TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) —Beberapa pekan lagi, tepian Sungai Kuantan akan kembali dipenuhi lautan manusia. Riuh tepuk tangan, bunyi gondang, sorak penyemangat para pendayung, hingga lengking peluit juri akan menyatu dengan arus sungai yang menjadi panggung Festival Pacu Jalur 2026. Di balik gegap gempita pesta budaya itu, ada satu hal yang kini turut menjadi perhatian serius: memastikan setiap pesan, gambar, dan siaran langsung dapat mengalir tanpa hambatan melalui jaringan telekomunikasi yang andal.
Di era digital, kemeriahan sebuah festival tak lagi hanya dinikmati mereka yang hadir di tepian sungai. Ribuan foto, video, dan siaran langsung akan menghubungkan Teluk Kuantan dengan berbagai penjuru Indonesia, bahkan dunia. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) mulai mempersiapkan "urat nadi" komunikasi yang akan menopang perhelatan budaya terbesar di Provinsi Riau tersebut.
Kesadaran itulah yang melandasi pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Kuansing melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfoss) dengan jajaran Telkom di Kantor Diskominfoss, Rabu (29/7/2026). Pertemuan itu bukan sekadar agenda koordinasi rutin, melainkan ikhtiar bersama memastikan Festival Pacu Jalur yang akan berlangsung pada 19–23 Agustus mendatang dapat berjalan tanpa gangguan layanan komunikasi.
Pelaksana Tugas Kepala Diskominfoss Kuansing, Hevi Heri Antoni, menerima langsung rombongan Telkom yang dipimpin Manager Government Service Suci Lestari bersama Head of Telkom Daerah Kuansing Ryan Zulmi dan tim dari Telkom Witel Riau. Pertemuan juga dihadiri Kepala Bidang Komunikasi Saptudis beserta Tim Informatika Diskominfoss.
Bagi Hevi, jaringan telekomunikasi kini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan sebuah agenda budaya berskala nasional. Festival Pacu Jalur bukan lagi hanya perlombaan mendayung perahu kayu sepanjang puluhan meter, melainkan ruang perjumpaan budaya yang setiap tahun menarik ribuan wisatawan, pelaku UMKM, insan pers, kreator konten, hingga tamu dari berbagai daerah.
"Festival Pacu Jalur merupakan agenda budaya berskala nasional yang menjadi kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi. Karena itu, kami ingin memastikan masyarakat, wisatawan, media, hingga seluruh pihak yang terlibat dapat menikmati layanan telekomunikasi yang stabil selama kegiatan berlangsung. Sinergi dengan Telkom ini menjadi langkah nyata untuk memberikan pelayanan terbaik," ujar Hevi.
Pernyataan itu mencerminkan perubahan wajah sebuah festival tradisional di tengah perkembangan teknologi. Jika dahulu kemasyhuran Pacu Jalur menyebar dari mulut ke mulut, kini setiap momen perlombaan dapat menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Karena itu, kualitas jaringan bukan lagi sekadar urusan teknis. Ia telah menjadi bagian dari pengalaman pengunjung. Wisatawan ingin membagikan momen terbaiknya secara langsung. Wartawan membutuhkan koneksi stabil untuk mengirim berita dan foto. Pemerintah memerlukan jaringan yang kuat untuk mendukung layanan informasi publik, sementara pelaku usaha memanfaatkannya untuk transaksi digital selama festival berlangsung.
Kesadaran tersebut juga menjadi komitmen Telkom. Manager Government Service Telkom, Suci Lestari, menegaskan pihaknya akan melakukan berbagai langkah antisipasi guna menjaga kualitas layanan selama berlangsungnya Festival Pacu Jalur.
"Telkom siap memberikan dukungan terbaik melalui penguatan infrastruktur dan layanan telekomunikasi. Kami akan melakukan berbagai langkah antisipasi agar kualitas jaringan tetap terjaga, sehingga masyarakat dan para pengunjung dapat menikmati layanan komunikasi yang optimal selama Festival Pacu Jalur berlangsung," katanya.
Festival Pacu Jalur sendiri dalam beberapa tahun terakhir terus berkembang menjadi salah satu agenda wisata budaya terpenting di Indonesia. Tradisi yang berakar dari kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan itu kini menjadi wajah pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi sekaligus etalase budaya Melayu Riau di tingkat nasional.
Karena itu, keberhasilan festival tidak lagi hanya diukur dari meriahnya perlombaan di atas sungai. Kesiapan transportasi, keamanan, kebersihan, pelayanan publik, hingga kualitas jaringan komunikasi menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membangun pengalaman yang nyaman bagi pengunjung.
Di balik kayuhan serentak ratusan pendayung yang membelah arus Sungai Kuantan, ada kerja-kerja yang nyaris tak terlihat. Para teknisi memeriksa jaringan, pemerintah memperkuat koordinasi, dan berbagai pihak menyiapkan infrastruktur agar denyut digital tetap menyala selama festival berlangsung.
Sebab, di zaman ketika sebuah peristiwa dapat disaksikan dunia hanya melalui layar telepon genggam, menjaga stabilitas jaringan berarti ikut menjaga gaung budaya. Dari tepian Sungai Kuantan, semangat Pacu Jalur diharapkan tak hanya bergema melalui sorak penonton, tetapi juga mengalir tanpa putus ke ruang-ruang digital, membawa cerita tentang tradisi yang terus hidup dan berkembang di tengah arus modernitas.*(ald)