Manifesto Arsitektur dan Kebudayaan

Manifesto Arsitektur dan Kebudayaan
foto: doc. kilasriau.com

Membangun Ruang, Merawat Peradaban

KilasRiau.com - Ada masa ketika manusia membangun rumah dengan terlebih dahulu membaca alam.

Sekarang kita membaca brosur.

Ada masa ketika orang bertanya kepada angin, matahari, hujan, sungai dan tanah sebelum menentukan bagaimana sebuah bangunan didirikan.

Sekarang pertanyaan pertama sering kali:

Berapa anggarannya?

Kemudian:

Berapa lantainya?

Kemudian:

Seperti apa tampilannya agar terlihat modern?

Barangkali tidak ada yang salah dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Yang salah adalah ketika hanya pertanyaan itulah yang kita ajukan.

Sebab bangunan bukan sekadar proyek.

Bangunan adalah keputusan kebudayaan.

Ia menentukan bagaimana manusia bergerak, bertemu, bekerja, berkumpul, mengingat, belajar dan mewariskan nilai.

Karena itu, setiap kali kita membangun sebuah gedung, sesungguhnya kita sedang menulis sebagian kecil sejarah.

Pertanyaannya: sejarah seperti apa yang sedang kita tulis?

Kami percaya arsitektur bukan hanya persoalan membuat bangunan berdiri.

Struktur memang harus kuat.

Perhitungan harus benar.

Material harus tepat.

Keselamatan tidak boleh ditawar.

Tetapi bangunan yang kuat belum tentu manusiawi.

Bangunan yang mahal belum tentu bermartabat.

Bangunan yang megah belum tentu berbudaya.

Dan bangunan yang modern belum tentu maju.

Arsitektur adalah pertemuan antara ilmu, seni, manusia, alam dan kebudayaan.

Karena itu arsitek tidak cukup hanya memahami ruang.

Ia harus memahami manusia yang akan hidup di dalam ruang tersebut.

Kami tidak percaya profesi harus saling berebut wilayah.

Insinyur tidak harus menjadi arsitek.

Arsitek tidak harus menjadi seniman.

Seniman tidak harus menjadi budayawan.

Tetapi semua profesi yang terlibat dalam penciptaan ruang kehidupan manusia membutuhkan satu kemampuan yang sama:

kepekaan.

Insinyur membutuhkan kepekaan terhadap manusia.

Arsitek membutuhkan kepekaan terhadap budaya.

Seniman membutuhkan pemahaman terhadap ruang.

Budayawan membutuhkan keterbukaan terhadap perubahan.

Dan semuanya membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak ada satu disiplin ilmu yang mampu memahami kehidupan secara sendirian.

Maka kami percaya:

kolaborasi bukan kelemahan profesi. Kolaborasi adalah tanda kedewasaan pengetahuan.

Terlalu sering masyarakat diposisikan sebagai penerima.

Gedung dirancang oleh ahli.

Anggaran ditentukan oleh pengambil keputusan.

Kemudian masyarakat diberitahu:

"Inilah bangunan untuk Anda."

Kami ingin membalik cara berpikir itu.

Masyarakat bukan sekadar pengguna akhir.

Masyarakat adalah sumber pengetahuan.

Mereka mengetahui kebutuhan ruangnya.

Mereka mengetahui kebiasaan sosialnya.

Mereka mengetahui tradisinya.

Mereka mengetahui apa yang membuat mereka nyaman.

Mereka mengetahui ruang mana yang hidup dan ruang mana yang akan mati.

Karena itu, suara masyarakat harus hadir sejak awal.

Bukan setelah bangunan selesai.

Ada kecenderungan menganggap selera masyarakat sebagai sesuatu yang harus "dididik" oleh para ahli.

Kami tidak sepenuhnya setuju.

Masyarakat mungkin tidak memahami perhitungan struktur.

Mungkin tidak menguasai teori arsitektur.

Tetapi masyarakat mempunyai pengalaman hidup.

Mereka tahu bagaimana panas terasa.

Mereka tahu bagaimana hujan turun.

Mereka tahu bagaimana sebuah ruang digunakan.

Mereka tahu bagaimana sebuah tempat membuat mereka merasa diterima atau justru terasing.

Karena itu, selera rakyat bukan sesuatu yang harus ditertawakan.

