Aura dan Marwah Pacu Jalur yang Terasa Semakin Terkikis

Aura dan Marwah Pacu Jalur yang Terasa Semakin Terkikis
foto: Doni Aprianto, S.H./ist (doc. kilasriau.com)

KilasRiau.com - Saya lahir pada Juli 1988. Artinya, hari ini saya sudah berusia 38 tahun. Selama hampir empat dekade hidup sebagai putra Kuantan Singingi, saya tumbuh bersama sebuah kebudayaan yang sejak kecil sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat: pacu jalur.

Bagi saya, pacu jalur bukan sekadar perlombaan.

Ia adalah kenangan masa kecil. Ia adalah suara calempong yang terdengar dari kejauhan. Ia adalah keramaian di tepian Sungai Kuantan. Ia adalah cerita para orang tua, semangat para pemuda, dan kebanggaan sebuah desa ketika jalurnya turun ke gelanggang.

Karena itu, apa yang saya tuliskan ini bukan hasil membaca dari buku atau sekadar mendengar cerita orang lain.

Ini adalah apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya alami sendiri sebagai putra Kuantan Singingi.

Dan semakin bertambah usia, saya justru merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah saya pikirkan.

Pacu jalur masih ada. Bahkan semakin besar. Tetapi aura, marwah, dan kesakralan yang dahulu saya rasakan perlahan semakin sulit saya temukan.

Saya masih melihat jalur. Saya masih melihat ribuan orang berkumpul. Saya masih mendengar suara calempong. Saya masih melihat masyarakat bersorak ketika sebuah jalur melaju menuju pancang finis.

Tetapi rasa yang dahulu menyertai semua itu terasa berbeda.

Ada sesuatu yang hilang.

Dan sebagai orang yang pernah merasakan pacu jalur pada masa lalu, saya tidak bisa berpura-pura mengatakan bahwa semuanya masih sama.

Saya Masih Ingat Ketika Aura dan Marwah Pacu Jalur Mulai Terasa Sejak Bulan Mei

Dulu, memasuki bulan Mei saja sudah terasa berbeda.

Pembicaraan tentang pacu jalur mulai muncul di warung-warung, di rumah-rumah, di kebun, di sawah, bahkan di tepian sungai. Masyarakat mulai mempersiapkan diri.

Latihan mulai dilakukan. Sore hari, Sungai Kuantan menjadi tempat berkumpulnya masyarakat. Para pemuda mendayung. Orang tua mengawasi. Anak-anak melihat dari tepian.

Ada senda gurau. Ada semangat. Ada rasa memiliki.

Dan saya pernah menjadi bagian dari suasana itu.

Dahulu, pacu jalur terasa seperti sesuatu yang harus ditunggu. Bukan sesuatu yang bisa ditemukan setiap saat.

Karena itulah ketika puncak pacu jalur tiba, masyarakat benar-benar merasakannya sebagai sebuah peristiwa besar.

Para pemuda dan orang tua yang bekerja rela menyisihkan penghasilan. Ada yang menabung. Ada yang mempersiapkan ongkos perjalanan. Ada yang sengaja meliburkan pekerjaan.

Semua dilakukan karena ada satu tujuan:

menyaksikan kebanggaan desanya berlaga.

Itulah pacu jalur yang saya kenal.

Itulah aura dan marwah pacu jalur yang dahulu saya rasakan.

Dulu, Jalur Lahir dari Keringat Masyarakat

Saya juga masih mengingat bagaimana proses pembuatan sebuah jalur dahulu dimulai.

Jauh sebelum jalur masuk ke sungai, masyarakat sudah berkumpul. Ada musyawarah. Ada pencarian kayu. Ada pembicaraan mengenai kapan kayu ditebang dan bagaimana cara mengeluarkannya dari hutan.

Prosesnya tidak sebentar. Bahkan bisa berlangsung berbulan-bulan.

Ketika kayu sudah ditemukan dan waktunya tiba, masyarakat kembali berkumpul. Para laki-laki dewasa ikut bekerja.

Mereka masuk ke hutan. Mereka menebang. Mereka menarik. Mereka mendorong. Mereka mengeluarkan kayu sedikit demi sedikit.

Sabtu dan Minggu menjadi hari yang penting karena sebagian besar masyarakat libur dari pekerjaan. Tidak jarang proses itu dilakukan berminggu-minggu.

Bagi saya, di situlah salah satu marwah pacu jalur dahulu terasa.

Sebab sebuah jalur tidak hanya dibuat dari kayu.

Jalur dibuat dari keringat masyarakat.

