TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Di tengah gemuruh Pacu Jalur Tradisional Iven Nasional 2026 yang menguasai Teluk Kuantan, ada sebuah pemandangan sederhana yang justru menyimpan pesan kuat tentang wajah pemerintahan di tengah pesta rakyat.
Jumat (21/8/2026) malam, tepat pada hari ketiga pelaksanaan Pacu Jalur Iven Nasional 2026 di Tepian Narosa, Plt. Bupati Kuantan Singingi, H. Muklisin, tertangkap kamera berjalan seorang diri menyusuri kawasan pasar Teluk Kuantan.
Tanpa rombongan pejabat. Tanpa pengawalan yang mencolok. Tanpa seremoni.
Ia berjalan di ruas jalan yang sisi kiri dan kanannya dipenuhi lapak serta barang dagangan masyarakat. Di tengah kepadatan warga dan pengunjung yang datang menikmati kemeriahan pacu jalur, Muklisin terlihat menyusuri keramaian dengan langkah biasa.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin hanya sekilas lalu.
Namun di tengah sebuah iven nasional yang menyedot perhatian ribuan orang, langkah seorang kepala daerah di antara pedagang, kendaraan dan kerumunan publik punya makna tersendiri.
Sebab Pacu Jalur bukan hanya tentang adu cepat perahu panjang di atas Batang Kuantan.
Selama perhelatan berlangsung, wajah Teluk Kuantan ikut berubah.
Lapak perdagangan bermunculan. Arus kendaraan meningkat. Ruang publik dipenuhi aktivitas warga. Pedagang menggantungkan harapan pada keramaian. Pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru.
Dan di belakang seluruh kemeriahan itu muncul persoalan klasik yang harus dijawab pemerintah: lapak, parkir, sampah, ketertiban dan tata kelola ruang publik.
Saat dikonfirmasi KilasRiau.com, Sabtu (22/8/2026) siang, Muklisin membenarkan bahwa dirinya memang berjalan menyusuri kawasan pasar pada Jumat malam.
Ia menjelaskan, dirinya ingin melihat langsung hiruk-pikuk aktivitas masyarakat selama Pacu Jalur sekaligus mengetahui kondisi faktual di lapangan.
“Iya mas... nengok-nengok hiruk pikuknya kegiatan masyarakat saat pacu jalur... dan lihat kondisi di lapangan... masalah lapak, parkir, sampah, dan sebagainya,” ujar Muklisin.
Jawaban tersebut memberikan konteks terhadap momen yang tertangkap kamera.
Blusukan itu, menurut penjelasannya, bukan semata-mata untuk menikmati keramaian. Ada sejumlah kondisi lapangan yang ingin dilihat secara langsung.
Lapak pedagang.
Parkir kendaraan.
Sampah.
Semua merupakan bagian dari konsekuensi sebuah pesta rakyat yang membesar menjadi iven berskala nasional.
Pacu Jalur adalah kekuatan budaya Kuantan Singingi. Ia bukan sekadar perlombaan, melainkan identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Ketika tradisi tersebut dikemas dalam sebuah iven nasional, dampaknya menjalar ke berbagai sektor.
Pedagang mendapatkan pembeli.
Pelaku UMKM memperoleh peluang.
Penginapan dan jasa transportasi ikut bergerak.
Ruas-ruas kota menjadi lebih ramai.
Tetapi setiap keramaian memiliki harga yang harus dibayar dengan tata kelola.
Semakin banyak orang berkumpul, semakin besar kebutuhan ruang.
Semakin banyak kendaraan datang, semakin berat beban sistem parkir dan lalu lintas.
Semakin ramai transaksi dan aktivitas warga, semakin besar pula produksi sampah.
Karena itu, kemeriahan sebuah iven tidak boleh hanya dilihat dari riuhnya tepian sungai.
Kualitas penyelenggaraan justru diuji di ruang-ruang yang kadang luput dari sorotan kamera.
Di jalan.
Di pasar.
Di area parkir.
Di sekitar lapak pedagang.
Dan di tempat sampah yang mungkin tidak pernah masuk dalam panggung utama.
Ketika ditanya lebih jauh mengenai apa saja yang ditemuinya selama blusukan, Muklisin tidak merinci persoalan satu per satu.
Namun jawabannya cukup singkat sekaligus membuka ruang evaluasi.
