Di Tanah Melayu, Lidah Pun Ada Marwah

Di Tanah Melayu, Lidah Pun Ada Marwah
foto: aldian syahmubara/ist. (doc. kilasriau.com)

 

KILASRIAU.COM

Di tanah Melayu, kata bukan sekadar bunyi.

Ia membawa marwah.

Ia membawa adat.

Ia membawa nama keluarga, kaum, kampung, bahkan negeri.

Sebab itu orang tua-tua dahulu tidak sembarang melepas kata. Lidah dijaga sebelum bicara, hati ditimbang sebelum menilai, dan marwah orang lain dipelihara meski sedang berbeda pendapat.

Orang Melayu mengenal satu petuah yang sederhana, tetapi dalam maknanya:

“Supaya tahu orang berbangsa, lihat budi bahasanya.”

Bukan pada pakaian kebesaran.

Bukan pada panjangnya gelar.

Bukan pada tingginya jabatan.

Bukan pula pada seberapa ramai orang mengikutinya di media sosial.

Lihat bahasanya. Lihat adabnya. Lihat bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak sepaham dengannya.

Di situlah bangsa seseorang sesungguhnya terbaca.

Dan di situlah kita patut berhenti sejenak melihat hiruk-pikuk yang belakangan memenuhi ruang publik.

Ada orang yang merasa paling berilmu.

Ada yang merasa paling tahu.

Ada yang merasa paling berhak menilai.

Ada pula yang mengira keberanian berbicara berarti bebas mengatakan apa saja.

Padahal, dalam budaya Melayu, berani bukan berarti kurang ajar, tegas bukan berarti kasar, dan berbeda pendapat bukan berarti kehilangan adab.

 

Kata-Kata Bisa Menjadi Pedang

Zaman berubah.

Dahulu, orang bertengkar di halaman rumah, selesai ketika pintu ditutup.

Sekarang, satu kalimat dapat dilempar ke ruang digital dan berkelana ke mana-mana.

Satu ucapan dapat dipotong.

Satu unggahan dapat dibagikan.

Satu sindiran dapat menjadi bara.

Dan ketika bara itu jatuh di atas tumpukan emosi, yang terbakar bukan lagi hanya dua orang.

Kadang-kadang satu kampung ikut gaduh.

Satu komunitas ikut tersinggung.

Bahkan identitas budaya ikut terseret.

Di sinilah orang yang merasa dirinya berilmu seharusnya lebih berhati-hati.

Sebab semakin luas jangkauan suara seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang melekat di balik suara itu.

Jangan sampai mikrofon lebih besar daripada kebijaksanaan.

Jangan sampai pengikut lebih banyak daripada kemampuan mengendalikan diri.

Jangan sampai kepandaian berbicara justru memperlihatkan betapa miskinnya seseorang dalam menjaga bahasa.

 

Ilmu Tanpa Adab Hanya Melahirkan Kesombongan Baru

Ilmu itu mulia.

Tetapi ilmu bukan mahkota untuk merendahkan orang lain.

Ilmu seharusnya membuat manusia semakin tahu batas.

Tahu kapan bicara.

Tahu kapan diam.

Tahu kapan mengkritik.

Tahu kapan meminta maaf.

Dan yang paling penting, tahu bahwa manusia lain juga mempunyai kehormatan yang harus dijaga.

Sebab apa gunanya seseorang mampu mengutip begitu banyak pengetahuan jika satu kalimatnya mampu merobek harga diri orang lain?

Apa gunanya seseorang pandai menjelaskan teori etika jika dalam praktiknya sendiri ia lupa menghormati sesama?

Apa gunanya mengaku menjunjung budaya jika bahasa yang digunakan justru menginjak marwah manusia?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang semestinya kita renungkan.

Bukan untuk menghakimi siapa pun.

Tetapi untuk mengoreksi diri sendiri.

Karena cermin yang paling jujur bukanlah wajah kita di kaca, melainkan perkataan kita ketika sedang marah.

 

Melayu Tidak Mengajarkan Menang dengan Merendahkan

Dalam tradisi Melayu, perbedaan bukan sesuatu yang harus dibakar menjadi permusuhan.

Orang boleh bersilang pendapat.

Orang boleh berbeda pilihan.

Orang boleh mengkritik.

Tetapi ada batas yang bernama adab.

Ada pagar yang bernama marwah.

Ada jalan yang bernama adat.

Dan ada hukum yang tetap berdiri di atas semuanya.

Maka jangan pula adat dijadikan tameng untuk membenarkan kesalahan.

Jangan hukum adat dipakai untuk menekan orang lain.

Jangan pula kebebasan berbicara dijadikan alasan untuk menghilangkan kehormatan sesama.

Adat dan hukum seharusnya berjalan beriringan, bukan dipertentangkan.

Sebab masyarakat yang matang bukan masyarakat yang tidak pernah berselisih.

Masyarakat yang matang adalah masyarakat yang mampu menyelesaikan perselisihan tanpa kehilangan wajah kemanusiaannya.