Setiap orang merasa memiliki. Setiap orang merasa ikut berjasa.

Dan ketika jalur itu akhirnya sampai ke tepian Sungai Kuantan, kebanggaan tersebut bukan milik beberapa orang.

Itu kebanggaan satu desa.

Di sanalah aura dan marwahnya tumbuh: dari kebersamaan, gotong royong, pengorbanan, dan rasa memiliki.

Ketika Tangan Manusia Mulai Digantikan Mesin

Saya memahami bahwa zaman berubah. Saya memahami bahwa teknologi hadir untuk mempermudah pekerjaan.

Tetapi sebagai orang yang mengalami perubahan itu, saya merasakan ada sesuatu yang ikut berubah ketika proses mengeluarkan kayu mulai banyak menggunakan ekskavator dan dozer.

Dahulu, masyarakat berkumpul karena tenaga mereka dibutuhkan.

Sekarang, mesin mampu melakukan sebagian besar pekerjaan tersebut.

Cepat. Praktis. Efisien.

Tetapi bagi saya, ada harga yang tidak terlihat dari efisiensi itu.

Kebersamaan berkurang.

Senda gurau berkurang. Perjuangan bersama berkurang.

Dan proses panjang yang dahulu membuat masyarakat merasa begitu dekat dengan jalur perlahan menjadi lebih singkat.

Bagi saya, inilah salah satu titik ketika aura dan marwah pacu jalur mulai terasa terkikis.

Bukan karena mesin itu salah.

Tetapi karena kebudayaan bukan hanya tentang hasil akhir.

Kebudayaan juga tentang proses.

Dan proses itulah yang dahulu menyatukan masyarakat.

Pacu Jalur yang Dahulu Ditunggu, Kini Terlalu Sering Datang

Saya juga merasakan perubahan dari sisi gelanggang.

Dahulu, masyarakat mengenal beberapa gelanggang utama. Ada Pacu Luwai di Kuantan Mudik. Ada Pacu Gunung di Gunung Toar. Kemudian puncaknya adalah Tepian Narosa di Teluk Kuantan.

Karena tidak setiap saat ada pacu jalur, setiap gelanggang memiliki auranya sendiri.

Puncak di Teluk Kuantan terasa seperti puncak dari seluruh perjuangan masyarakat selama berbulan-bulan.

Ketika malam tiba, suara calempong terdengar. Teluk Kuantan menjadi ramai. Masyarakat datang dari berbagai daerah.

Dan bagi saya, suasana itu memiliki marwah dan kesakralan yang sulit dijelaskan.

Namun sekarang, pacu jalur semakin sering digelar. Gelanggang semakin banyak. Perhelatan bisa ditemukan hampir setiap bulan dan di berbagai kecamatan.

Saya tidak mengatakan bahwa memperbanyak gelanggang adalah kesalahan.

Tetapi dari pengalaman saya, ketika sesuatu yang dahulu sangat ditunggu kemudian hadir terlalu sering, rasa menunggunya tentu tidak lagi sama.

Dulu saya menunggu pacu jalur.

Sekarang saya merasa pacu jalur yang datang kepada masyarakat.

Dan menurut saya, di situlah sebagian aura dan marwah yang dahulu begitu kuat kembali berkurang.

Ketika Kebudayaan Bertemu Politik

Saya juga tidak bisa menutup mata terhadap perubahan lain yang saya lihat.

Pacu jalur semakin dekat dengan dunia sponsorship dan politik.

Nama-nama tokoh muncul sebagai pendukung jalur. Ada yang membantu pembuatan. Ada yang membantu pakaian anak pacuan. Ada yang membantu biaya keberangkatan.

Saya tidak mengatakan setiap bantuan itu adalah kampanye. Tidak.

Tetapi dari apa yang saya lihat, ketika nama seorang tokoh semakin sering hadir di sebuah jalur, masyarakat tentu dapat menangkap citra dan pesan tertentu dari kehadiran tersebut.

Bagi saya, persoalannya bukan pada membantu atau tidak membantu.

Persoalannya adalah ketika kebudayaan yang dahulu menjadi ruang bersama masyarakat mulai berpotensi menjadi ruang pencitraan.

Saya merasakan hal itu semakin kuat ketika memasuki suasana politik.

Dan saya tidak nyaman melihat kebudayaan yang begitu memiliki marwah bagi masyarakat akhirnya ikut terseret ke dalam pertarungan kepentingan.

Sebab marwah kebudayaan seharusnya berada di atas kepentingan sesaat.

Dari Kekompakan Menjadi Adu Gengsi

Namun perubahan yang paling membuat saya merasa kehilangan adalah ketika pacu jalur mulai terasa sebagai adu gengsi.