“Banyak, mas... banyak ke depan yang perlu dibenahi bersama-sama, mas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari cerita malam itu.
Sebab pengakuan bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi menunjukkan bahwa kemeriahan Pacu Jalur tidak otomatis berarti seluruh persoalan di lapangan telah selesai.
Ada pekerjaan rumah.
Dan pekerjaan rumah itu tidak mungkin diselesaikan seorang diri.
Muklisin menggunakan kata “bersama-sama”.
Di satu sisi, pemerintah memiliki kewajiban memastikan fasilitas, ketertiban, kebersihan, lalu lintas dan ruang publik berjalan sebagaimana mestinya.
Di sisi lain, panitia, pedagang, masyarakat, pengunjung dan berbagai pihak juga memiliki tanggung jawab menjaga pesta rakyat tersebut tetap tertib.
Pacu Jalur adalah pesta milik masyarakat.
Maka keberhasilannya juga semestinya menjadi keberhasilan bersama.
Ada perbedaan besar antara mengetahui persoalan melalui laporan dan melihatnya dengan mata sendiri.
Laporan bisa mengatakan parkir terkendali.
Tetapi jalan bisa menunjukkan kendaraan yang berhimpitan.
Laporan bisa menyebut kebersihan ditangani.
Tetapi mata bisa melihat sampah yang tersisa di sudut-sudut keramaian.
Laporan bisa menyebut lapak telah tertata.
Tetapi masyarakat bisa merasakan sendiri apakah ruang untuk berjalan masih nyaman atau tidak.
Karena itulah blusukan memiliki nilai ketika diikuti tindakan.
Melihat adalah langkah pertama.
Mendengar adalah langkah kedua.
Membenahi adalah ujian sebenarnya.
Muklisin telah memilih melihat langsung.
Kini publik tentu menunggu apakah apa yang dilihatnya malam itu akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah.
Sebab seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kemampuannya hadir ketika panggung sedang gemerlap.
Ia juga diuji dari kemampuannya membaca persoalan yang muncul di balik gemerlap tersebut.
Pacu Jalur harus tetap menjadi berkah bagi masyarakat.
Keramaian harus membuka ruang ekonomi, bukan justru menciptakan kekacauan.
Lapak harus menjadi sumber penghasilan tanpa mengambil hak masyarakat atas ruang publik.
Parkir harus mendukung mobilitas, bukan menghambatnya.
Dan sampah harus menjadi persoalan yang diselesaikan sebelum menjadi noda bagi wajah daerah.
Di sinilah pekerjaan pemerintah menjadi jauh lebih penting daripada sekadar memastikan sebuah acara berlangsung meriah.
Sebuah iven nasional bukan hanya panggung untuk mempertontonkan budaya kepada dunia.
Ia juga merupakan cermin kemampuan sebuah daerah dalam mengelola keramaian, menata ruang, melindungi kepentingan masyarakat dan menjaga kebersihan lingkungannya.
Dan malam itu, di antara lampu-lampu pasar dan lapak pedagang, Muklisin memilih melihat cermin tersebut dari dekat.
Tidak ada podium.
Tidak ada pidato.
Tidak ada sambutan.
Hanya seorang kepala daerah yang berjalan sendirian di tengah denyut kehidupan masyarakat.
Ia melihat.
Ia mengamati.
Dan ketika ditanya apa yang ditemuinya, jawabannya sederhana:
“Banyak... banyak ke depan yang perlu dibenahi bersama-sama.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa.
Tetapi di baliknya terdapat pekerjaan rumah yang tidak sederhana.
Sebab setelah sorak-sorai Pacu Jalur berhenti, setelah ribuan pengunjung meninggalkan Tepian Narosa, dan setelah pedagang kembali membereskan barang dagangannya, persoalan yang malam itu terlihat di jalan akan tetap menunggu.
Di situlah blusukan seorang kepala daerah memperoleh maknanya.
Bukan pada foto ketika ia berjalan seorang diri.
Bukan pula pada kesan bahwa seorang pejabat berani turun tanpa pengawalan.
Melainkan pada apa yang dilakukan pemerintah setelah melihat kenyataan dengan mata sendiri.
Pacu Jalur boleh berpacu.
Tetapi pembenahan daerah tidak boleh berhenti di garis finis.*(ald)