Ia perlu dibaca.

Diolah.

Dikritisi.

Dan dihormati.

Bukan dituruti secara mentah, tetapi juga bukan diabaikan secara arogan.

Kami menolak cara berpikir yang menganggap tanah sebagai ruang kosong yang menunggu untuk dibangun.

Tidak ada tanah yang benar-benar kosong.

Di dalamnya ada air.

Ada pohon.

Ada angin.

Ada sejarah.

Ada kehidupan.

Ada ekosistem.

Ada ingatan masyarakat.

Maka sebelum bertanya:

"Apa yang bisa kita bangun di sini?"

kita harus bertanya:

"Apa yang sudah hidup di sini?"

Inilah titik awal arsitektur ekologis yang sesungguhnya.

Bukan sekadar memasang panel surya.

Bukan sekadar membuat taman.

Bukan sekadar memberi label green building.

Tetapi memahami bahwa bangunan adalah tamu di dalam ekosistem.

Kami tidak ingin masa lalu menjadi penjara.

Rumah adat tidak harus disalin mentah.

Motif tradisional tidak harus ditempel pada setiap dinding.

Atap lama tidak harus dipaksakan ke setiap bangunan baru.

Kostum dahulu tidak harus digunakan persis seperti dahulu.

Sebab kebudayaan bukan museum.

Kebudayaan adalah kehidupan yang terus bergerak.

Yang harus diwariskan bukan sekadar bentuk.

Tetapi cara berpikir di balik bentuk.

Bagaimana leluhur membaca alam.

Bagaimana mereka menggunakan material.

Bagaimana mereka mengatur ruang.

Bagaimana mereka membangun kebersamaan.

Bagaimana mereka memberi makna pada warna, bentuk dan simbol.

Itulah yang harus diterjemahkan.

Masa lalu tidak perlu disalin.

Masa lalu perlu dipahami.

Kami juga menolak kebiasaan menjadikan budaya sebagai kosmetik pembangunan.

Tempelkan ukiran.

Tambahkan motif tradisional.

Pasang warna adat.

Kemudian klaim:

"Bangunan ini berbudaya."

Tidak sesederhana itu.

Kebudayaan bukan ornamen.

Kebudayaan adalah cara manusia menggunakan ruang dan memberi makna kepadanya.

Jika sebuah bangunan memiliki ukiran tradisional tetapi tidak menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menjalankan tradisinya, maka mungkin yang kita lestarikan hanya bentuk.

Bukan kebudayaan.

Jika sebuah gedung disebut pusat kebudayaan tetapi seniman lokal tidak mempunyai ruang untuk berkarya, maka kita harus bertanya:

pusat kebudayaan untuk siapa?

Kami membayangkan arsitektur yang tidak hanya menyediakan atap.

Tetapi menyediakan kemungkinan.

Kemungkinan seniman berkarya.

Kemungkinan anak-anak belajar.

Kemungkinan masyarakat bertemu.

Kemungkinan tradisi dipraktikkan.

Kemungkinan musik dimainkan.

Kemungkinan tari tumbuh.

Kemungkinan cerita diwariskan.

Dengan demikian, sebuah gedung kebudayaan bukan sekadar tempat pertunjukan.

Ia menjadi ekosistem kebudayaan.

Sebab seni tidak tumbuh dari slogan.

Seni tumbuh dari ruang.

Dari kesempatan.

Dari perjumpaan.

Dari kebebasan.

Dari masyarakat yang merasa memiliki.

Kita membutuhkan arsitektur yang paling relevan.

Modern bukan berarti seragam.

Modern bukan berarti kaca.

Modern bukan berarti beton.

Modern bukan berarti tinggi.

Modern adalah kemampuan menjawab persoalan zaman dengan pengetahuan yang tersedia.

Sebuah rumah kayu dapat sangat modern jika ia hemat energi, nyaman, adaptif terhadap iklim dan mampu menjawab kebutuhan penghuninya.

Sebaliknya, gedung pencakar langit dapat sangat tidak modern jika ia boros energi, merusak lingkungan dan tidak memiliki hubungan dengan masyarakat.

Karena itu:

jangan ukur kemajuan arsitektur dari ketinggian bangunan.

Ukur dari kedalaman kebijaksanaannya.