 

Polemik Seharusnya Menjadi Cermin, Bukan Sekadar Tontonan

Apa pun polemik yang sedang berlangsung hari ini, hendaknya jangan hanya dilihat sebagai pertarungan antara siapa yang benar dan siapa yang salah.

Lebih jauh dari itu, ada pelajaran yang patut dipungut.

Tentang bagaimana seorang anak negeri berbicara.

Tentang bagaimana tokoh masyarakat menjaga lisan.

Tentang bagaimana pembuat konten memahami batas.

Tentang bagaimana masyarakat adat merespons persoalan.

Tentang bagaimana ruang digital digunakan.

Dan tentang bagaimana kita menjaga nama baik daerah ketika peristiwa lokal telah menjadi konsumsi publik.

Sebab ketika persoalan yang bermula dari satu peristiwa kemudian menyebar ke media sosial, ia tidak lagi menjadi milik para pihak yang berselisih semata.

Ia menjadi bagian dari percakapan masyarakat.

Maka setiap kata harus ditimbang.

Setiap tudingan harus memiliki dasar.

Setiap kritik harus mempunyai alasan.

Dan setiap orang harus memahami bahwa hak untuk berbicara selalu berdampingan dengan kewajiban mempertanggungjawabkan ucapan.

 

Jangan Sampai Kita Pandai Mengajarkan Adat, Tetapi Lupa Beradat

Ini yang paling menyedihkan.

Kita sibuk bicara tentang adat.

Kita sibuk mempertahankan marwah.

Kita sibuk mengajarkan generasi muda tentang sopan santun.

Tetapi di ruang publik, kadang-kadang kita justru mempertontonkan kebalikannya.

Kita meminta anak-anak menjaga bahasa, sementara orang dewasa bebas saling mencaci.

Kita mengajarkan penghormatan kepada tetua, tetapi dalam perdebatan kita mudah merendahkan orang lain.

Kita bicara tentang marwah negeri, tetapi lupa bahwa marwah negeri sesungguhnya tercermin dari perilaku orang-orang yang hidup di dalamnya.

Jangan sampai kita pandai mengajarkan adat, tetapi lupa beradat.

Sebab adat yang hanya tinggal di spanduk, seremonial dan pakaian kebesaran, hanyalah simbol.

Adat yang hidup adalah adat yang hadir dalam perilaku.

Dalam tutur kata.

Dalam sikap.

Dalam cara kita menyelesaikan masalah.

 

Yang Tinggi Tidak Perlu Merendahkan yang Rendah

Ada satu pelajaran lama yang semakin penting di zaman digital:

Orang besar tidak perlu mengecilkan orang lain untuk terlihat besar.

Pohon yang tinggi tidak pernah sibuk menghitung tinggi rumput.

Air yang dalam tidak perlu berteriak bahwa dirinya dalam.

Dan orang yang benar-benar berilmu biasanya tidak tergesa-gesa membuktikan bahwa dirinya paling berilmu.

Ia tahu bahwa wibawa tidak lahir dari suara yang paling keras.

Wibawa lahir dari ketenangan.

Dari kemampuan menahan diri.

Dari ketepatan kata.

Dari kesanggupan meminta maaf ketika keliru.

Dan dari keberanian mengakui bahwa orang lain pun bisa memiliki kebenaran.

 

Mari Kita Kembalikan Marwah pada Tempatnya

Redaksi KilasRiau.com berpandangan, polemik apa pun yang terjadi di tengah masyarakat semestinya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.

Bukan hanya kepada mereka yang sedang berseteru.

Tetapi kepada kita semua.

Kepada tokoh adat.

Kepada pemerintah.

Kepada pemuda.

Kepada pelaku seni dan budaya.

Kepada pemilik usaha.

Kepada pembuat konten.

Kepada pedagang.

Kepada pengguna media sosial.

Dan kepada siapa pun yang memiliki ruang untuk berbicara di hadapan publik.

Mari kita bedakan kritik dengan penghinaan, keberanian dengan kesembronoan, kebebasan dengan kebablasan, dan ilmu dengan kesombongan.

Sebab negeri ini tidak kekurangan orang pintar.

Yang perlu terus kita rawat adalah orang pintar yang tahu cara beradab.

Akhirnya, petuah lama itu barangkali layak kita letakkan kembali di depan pintu rumah, di depan mimbar, bahkan di depan layar telepon genggam:

Supaya tahu orang berbangsa,
Lihat budi bahasanya.
Ilmu takkan ada gunanya,
Bila diri tak punya etika.

Karena pada akhirnya, gelar boleh tinggi, suara boleh lantang, pengikut boleh berjuta, tetapi jika adab ditinggalkan, yang tampak bukan kebesaran—melainkan kekosongan yang sedang berisik.

Dan orang Melayu tahu benar:

Yang elok bukan hanya pada rupa,
yang tinggi bukan hanya pada ilmu,
yang besar bukan hanya pada nama.
Yang menjadikan manusia mulia ialah budi dan bahasanya.*(ald)