Ketika Insinyur Memiliki Jiwa Seniman dan Arsitek Memahami Kebudayaan

Ketika Insinyur Memiliki Jiwa Seniman dan Arsitek Memahami Kebudayaan
foto: doc. kilasriau.com

Apakah bangunan akan lebih manusiawi jika dirancang oleh orang yang memahami teknik, seni, alam, dan kebudayaan sekaligus?

 

KilasRiau.com - Apakah seorang seniman dapat disebut arsitek?

Apakah seorang insinyur dapat disebut seniman?

Adakah insinyur yang memiliki jiwa seniman?

Dan adakah arsitek yang sekaligus seorang budayawan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tampaknya sedang mencari batas antara profesi. Padahal sesungguhnya ia sedang mencari sesuatu yang jauh lebih penting: batas antara keahlian dan kebijaksanaan.

Sebab seseorang mungkin sangat ahli menghitung kekuatan struktur, tetapi belum tentu mampu merasakan bagaimana sebuah ruang akan diterima manusia.

Seseorang mungkin sangat mahir membuat bentuk yang indah, tetapi belum tentu memahami bagaimana bangunan itu bekerja terhadap iklim.

Seseorang mungkin memahami sejarah dan adat, tetapi belum tentu mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam teknologi bangunan masa kini.

Karena itu, persoalannya bukan apakah insinyur boleh disebut seniman atau seniman boleh disebut arsitek.

Persoalannya adalah: apakah orang yang membangun ruang kehidupan manusia memiliki cukup pengetahuan untuk memahami manusia itu sendiri?

 

Insinyur Tidak Harus Menjadi Seniman, Tetapi Perlu Memiliki Rasa

Insinyur bekerja dengan logika.

Ia menghitung.

Ia mengukur.

Ia menguji.

Ia memastikan sesuatu dapat berdiri dan berfungsi.

Itu sangat penting.

Bangunan yang indah tetapi roboh bukan karya seni yang berhasil. Ia adalah bencana yang kebetulan mempunyai desain bagus.

Tetapi dunia tidak hanya membutuhkan bangunan yang berdiri.

Kita membutuhkan bangunan yang layak dihuni, menyenangkan, aman, sesuai lingkungan, dan memiliki hubungan dengan masyarakat.

Di sinilah rasa menjadi penting.

Seorang insinyur tidak harus menjadi pelukis untuk memahami keindahan.

Ia tidak harus menjadi pematung untuk memahami bentuk.

Ia tidak harus menjadi budayawan untuk menghormati tradisi.

Tetapi semakin luas wawasan seorang insinyur, semakin besar kemungkinan ia memahami bahwa angka-angka yang dihitungnya pada akhirnya akan menjadi ruang tempat manusia menjalani kehidupan.

Di balik satu meter beton ada kehidupan manusia.

Di balik satu tiang ada ruang berkumpul.

Di balik satu jendela ada cahaya dan angin.

Di balik satu atap ada perlindungan.

Dan di balik sebuah bangunan publik ada masyarakat yang akan menggunakannya bertahun-tahun.

Karena itu teknik seharusnya tidak berdiri sendirian.

Ia harus berdialog dengan seni.

 

Arsitek Tidak Harus Menjadi Budayawan, Tetapi Tidak Boleh Buta Budaya

Begitu pula arsitek.

Tidak semua arsitek harus menjadi budayawan.

Tetapi arsitek yang merancang bangunan di tengah masyarakat tidak boleh buta terhadap kebudayaan masyarakat tersebut.

Sebab setiap tempat mempunyai sejarah.

Setiap masyarakat mempunyai ingatan.

Setiap daerah mempunyai cara sendiri dalam memahami ruang.

Ada ruang yang dianggap sakral.

Ada ruang untuk bermusyawarah.

Ada ruang untuk menerima tamu.

Ada ruang untuk bekerja.

Ada ruang untuk merayakan kehidupan.

Ada pula ruang yang secara ekologis sangat penting meskipun secara ekonomi tidak menghasilkan apa-apa.

Arsitek yang tidak memahami semua itu bisa saja menghasilkan bangunan yang secara teknis sangat sempurna, tetapi secara sosial terasa seperti tamu yang salah alamat.

