Epi Martison Ingatkan Generasi Muda: Jangan Sampai Modernitas Membuat Kita Kehilangan Akar Budaya

Epi Martison Ingatkan Generasi Muda: Jangan Sampai Modernitas Membuat Kita Kehilangan Akar Budaya
foto: istimewa

RIAU (KilasRiau.com) – Di tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi, ada satu hal yang tidak boleh dibiarkan hanyut: identitas kebudayaan sendiri. Kamis (5/11/2026).

Kemajuan zaman memang membuka pintu menuju dunia yang semakin luas. Teknologi berkembang, informasi bergerak tanpa batas, dan generasi muda semakin mudah mengakses berbagai kebudayaan dari belahan dunia. Namun, di balik semua kemudahan itu, tersimpan pertanyaan mendasar: apakah manusia yang semakin modern masih mengenali akar kebudayaannya sendiri?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika seniman performans terkemuka Indonesia, Melati Suryodarmo, menerima Lifetime Achievement Award sekaligus menyampaikan Pidato Kebudayaan dalam perhelatan Nandur Srawung #13 Tahun 2026 di Taman Budaya Yogyakarta.

Momentum itu turut mengundang perhatian Epi Martison, seorang seniman nasional yang selama ini menaruh perhatian terhadap pelestarian adat, tradisi, bahasa, dan kebudayaan.

Melalui pesan tertulis yang disampaikan lewat WhatsApp pribadinya kepada Redaksi KilasRiau.com, Epi memberikan dorongan sekaligus refleksi kepada generasi muda zaman sekarang agar tidak kehilangan jati diri di tengah perubahan zaman.

Dengan bahasa Melayu yang sarat metafora dan kearifan lokal, ia menulis:

"Dek Goduak lupo bahaso induak ..
Dek arok hamburger tebang tggi godok ubi di tangan belopehkan..
Mokonyo kunya dulu coruah2 sabolun bapitaruah..
Panas tembaga jgn dituang bila dituang melepuh diri,adat adab kearifan seni dan budaya hrs kita julang kita jaga kita tumbuhkembangkan agar bs menjadi perisai prestasi anak negri," tulis Epi.

Ungkapan tersebut bukan sekadar permainan kata atau romantisme terhadap masa lalu. Di dalamnya terkandung kritik kebudayaan yang cukup mendasar: manusia boleh mengenal dunia, tetapi jangan sampai asing terhadap rumah kebudayaannya sendiri.

Modernitas Bukan Alasan Meninggalkan Identitas

Pesan Epi tentang bahasa ibu, hamburger, dan ubi menyimpan perumpamaan yang menarik.

Hamburger menjadi simbol dunia modern dan pengaruh kebudayaan luar, sementara ubi merepresentasikan sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat sendiri.

Persoalannya bukan pada hamburger ataupun ubi. Bukan pula tentang mempertentangkan kebudayaan asing dengan kebudayaan lokal.

Yang menjadi kegelisahan adalah ketika seseorang begitu bersemangat mengejar sesuatu yang datang dari luar, tetapi justru melepaskan sesuatu yang telah membentuk identitas dirinya.

Dalam perspektif kebudayaan, keterbukaan terhadap dunia seharusnya berjalan beriringan dengan kesadaran terhadap akar tradisi.

Sebab, modernitas tanpa identitas berpotensi melahirkan generasi yang mahir mengikuti perubahan, tetapi gagap memahami asal-usulnya.

Epi juga mengingatkan pentingnya adat, adab, dan kearifan lokal sebagai fondasi kehidupan.

Baginya, seni dan budaya tidak cukup hanya dipuji dalam seremoni, dipajang dalam festival, atau dijadikan ornamen dalam agenda pariwisata. Keduanya harus dijulang, dijaga, dan ditumbuhkembangkan agar menjadi kekuatan sekaligus perisai bagi prestasi anak negeri.

Mengenal Diri Sebelum Mengukur Dunia

Dalam pesan lainnya, Epi menyampaikan kalimat pendek yang mengandung filosofi kehidupan.

"Mengenal diri, mempelajari diri dan pada akhirnya kita tau diri...kuuriikii," katanya dengan gaya selorohnya.

Kalimat tersebut sesungguhnya menyentuh persoalan mendasar dalam pembentukan karakter manusia.

Mengenal diri merupakan permulaan kesadaran. Mempelajari diri adalah proses memahami sejarah, lingkungan, nilai, dan identitas. Sementara tahu diri merupakan bentuk kematangan dalam menempatkan diri di tengah kehidupan sosial dan kebudayaan.

Di tengah budaya populer yang sering mendorong seseorang berlomba menjadi seperti orang lain, pesan itu mengingatkan bahwa pencarian jati diri tidak boleh berhenti pada keinginan untuk terlihat modern.

Ada nilai yang harus dipahami, ada sejarah yang perlu dirawat, dan ada kebudayaan yang mesti diwariskan.