Sebuah bangunan yang baik bukan hanya bangunan yang selesai dibangun.

Ia adalah bangunan yang kemudian:

digunakan,

dirawat,

dihormati,

dicintai,

dan diwariskan.

Inilah ukuran yang sering hilang dalam pembangunan modern.

Kita terlalu sibuk menghitung biaya pembangunan.

Tetapi jarang menghitung biaya kehilangan rasa memiliki.

Padahal bangunan yang tidak dicintai masyarakat pada akhirnya akan menjadi beban.

Bangunan yang tidak digunakan menjadi monumen kesia-siaan.

Bangunan yang tidak dirawat menjadi bangkai anggaran.

Dan bangunan yang tidak memiliki hubungan dengan masyarakat akan kehilangan alasan untuk bertahan.

Maka kami percaya:

Pertama, arsitektur adalah bagian dari kebudayaan, bukan sekadar pekerjaan konstruksi.

Kedua, teknologi harus melayani manusia dan alam, bukan membuat manusia semakin jauh dari keduanya.

Ketiga, arsitek, insinyur, seniman, budayawan, ahli lingkungan dan masyarakat harus dipertemukan dalam proses penciptaan ruang publik.

Keempat, warisan budaya tidak boleh diperlakukan sebagai ornamen tempelan.

Kelima, arsitektur harus membaca karakter tempat: iklim, lanskap, sejarah, material, masyarakat dan kebudayaan.

Keenam, pembangunan harus meninggalkan ruang bagi seni untuk tumbuh dan kebudayaan untuk berkembang.

Ketujuh, masyarakat harus dipandang sebagai pemilik makna ruang, bukan sekadar konsumen bangunan.

Kedelapan, modernitas tidak boleh berarti menghapus identitas lokal.

Kesembilan, keberlanjutan bukan slogan pemasaran, melainkan tanggung jawab moral terhadap generasi yang belum lahir.

Kesepuluh, ukuran keberhasilan sebuah bangunan bukan hanya apakah ia selesai dibangun, tetapi apakah ia mampu hidup bersama masyarakat setelah peresmian selesai.

Pada akhirnya, persoalan arsitektur adalah persoalan tentang manusia.

Kita bisa membangun gedung dengan anggaran miliaran.

Tetapi apakah masyarakat merasa memilikinya?

Kita bisa membuat bangunan dengan desain paling mutakhir.

Tetapi apakah ia bersahabat dengan iklim?

Kita bisa menempelkan motif adat pada dinding.

Tetapi apakah nilai kebudayaan hidup di dalamnya?

Kita bisa membuat ruang publik yang megah.

Tetapi apakah masyarakat benar-benar berkumpul di sana?

Jika jawabannya tidak, mungkin yang kita bangun hanyalah benda.

Bukan ruang kehidupan.

Karena itu kami ingin mengembalikan satu pertanyaan sederhana ke tengah perdebatan pembangunan:

Untuk siapa kita membangun?

Jika jawabannya adalah manusia, maka manusia harus didengar.

Jika jawabannya adalah masyarakat, maka masyarakat harus dilibatkan.

Jika jawabannya adalah masa depan, maka alam harus dipertimbangkan.

Jika jawabannya adalah kebudayaan, maka sejarah harus dipahami.

Dan jika jawabannya adalah peradaban, maka ilmu, seni dan kebijaksanaan harus duduk dalam satu meja.

Sebab kita tidak sedang membangun gedung.

Kita sedang membangun cara manusia hidup.

Kita sedang menentukan apakah anak cucu kita kelak akan melihat bangunan-bangunan hari ini sebagai warisan yang membanggakan atau sekadar tumpukan beton dari sebuah generasi yang pernah memiliki teknologi, tetapi kehilangan kebijaksanaan.

Maka barangkali pertanyaan terbesar arsitektur abad ini bukan:

"Seberapa tinggi kita bisa membangun?"

Tetapi:

"Seberapa dalam kita mampu memahami tempat kita berpijak?"

Sebab sebuah peradaban yang benar-benar maju bukan peradaban yang mampu menaklukkan alam.

Ia adalah peradaban yang cukup bijaksana untuk hidup bersamanya.*(ald)

 

Source: Epi Martison, seniman budayawan nasional lulusan institut kesenian jakarta.