Ia berdiri di tengah masyarakat, tetapi tidak berbicara dengan masyarakat.

 

Bagaimana Jika Insinyur, Seniman, Arsitek dan Budayawan Duduk Bersama?

Di sinilah muncul gagasan yang menarik.

Bayangkan sebuah bangunan dirancang bukan hanya oleh arsitek dan insinyur, tetapi sejak awal melibatkan seniman, budayawan, ahli lingkungan, dan masyarakat pengguna.

Arsitek memikirkan ruang.

Insinyur memikirkan struktur dan teknologi.

Seniman memikirkan rasa, estetika dan ekspresi.

Budayawan membaca sejarah, simbol dan identitas.

Ahli lingkungan memikirkan daya dukung alam.

Masyarakat menyampaikan kebutuhan nyata mereka.

Bukankah hasilnya berpotensi jauh lebih kaya?

Bangunan tidak lagi hanya menjawab pertanyaan:

"Apakah bisa dibangun?"

Tetapi juga:

"Apakah dibutuhkan?"

"Apakah nyaman?"

"Apakah sesuai dengan lingkungan?"

"Apakah memiliki identitas?"

"Apakah dapat digunakan masyarakat?"

"Apakah dapat dirawat?"

Dan pertanyaan yang paling penting:

"Apakah bangunan ini akan dicintai oleh masyarakat yang menggunakannya?"

Sebab bangunan yang dicintai cenderung dirawat.

Bangunan yang dirawat akan bertahan.

Dan bangunan yang bertahan dapat menjadi bagian dari memori kolektif.

 

Selera Rakyat Jangan Dianggap Rendah

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam pembangunan:

selera masyarakat.

Dalam dunia perancangan, istilah "selera rakyat" kadang diperlakukan seperti sesuatu yang kurang akademis.

Seolah-olah rakyat hanya tahu menggunakan bangunan, sedangkan para ahli tahu bagaimana seharusnya bangunan dibuat.

Di sinilah kesombongan profesional bisa dimulai.

Masyarakat memang tidak selalu memahami perhitungan struktur.

Mereka mungkin tidak mengerti gambar teknis.

Mereka tidak harus memahami seluruh teori arsitektur.

Tetapi mereka memahami sesuatu yang sering kali tidak diajarkan di universitas:

mereka tahu apakah sebuah tempat terasa milik mereka atau bukan.

Mereka tahu apakah ruang itu nyaman.

Mereka tahu apakah bangunan itu cocok dengan kehidupan mereka.

Mereka tahu apakah tradisi mereka dihormati.

Mereka tahu apakah anak-anak mereka betah berada di sana.

Mereka tahu apakah bangunan itu terasa asing.

Karena itu masyarakat bukan sekadar pengguna akhir.

Masyarakat adalah bagian dari proses penciptaan ruang.

 

Bangunan yang Ramah Lingkungan Tidak Cukup Diberi Label "Hijau"

Kita juga harus berhati-hati dengan istilah "ramah lingkungan".

Sebuah bangunan tidak otomatis ramah lingkungan hanya karena memiliki taman di halaman atau menempelkan istilah green building dalam proposal.

Ramah lingkungan seharusnya dimulai sejak pertanyaan paling dasar:

Apakah bangunan ini memang perlu?

Bagaimana ia ditempatkan?

Berapa banyak pohon yang harus dikorbankan?

Dari mana materialnya?

Bagaimana bangunan merespons panas?

Bagaimana ia mengelola air?

Bagaimana sirkulasi udaranya?

Berapa banyak energi yang dibutuhkan?

Dan yang tidak kalah penting:

apakah bangunan ini dapat bertahan lama tanpa membebani lingkungan dan masyarakat?

Orang dahulu mungkin tidak mengenal istilah green architecture.

Tetapi banyak bangunan tradisional justru lahir dari keterpaksaan untuk hidup secara bijaksana bersama alam.

Karena sumber daya terbatas, mereka belajar menggunakan secukupnya.

Karena teknologi terbatas, mereka belajar memanfaatkan angin dan cahaya.

Karena material mahal, mereka belajar merawat dan memperpanjang usia bangunan.