Generasi muda tidak harus menolak dunia luar untuk mencintai kebudayaannya sendiri. Sebaliknya, mereka perlu memiliki pengetahuan yang cukup agar mampu berdiri sejajar dalam pergaulan global tanpa kehilangan identitas.

JALUAR, JALUE, PAGHAU: Lebih dari Sekadar Persoalan Istilah

Bagian paling menarik dari pesan Epi adalah kegelisahannya mengenai penggunaan istilah dalam tradisi budaya.

Ia menulis:

"Saelok dan sebedogok di JALUAR, Jalue, Paghau..??? Lebih ada terasa punya roh budaya sendiri..., tapi dek nak moderen betukar ble dgn JALUR.., kalau jalur kan sudah banyak di jakarta. Ada jalur cepat, jalur lambat, jalur sepeda,jalur kreta api, jalur distribusi, eksibisi, jalur prestasi dan banyk lagi jalur lain-lainnya..kuuriikii."

Di balik selorohnya, terdapat pesan serius mengenai hubungan antara bahasa dan identitas kebudayaan.

Istilah Jaluar, Jalue, dan Paghau bukan sekadar persoalan penyebutan. Bagi Epi, istilah-istilah tersebut menghadirkan rasa kedekatan dengan tradisi dan identitas kebudayaan masyarakat setempat.

Sementara penggunaan istilah Jalur yang semakin populer dapat dibaca sebagai bagian dari perkembangan bahasa dan komunikasi publik.

Namun, pertanyaan yang ingin diangkat Epi lebih jauh dari sekadar benar atau salah dalam penggunaan istilah.

Apakah dalam upaya memperkenalkan tradisi kepada dunia, kita masih memberikan ruang bagi bahasa dan istilah yang lahir dari rahim kebudayaan sendiri?

Pertanyaan ini menjadi penting, terutama ketika tradisi Pacu Jalur semakin dikenal luas sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat Kuantan Singingi, Riau.

Pacu Jalur bukan semata-mata perlombaan perahu panjang di sepanjang Sungai Kuantan. Di dalamnya terdapat sejarah kolektif, kerja bersama, pengetahuan tradisional, nilai gotong royong, seni, serta identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, menjaga istilah lokal bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman. Justru, pengenalan istilah dan bahasa asli dapat memperkaya cara dunia memahami kebudayaan suatu daerah.

Kebudayaan Jangan Hanya Hidup dalam Festival

Pesan Epi Martison membawa kita pada persoalan yang lebih luas: bagaimana memastikan kebudayaan tetap hidup di tengah perubahan sosial?

Kebudayaan tidak boleh hanya hadir ketika festival diselenggarakan, ketika pejabat memberikan sambutan, atau ketika kamera media mengabadikan sebuah pertunjukan.

Ia harus hidup dalam pendidikan keluarga, lingkungan masyarakat, ruang kreatif, lembaga pendidikan, dan kesadaran generasi muda.

Anak-anak perlu mengenal bahasa ibunya. Generasi muda perlu memahami sejarah daerahnya. Para seniman perlu mendapatkan ruang untuk bereksperimen, sementara pemerintah dan institusi kebudayaan perlu membangun ekosistem yang memungkinkan tradisi berkembang tanpa kehilangan substansinya.

Di sinilah pesan Epi menemukan relevansinya dengan gagasan kebudayaan yang disampaikan Melati Suryodarmo dalam Nandur Srawung #13.

Keduanya, melalui sudut pandang dan bahasa yang berbeda, menghadirkan persoalan yang beririsan: bagaimana manusia membangun kesadaran atas dirinya sendiri, mempertahankan kebebasan berekspresi, dan tidak kehilangan identitas di tengah perjumpaan berbagai kebudayaan.

Penghargaan kepada Melati merupakan pengakuan terhadap perjalanan panjang seorang seniman dalam mengembangkan bahasa artistiknya. Sementara pesan Epi merupakan pengingat bahwa kekuatan kebudayaan juga tumbuh dari kesadaran masyarakat untuk mengenali, merawat, dan mewariskan identitasnya.

Pada akhirnya, kebudayaan tidak membutuhkan generasi yang sekadar pandai mengulang masa lalu. Kebudayaan membutuhkan generasi yang mampu memahami warisan leluhurnya, mengolahnya secara kreatif, lalu membawanya menuju masa depan.

Sebab, menjadi modern bukan berarti harus menjadi orang lain.

Kita boleh terbang tinggi mengenal dunia, tetapi jangan sampai lupa bahasa ibu. Kita boleh menikmati hamburger, tetapi jangan meremehkan ubi yang tumbuh di tanah sendiri.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang kehilangan masa lalunya demi mengejar masa depan, melainkan bangsa yang mampu menjadikan akar sejarah dan kebudayaannya sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh.*(ald)