Jagung Pipil Koto Sentajo Mulai Menguning, H. Bahmada Kawal Ketahanan Pangan hingga Ujung Panen

Jagung Pipil Koto Sentajo Mulai Menguning, H. Bahmada Kawal Ketahanan Pangan hingga Ujung Panen
foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Program ketahanan pangan Desa Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, memasuki fase yang menentukan. Hamparan jagung pipil yang ditanam di lahan desa kini terus tumbuh dan berkembang, menjadi penanda bahwa program yang dimulai dari benih perlahan bergerak menuju satu titik paling penting: panen.

Pada Selasa (11/8/2026), perkembangan tanaman jagung tersebut menjadi bagian dari perhatian Pemerintah Desa Koto Sentajo di bawah kepemimpinan Pj. Kepala Desa Koto Sentajo, H. Bahmada.

Program ini tidak sekadar menempatkan jagung sebagai komoditas pertanian. Lebih jauh, lahan tersebut menjadi upaya desa menerjemahkan agenda ketahanan pangan ke dalam kegiatan nyata yang bisa diukur hasilnya.

Sebab ketahanan pangan tidak selesai ketika benih ditanam.

Ia baru dapat disebut berhasil apabila tanaman tumbuh, panen diperoleh, hasilnya memiliki nilai ekonomi, dan manfaatnya kembali kepada masyarakat.

Program jagung pipil Koto Sentajo dilaksanakan pada lahan pertanian desa seluas sekitar satu hektare.
Penanaman perdana dilakukan pada 18 Mei 2026 dengan benih jagung pipil varietas BISI-2 sebanyak sekitar 10 kilogram.

Sejak awal, kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pemerintah Desa Koto Sentajo, Pemerintah Kecamatan Sentajo Raya, penyuluh pertanian, Bhabinkamtibmas, pendamping desa, BUMDes hingga masyarakat.

Bagi sebuah desa, satu hektare mungkin bukan hamparan yang luas.

Namun justru di lahan itulah efektivitas program akan terlihat.

Apakah lahan desa mampu menghasilkan?
Apakah pengelolaannya efisien?
Apakah hasil panen mampu memberikan keuntungan?

Dan yang tidak kalah penting, apakah program tersebut bisa dilanjutkan setelah musim tanam pertama selesai?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar merayakan kegiatan tanam.

Pj. Kepala Desa Koto Sentajo, H. Bahmada, menempatkan pengawasan terhadap perkembangan tanaman sebagai bagian penting dari program tersebut.

Ia turun langsung memastikan tanaman yang sudah ditanam terus mendapatkan perhatian.

Sikap itu menjadi penting karena program pertanian memiliki karakter berbeda dengan pembangunan fisik.

Kalau jalan rusak, kerusakannya dapat terlihat.

Kalau bangunan retak, persoalannya mudah ditemukan.

Tetapi tanaman yang gagal bisa baru diketahui ketika waktunya panen tiba.
Karena itu, pengawasan sejak awal menjadi kunci.

Tanaman harus dirawat. Kondisi lahan harus dipantau. Gangguan hama harus diantisipasi. Kebutuhan tanaman harus dipenuhi.

Sebab kegagalan program pertanian sering kali bukan terjadi ketika benih ditanam, melainkan ketika perhatian mulai ditinggalkan.

Di sinilah konsistensi pemerintah desa diuji.

Jagung yang ditanam pada Mei lalu kini telah melewati fase awal pertumbuhan.

Tanaman yang semula hanya berupa benih kini menjelma menjadi hamparan hijau yang memiliki potensi produksi.

Namun potensi bukanlah hasil.

Di sektor pertanian, perbedaan antara keduanya sangat besar.

Potensi baru berubah menjadi hasil ketika tanaman berhasil dipelihara sampai panen.

Karena itu, program ketahanan pangan Koto Sentajo tidak cukup dilihat dari luas lahan atau jumlah benih yang ditanam.

Masyarakat pada akhirnya akan melihat angka yang lebih konkret: berapa hasil yang diperoleh dari satu hektare tersebut.

Dari angka produksi itulah efektivitas program dapat dihitung.

Panen Akan Menjadi Rapornya

Ada kecenderungan dalam banyak program pemerintah untuk menjadikan kegiatan awal sebagai ukuran keberhasilan.

Ada penanaman, kemudian difoto.
Ada seremoni, kemudian diberitakan.

Padahal dalam pertanian, pekerjaan paling berat justru dimulai setelah kamera meninggalkan lokasi.

Tanaman harus bertahan.

Petani harus terus bekerja.

Pengelola harus memastikan biaya produksi terkendali.

Dan pemerintah desa harus memastikan tidak ada mata rantai yang terputus.

Karena itu, hari panen akan menjadi rapor sesungguhnya bagi program jagung Koto Sentajo.

Bukan spanduk.
Bukan seremoni.
Bukan banyaknya pejabat yang hadir saat tanam.

