Keramat Jubah Merah Kembali Membelah Batang Kuantan, Kahulu Jantan Menunggu di Hilir ke-40

Keramat Jubah Merah Kembali Membelah Batang Kuantan, Kahulu Jantan Menunggu di Hilir ke-40
foto: jaluar keramat jubah merah/ist (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Setelah membuka perjalanan dengan kemenangan, Keramat Jubah Merah kembali dipanggil sungai.
Jalur kebanggaan Muaro Sentajo itu akan turun lagi pada hari ketiga Festival Pacu Jalur Tradisional Event Nasional 2026, Jumat (21/8/2026).

Dalam daftar aduan yang telah ditetapkan, Keramat Jubah Merah berada di jalur kiri nomor 40, berhadapan dengan Kahulu Jantan Danau Kompe dari Benai Kecil di jalur kanan.

Bagi orang lain mungkin hanya angka dalam selembar daftar.

Namun bagi Muaro Sentajo, angka itu adalah pintu menuju pertarungan baru.

Sebab kemenangan pada laga perdana telah berlalu. Sorak-sorai telah reda. Tepian telah kembali menyimpan gema suara ribuan penonton.

Kini Jubah Merah harus kembali membuktikan dirinya.

Sungai tidak pernah mengenal kemenangan kemarin.

Setiap kali dua jalur turun ke Batang Kuantan, semuanya kembali dari awal.

Dayung harus kembali menemukan irama. Anak pacu harus kembali menyatukan napas.
Haluan harus kembali diarahkan kepada satu tujuan: pancang terakhir.

Dan di seberang sana, Kahulu Jantan Danau Kompe telah menunggu.

Pada laga perdana, Rabu (19/8/2026), Keramat Jubah Merah tampil meyakinkan ketika berhadapan dengan Putri Bungsu Sayang Tak Sudah dari Pelukahan.

Jubah Merah mulai meninggalkan lawannya sejak pancang pemisah kedua.

Jarak yang tercipta kemudian dipertahankan hingga pancang keenam sebagai garis finis.

Kemenangan itu menjadi pembuka yang manis.

Tetapi di balik kemenangan selalu ada jebakan bernama terlena.

Karena itu, laga berikutnya justru menjadi ujian yang berbeda.

Kemenangan pertama telah membuktikan bahwa Jubah Merah memiliki tenaga. Namun pertandingan kedua akan menguji apakah tenaga itu mampu kembali dipanggil ketika tekanan semakin besar.

Apakah kayuhan tetap seirama?

Apakah anak pacu tetap tenang?

Apakah kekompakan mampu bertahan ketika lawan berada hanya beberapa depa di samping?

Pertanyaan-pertanyaan itu hanya akan memperoleh jawaban ketika kedua jalur meninggalkan pancang awal.

Kepala Desa Muaro Sentajo, Halmadi Asmara, menyambut optimistis laga lanjutan Keramat Jubah Merah.

Namun ia mengingatkan agar kemenangan pada laga perdana tidak membuat anak pacu dan seluruh pendukung terlena.

“Alhamdulillah, Keramat Jubah Merah kembali mendapatkan kesempatan untuk berlaga. Kita sudah melihat hasil pada pertandingan sebelumnya, tetapi kemenangan itu tidak boleh membuat kita lengah. Lawan berikutnya tentu juga memiliki persiapan dan kekuatan,” ujar Halmadi.

Menurutnya, kunci utama dalam pacu jalur bukan semata-mata soal tenaga, tetapi bagaimana seluruh anak pacu mampu bergerak dalam satu irama.

“Yang paling penting adalah kekompakan. Pacu jalur itu bukan mengandalkan satu atau dua orang. Semua anak pacu harus satu irama, satu semangat dan satu tujuan. Kalau kayuhan kompak, insyaallah hasil terbaik bisa kita dapatkan,” katanya.

Kalimat itu seperti mengingatkan kembali hakikat pacu jalur.

Di atas sungai, tidak ada seorang pun yang boleh merasa paling kuat.

Sebab satu kayuhan yang keluar dari irama dapat memengaruhi seluruh jalur.

Satu kesalahan dapat membuat jarak yang semula tipis berubah menjadi panjang.

Dan satu ketenangan dapat menjadi pembeda ketika tenaga mulai terkuras.

Di jalur kanan, Kahulu Jantan Danau Kompe membawa nama Benai Kecil.

Ia bukan sekadar nama yang muncul dalam daftar aduan.

Di belakangnya ada kampung.

Ada anak-anak yang mungkin mengenal jalur itu sejak kecil.

Ada orang-orang yang telah menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran untuk mempersiapkannya.

Ada pula doa yang bergerak diam-diam dari tepian menuju tengah sungai.

Karena itu, Jubah Merah tidak boleh melihat laga ini sebagai pertandingan yang mudah.
Halmadi pun menegaskan pentingnya menghormati lawan.

“Kita hormati lawan. Jangan pernah menganggap pertandingan mudah. Di sungai semua bisa terjadi. Yang menentukan nanti adalah bagaimana anak pacu menjaga ritme, kekompakan dan tenaga sampai pancang terakhir,” tegasnya.

Di situlah pacu jalur menemukan keadilannya.

Tidak ada nama yang otomatis menang.

Tidak ada reputasi yang bisa mengayuh dayung.

Tidak ada sejarah yang dapat mendorong haluan.

Yang bergerak adalah manusia.

Yang menentukan adalah kayuhan.

Dan yang menjadi saksi adalah sungai.