Dahulu, nama desa berarti masyarakat desa.

Sekarang, nama desa terkadang hanya menjadi asal dari mana nama jalur berada.

Para pemuda desa belum tentu menjadi pemacu. Para laki-laki dewasa yang dahulu ikut berjuang di sungai bisa saja hanya menjadi penonton.

Karena untuk memenangkan perlombaan, jalur membutuhkan pemacu yang semakin kuat.

Kemudian datanglah atlet-atlet dayung profesional.

Saya memahami mengapa mereka didatangkan.

Mereka memiliki kemampuan. Mereka memiliki pengalaman. Mereka memiliki fisik dan teknik.

Tetapi ketika sebagian besar pemacu sebuah jalur bukan lagi masyarakat desa itu sendiri, saya kembali bertanya:

Apakah kita masih sedang melihat kekuatan sebuah desa, atau sedang melihat kekuatan sebuah tim dayung?

Bagi saya, pertanyaan itu penting.

Sebab dahulu, ketika jalur menang, masyarakat merasa:

“Kita menang.”

Sekarang, saya terkadang merasa kemenangan lebih terasa sebagai:

“Jalur kita menang.”

Perbedaannya memang terlihat kecil.

Tetapi bagi saya, maknanya sangat besar.

Karena di situlah letak marwah sebuah jalur sebagai simbol kebersamaan masyarakat mulai dipertanyakan.

Saya Tidak Menolak Perubahan

Saya tidak sedang meminta pacu jalur kembali persis seperti masa lalu.

Saya sadar zaman tidak mungkin dihentikan.

Saya juga tidak menolak teknologi. Saya tidak menolak atlet profesional. Saya tidak menolak sponsor. Saya tidak menolak berkembangnya gelanggang.

Saya hanya ingin mengatakan sesuatu berdasarkan apa yang saya rasakan selama 38 tahun hidup sebagai putra Kuantan Singingi.

Jangan sampai kita terlalu sibuk membesarkan pacu jalur, tetapi lupa menjaga jiwa, aura, dan marwahnya.

Jangan sampai kita hanya mempertahankan perlombaannya, tetapi kehilangan kebersamaannya.

Jangan sampai kita hanya mengejar kemenangan, tetapi kehilangan rasa memiliki.

Karena bagi saya, pacu jalur bukan sekadar siapa yang tercepat mencapai pancang finis.

Pacu jalur adalah perjalanan perjuangan masyarakat.

Perjalanan dari hutan menuju sungai.

Perjalanan dari musyawarah menuju perjuangan.

Perjalanan dari keringat menjadi kebanggaan.

Dan perjalanan satu desa untuk berdiri bersama dalam satu jalur.

Pacu Jalur yang Saya Rindukan

Saya merindukan pacu jalur yang dahulu membuat masyarakat menunggu.

Saya merindukan sore-sore ketika masyarakat berkumpul di tepian Sungai Kuantan.

Saya merindukan suara kayuhan yang dilakukan oleh pemuda desa sendiri.

Saya merindukan perjuangan mengeluarkan kayu dari hutan.

Saya merindukan para orang tua yang menjadi tempat bertanya.

Saya merindukan suasana ketika kemenangan bukan hanya milik pemacu, tetapi milik seluruh masyarakat desa.

Dan saya merindukan perasaan ketika mendengar suara calempong lalu hati berkata:

“Pacu jalur sebentar lagi.”

Hari ini pacu jalur memang semakin besar.

Dunia semakin mengenalnya. Nama Kuantan Singingi semakin dikenal.

Tetapi sebagai putra Kuansing, saya punya satu kekhawatiran:

Jangan sampai yang kita wariskan kepada generasi berikutnya hanyalah sebuah event bernama pacu jalur, sementara aura, marwah, dan jiwa kebudayaan yang dahulu menyatukan masyarakat justru hilang di tengah perjalanan.

Bagi saya, pacu jalur tidak seharusnya hanya menjadi tontonan.

Ia harus tetap menjadi milik masyarakat.

Sebab sebelum menjadi olahraga, sebelum menjadi tontonan, sebelum menjadi ajang gengsi, sebelum menjadi panggung sponsor dan politik - pacu jalur adalah cara masyarakat Kuantan Singingi untuk mengatakan bahwa kami bisa berdiri bersama dalam satu perahu.

Dan itulah pacu jalur yang saya kenal.

Itulah pacu jalur yang saya rasakan.

Dan itulah pacu jalur yang sampai hari ini masih saya rindukan.(*)