Melainkan berapa banyak jagung yang berhasil dipanen dan berapa besar manfaat ekonomi yang dihasilkan.

Satu persoalan lain yang tak kalah penting adalah pemasaran.

Pertanian tidak berhenti pada panen.
Jagung yang sudah dipetik harus memiliki pasar.

Jika hasil produksi tidak memiliki pembeli yang jelas, keberhasilan budidaya bisa kehilangan maknanya.

Karena itu, sejak sekarang pengelolaan pascapanen dan pemasaran perlu menjadi perhatian.

BUMDes yang terlibat dalam program dapat menjadi salah satu bagian penting dalam rantai tersebut.

Desa tidak seharusnya hanya berpikir bagaimana menghasilkan jagung.

Desa juga harus berpikir bagaimana hasil jagung itu menghasilkan uang.

Di situlah program ketahanan pangan bertemu dengan pemberdayaan ekonomi.

Jika hasil panen dapat dipasarkan dengan baik, keuntungan bisa menjadi modal untuk pengembangan musim tanam berikutnya.

Siklusnya menjadi jelas:
tanam — rawat — panen — jual — untung — tanam kembali.

Jika siklus tersebut berjalan, satu hektare lahan desa bisa berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Karena program tersebut berkaitan dengan kegiatan ketahanan pangan desa, masyarakat tentu berhak mengetahui bagaimana program itu dikelola.

Berapa anggaran yang dialokasikan?
Berapa biaya benih?
Berapa biaya pengolahan lahan?
Berapa biaya pemeliharaan?
Berapa produksi yang dihasilkan?
Dan berapa nilai ekonomi yang diperoleh?

Pertanyaan tersebut bukan bentuk ketidakpercayaan.

Justru transparansi merupakan bagian dari pertanggungjawaban pemerintah desa kepada masyarakat.

Semakin terbuka pengelolaannya, semakin mudah pula masyarakat menilai apakah program tersebut benar-benar produktif.

Program jagung pipil Koto Sentajo pada dasarnya sedang menguji satu gagasan sederhana: bisakah lahan desa menghasilkan pangan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi?

Jika jawabannya iya, program tersebut layak dikembangkan.

Satu hektare dapat menjadi awal untuk memperluas lahan, memperbaiki pola budidaya, meningkatkan produktivitas dan membangun jaringan pemasaran.

Tetapi jika hasilnya tidak sesuai harapan, pemerintah desa juga harus berani mengevaluasi.

Berapa biaya yang terlalu besar?

Di mana titik lemahnya?

Apakah persoalannya pada benih, pemeliharaan, produktivitas atau pasar?

Semua harus dihitung secara terbuka.

Sebab program ketahanan pangan bukan proyek yang cukup dinilai dengan kalimat “sudah dilaksanakan”.

Ia harus dinilai dengan hasil.

Sebagai Pj. Kepala Desa Koto Sentajo, H. Bahmada kini berada pada fase penting untuk memastikan program tersebut tidak kehilangan arah.

Ia bukan hanya dituntut memastikan tanaman tumbuh.

Lebih jauh, pemerintah desa dituntut memastikan seluruh rangkaian program berjalan sampai menghasilkan.

Mulai dari pengelolaan lahan, pemeliharaan tanaman, pengawasan, panen, hingga pemasaran.

Jika seluruh tahapan itu berhasil, maka program jagung tersebut dapat menjadi contoh bahwa dana dan potensi desa bisa diarahkan untuk kegiatan produktif.

Namun jika hanya berhenti pada tanaman yang tumbuh tanpa kejelasan hasil dan keberlanjutan, maka tujuan besar ketahanan pangan belum sepenuhnya tercapai.

Hari ini tanaman jagung itu berdiri di lahan desa.

Ia tumbuh dari benih yang ditanam beberapa bulan lalu.

Di balik setiap batang jagung, ada uang desa, tenaga masyarakat, waktu, harapan dan tanggung jawab pemerintah desa.

Karena itu, publik berhak menunggu ujung ceritanya.

Berapa ton jagung yang akan dipanen?
Berapa nilai jualnya?
Berapa keuntungan yang masuk ke desa?

Dan apakah lahan itu akan kembali ditanami setelah panen?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan apakah program jagung Koto Sentajo benar-benar menjadi program ketahanan pangan atau hanya menjadi kegiatan pertanian satu musim.

Untuk sementara, tanaman terus tumbuh.

Pj. Kepala Desa Koto Sentajo H. Bahmada masih punya waktu untuk memastikan seluruh mata rantai program berjalan.

Sebab ketahanan pangan tidak boleh berhenti di tanah.

Ia harus sampai ke lumbung, pasar, pendapatan masyarakat, dan keberlanjutan ekonomi desa.

Dan di Koto Sentajo, pembuktian itu kini tinggal menunggu satu momentum paling jujur dalam dunia pertanian:
hari ketika jagung dipanen.*(ald)