Keramat Jubah Merah tidak hanya membawa tubuh sebuah jalur ketika masuk ke Batang Kuantan.

Ia membawa nama Muaro Sentajo.

Nama itu ikut bergerak bersama haluan.

Ikut bergetar bersama hentakan dayung.

Ikut menahan napas ketika jarak dengan lawan semakin dekat.

Dan ikut meledak dalam kegembiraan ketika garis finis berhasil dilewati lebih dahulu.

Itulah mengapa pacu jalur di Kuantan Singingi tidak pernah sekadar pertandingan.

Ia adalah ruang tempat sebuah kampung bercermin.

Di dalam jalur, masyarakat melihat kerja keras mereka.

Di dalam kayuhan, mereka melihat kekompakan.

Di dalam kemenangan, mereka menemukan kebanggaan.

Dan dalam kekalahan, mereka belajar menerima bahwa sungai memiliki ceritanya sendiri.

"Menang Kita Syukuri, Kalah Tetap Kita Banggakan"

Halmadi menyampaikan apresiasi kepada anak pacu, pelatih, pengurus jalur serta seluruh masyarakat yang terus memberikan dukungan kepada Keramat Jubah Merah.

“Kita berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang terus memberikan dukungan. Anak-anak sudah berjuang membawa nama Muaro Sentajo. Kita berharap mereka tetap sehat, fokus dan menjaga semangat sampai perlombaan selesai,” ujarnya.

Ia pun berharap Jubah Merah mampu kembali memberikan penampilan terbaik.

“Harapan kita tentu Keramat Jubah Merah bisa kembali menang dan melaju sejauh mungkin. Tetapi kita serahkan semuanya kepada perjuangan anak pacu di lapangan. Kita sebagai masyarakat cukup memberikan doa dan dukungan. Menang kita syukuri, kalah pun kita tetap bangga karena mereka sudah berjuang membawa nama kampung,” pungkasnya.

Ada kedewasaan dalam kalimat itu.

Sebab dalam tradisi sebesar pacu jalur, kemenangan memang penting.

Tetapi menjaga martabat jauh lebih penting.

Jubah Merah boleh mengejar garis finis.

Namun Muaro Sentajo tetap harus menjaga kehormatan.

Jumat (21/8/2026), ketika nomor 40 tiba, Tepian Narosa akan kembali bergemuruh.

Nama Keramat Jubah Merah akan dipanggil.

Nama Kahulu Jantan Danau Kompe akan disebut.

Dua jalur akan mengambil posisi.

Dua kampung akan menahan napas.

Lalu aba-aba akan memecah udara.

Dayung pertama menghantam air.

Kemudian yang kedua.

Ketiga.

Dan puluhan, ratusan kayuhan berikutnya akan menyatu menjadi satu denyut.
Pada saat itu, seluruh percakapan akan berhenti.

Yang terdengar hanya suara air.

Suara dayung.

Suara komando.

Dan teriakan dari tepian yang memanggil nama jalurnya masing-masing.

Jubah Merah harus kembali menemukan iramanya.

Bukan irama kemenangan kemarin.

Tetapi irama baru untuk pertarungan hari ini.

Sebab sungai selalu berubah.

Lawan selalu berubah.

Tekanan selalu berubah.

Yang tidak boleh berubah adalah keberanian.

Kemenangan atas Putri Bungsu Sayang Tak Sudah telah memberi Jubah Merah kepercayaan diri.

Tetapi kemenangan itu juga harus segera ditaruh di belakang.

Sebab terlalu lama memandang kemenangan masa lalu dapat membuat mata kehilangan pandangan terhadap lawan di depan.

Kahulu Jantan sudah menunggu.

Dan Benai Kecil tentu memiliki mimpi yang sama besarnya.

Karena itu, laga nomor 40 bukan hanya tentang mempertahankan nama.

Ia tentang membuktikan konsistensi.

Apakah Jubah Merah mampu kembali melaju?

Apakah kemenangan perdana benar-benar menjadi awal dari perjalanan panjang?

Ataukah Tepian Narosa akan menulis cerita berbeda?

Semua akan terjawab di atas Batang Kuantan.

Pada akhirnya, pacu jalur tidak membutuhkan terlalu banyak kata.

Sungai akan berbicara dengan caranya sendiri.

Ia akan membiarkan dua jalur bergerak.
Ia akan menguji tenaga.
Ia akan menguji kesabaran.
Ia akan menguji kekompakan.

Dan pada pancang terakhir, ia akan memberikan jawabannya.

Muaro Sentajo kini menunggu.

Kahulu Jantan Danau Kompe berdiri sebagai penantang.

Jubah Merah datang membawa kemenangan pertama, tetapi tidak membawa kesombongan.

Sebab perjalanan masih panjang.
Panggung masih luas.

Dan mahkota belum menjadi milik siapa pun.
Nomor 40 telah ditentukan.

Jalur kiri: Keramat Jubah Merah, Muaro Sentajo.

Jalur kanan: Kahulu Jantan Danau Kompe, Benai Kecil.

Jumat ini, ketika dayung menghantam Batang Kuantan, angka itu akan kehilangan arti.

Yang tersisa hanya dua jalur, enam pancang, satu garis akhir, dan satu pertanyaan yang akan dijawab oleh air:

Siapa yang mampu menjaga kayuhan ketika tenaga mulai habis, dan siapa yang lebih dahulu tiba membawa nama kampungnya pulang?

Muaro Sentajo menunggu.

Keramat Jubah Merah kembali membelah sungai.*(ald)