Keterbatasan melahirkan kebijaksanaan.

Sementara kelimpahan kadang melahirkan pemborosan.

 

Seni dan Budaya Tidak Boleh Hanya Menjadi Ornamen

Jika kita benar-benar ingin membangun masyarakat yang mencintai seni dan budaya, maka seni dan budaya tidak boleh hanya ditempelkan pada bangunan setelah konstruksi selesai.

Jangan setelah gedung berdiri baru bertanya:

"Di mana motif tradisionalnya?"

Lalu ditempelkan ukiran.

Selesai.

Itu bukan integrasi kebudayaan.

Itu dekorasi.

Kebudayaan harus hadir sejak gagasan pertama.

Bagaimana ruang tersebut digunakan?

Apakah ada ruang untuk pertunjukan seni?

Apakah ada tempat bagi masyarakat berkumpul?

Apakah seniman lokal mendapat ruang berekspresi?

Apakah anak-anak dapat belajar budaya di sana?

Apakah tradisi dapat terus dipraktikkan?

Apakah bangunan tersebut memungkinkan kebudayaan berkembang?

Kalau jawabannya ya, maka arsitektur telah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada menciptakan bangunan.

Ia telah menciptakan ekosistem kebudayaan.

 

Masa Depan Arsitektur Mungkin Justru Membutuhkan Kolaborasi

Karena itu, mungkin masa depan arsitektur bukan tentang siapa yang paling hebat secara individual.

Bukan arsitek melawan insinyur.

Bukan seniman melawan teknolog.

Bukan budayawan melawan modernitas.

Yang kita butuhkan adalah perjumpaan berbagai pengetahuan.

Arsitek membawa kemampuan merancang ruang.

Insinyur membawa ketepatan teknis.

Seniman membawa kepekaan.

Budayawan membawa ingatan.

Ahli lingkungan membawa kesadaran ekologis.

Masyarakat membawa pengalaman hidup.

Jika semua itu bertemu, kita mungkin mendapatkan sesuatu yang selama ini hilang dari banyak pembangunan:

bangunan yang tidak hanya benar, tetapi juga bermakna.

Sebab peradaban tidak diukur dari berapa banyak gedung yang mampu kita bangun.

Peradaban juga terlihat dari bagaimana kita membangun dan untuk siapa kita membangun.

Dan mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:

"Siapa yang paling berhak merancang?"

Lalu menggantinya dengan pertanyaan yang lebih penting:

"Siapa saja yang harus didengar sebelum kita mulai membangun?"

Sebab sebuah bangunan akan berdiri di tanah masyarakat.

Akan digunakan oleh masyarakat.

Akan dilihat oleh anak-anak mereka.

Akan menjadi bagian dari lanskap hidup mereka.

Maka tidak seharusnya keputusan tentang ruang hidup manusia hanya lahir dari meja gambar.

Ia harus lahir dari perjumpaan antara ilmu, seni, kebudayaan, alam dan suara masyarakat.

Barangkali di situlah kita akan menemukan kembali arsitektur yang dahulu dimiliki leluhur kita:

tidak selalu megah,

tidak selalu mahal,

tetapi bersahaja, berguna, dicintai, dirawat, dan memiliki hubungan yang jelas dengan tempat di mana ia berdiri.

Dan kalau suatu hari insinyur memiliki jiwa seniman, arsitek memiliki kesadaran budayawan, seniman memahami ruang, budayawan memahami perubahan zaman, dan semuanya mau mendengarkan masyarakat serta alam, maka mungkin kita tidak sekadar akan menghasilkan bangunan yang lebih indah.

Kita mungkin sedang membangun sesuatu yang jauh lebih penting:

ruang yang membantu seni tumbuh, budaya bertahan, alam bernapas, dan manusia merasa pulang.

Sebab pada akhirnya, arsitektur terbaik bukan yang paling keras berbicara tentang dirinya sendiri.

Arsitektur terbaik adalah yang membuat manusia, alam, dan kebudayaan dapat berbicara satu sama lain.*(ald)

 

Source: Epi Martison, seniman budayawan nasional lulusan institut kesenian jakarta.