negara itu sudah bisa disebut negara industrial.
Sayangnya, pada 1998 Indonesia terhantam krisis ekonomi. Anjloknya nilai tukar rupiah membuat banyak perusahaan termasuk industri bangkrut lantaran banyaknya utang luar negeri.
Setelah krisis dan masuk masa pemulihan, Indonesia justru pulih lantaran 2 komoditas yakni batu bara dan kelapa sawit. Saat itu memang 2 negara dengan ekonomi besar yakni China dan India haus akan energi.
Indonesia juga dianggap terlalu agresif untuk memanfaatkan batu bara. Sebab Indonesia bukan merupakan produsen batu bara terbesar, tapi Indonesia malah menjadi negara eksportir batu bara terbesar.
"Jadi kita ada tendensi over eksploitasi," ungkapnya.
Karena terbuai dengan 2 komoditas itu, akhirnya Indonesia lupa bahwa pernah merasakan nikmatnya industrialisasi. Indonesia juga belum selesai mengembangkan industrialisasi.
"Padahal coba cek semua negara maju, di luar negara Arab yang kaya minyak, ekonomi besar itu negara yang sumbangan manufakturnya signifikan," tegasnya.
Bambang memandang yang terjadi di Indonesia saat ini bukan re-industrialisasi melainkan prematur industrialisasi. Kontribusi manufaktur terhadap PDB juga saat ini hanya 20%.

Tulis Komentar