Di Antara Ikhtiar dan Takdir

Di Antara Ikhtiar dan Takdir
foto: ald/ist. (doc. kilasriau.com)

 

KilasRiau.com -- Ada saat-saat ketika hidup terasa seperti sungai yang tenang. Kita mengayuh perlahan, percaya bahwa arah telah kita tentukan, bahwa peta yang kita genggam akan membawa perahu ke tepian yang kita inginkan. Namun, tanpa aba-aba, angin berubah. Arus berbalik. Langit yang semula biru menjelma kelabu. Pada momen itulah manusia menyadari sebuah kenyataan yang telah lama ada, tetapi sering dilupakannya: kita bukan penguasa perjalanan, melainkan pengembara di dalamnya.

Sejak awal peradaban, manusia berusaha menaklukkan ketidakpastian. Ia membangun kalender untuk menjinakkan waktu, menciptakan ilmu pengetahuan untuk membaca semesta, mendirikan kota-kota besar sebagai monumen atas kecerdasannya. Namun, di balik seluruh pencapaian itu, tetap ada ruang sunyi yang tidak dapat disentuh oleh nalar.

Ruang itu bernama takdir.

Takdir bukanlah musuh dari usaha. Ia bukan alasan untuk berhenti melangkah. Justru karena takdir tidak pernah kita ketahui, manusia diperintahkan untuk berjalan. Setiap langkah adalah bentuk penghormatan kepada kehidupan; setiap doa adalah pengakuan bahwa di balik seluruh kemampuan manusia, ada kehendak yang jauh lebih agung.

Barangkali, kesalahan terbesar manusia modern bukanlah karena ia terlalu banyak bermimpi, melainkan karena ia mengira semua mimpi dapat dipaksa menjadi kenyataan.

Kita hidup di zaman yang mengagungkan kendali. Segala sesuatu diukur, dihitung, diprediksi. Kesuksesan dijadikan rumus. Kebahagiaan dipasarkan sebagai produk. Kegagalan dianggap sekadar kurang bekerja keras. Padahal kehidupan tidak pernah sesederhana itu.

Ada anak yang belajar siang dan malam, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan yang diimpikannya. Ada petani yang menanam dengan penuh harap, namun hujan memilih turun di ladang orang lain. Ada seseorang yang mencintai dengan seluruh hatinya, tetapi tetap harus belajar melepaskan.

Apakah usaha mereka sia-sia?

Tidak.

Karena nilai sebuah ikhtiar tidak pernah hanya diukur dari hasil yang terlihat. Ikhtiar membentuk jiwa jauh sebelum ia mengubah keadaan. Ia mengajarkan kesabaran ketika dunia meminta kita tergesa-gesa. Ia menumbuhkan kerendahan hati ketika keberhasilan datang. Dan ketika kegagalan mengetuk pintu, ikhtiar menjaga manusia agar tidak kehilangan martabatnya.

Mungkin hidup memang bukan tentang memperoleh semua yang kita inginkan. Mungkin hidup adalah tentang menjadi pribadi yang lebih utuh melalui segala yang tidak kita dapatkan.

Di situlah paradoks kehidupan menemukan maknanya. Manusia diperintahkan untuk berjuang seolah-olah segala sesuatu bergantung pada usahanya, tetapi juga diajarkan untuk berserah seolah-olah segala sesuatu bergantung pada Tuhan.

Dua sikap yang tampak bertentangan itu sesungguhnya saling menyempurnakan.

Usaha tanpa tawakal melahirkan kesombongan. Tawakal tanpa usaha melahirkan kemalasan. Kebijaksanaan lahir ketika keduanya berjalan berdampingan—ketika tangan bekerja tanpa lelah, sementara hati tetap tenang menerima apa pun yang diputuskan oleh Sang Pencipta.

Betapa banyak luka yang sesungguhnya berasal dari keinginan manusia untuk mengendalikan sesuatu yang memang tidak pernah menjadi miliknya. Kita ingin memastikan siapa yang tetap tinggal, padahal hati manusia tidak bisa dimiliki. Kita ingin menjamin masa depan, padahal bahkan matahari esok pagi pun terbit bukan karena kehendak kita.

Kesadaran akan keterbatasan bukanlah kekalahan. Ia adalah pintu menuju kebebasan.

Sebab ketika manusia berhenti memaksa dunia mengikuti keinginannya, ia mulai mampu menikmati setiap musim kehidupan. Ia tidak lagi melihat kegagalan sebagai akhir, melainkan sebagai bahasa yang digunakan Tuhan untuk mengubah arah langkahnya. Ia memahami bahwa ada doa yang dikabulkan dengan cara yang berbeda, ada harapan yang ditunda agar tidak berubah menjadi petaka, dan ada kehilangan yang diam-diam sedang menyelamatkannya.

Mungkin itulah mengapa orang-orang yang paling bijaksana bukanlah mereka yang selalu menang, melainkan mereka yang tetap mampu bersyukur ketika kenyataan tidak berpihak kepada harapannya.

Pada akhirnya, hidup tidak meminta kita mengetahui seluruh jawaban. Hidup hanya meminta kita tetap berjalan, meski jalan itu berkabut. Tetap menanam, meski musim belum tentu berpihak. Tetap mencintai, meski perpisahan selalu menjadi kemungkinan. Tetap berdoa, meski jawaban Tuhan sering datang melalui cara yang tak pernah kita bayangkan.

Karena manusia hanya diberi kuasa atas niat, usaha, dan ketulusan. Selebihnya adalah wilayah yang tidak dapat dibeli, dinegosiasikan, ataupun dipaksakan.

Maka teruslah berharap, bukan karena dunia selalu ramah, tetapi karena harapan adalah cahaya yang membuat langkah tetap memiliki arah.

Teruslah berusaha, bukan karena hasil pasti menjadi milik kita, tetapi karena ikhtiar adalah bentuk syukur atas kehidupan yang dipinjamkan.

Dan ketika akhirnya segala rencana harus tunduk pada kenyataan, janganlah tergesa-gesa menyebutnya sebagai kekalahan. Bisa jadi, di situlah kasih sayang Tuhan sedang bekerja dengan cara yang belum mampu dipahami oleh mata manusia.

Sebab pada akhirnya, kita hanyalah pejalan yang singgah sebentar di bumi. Kita menulis rencana dengan tinta harapan, tetapi Tuhan menuliskan akhir kisah dengan kebijaksanaan yang melampaui seluruh pengetahuan manusia.

Dan mungkin, di sanalah letak kedamaian yang sesungguhnya: ketika kita telah memberikan seluruh yang mampu kita lakukan, lalu menyerahkan sisanya kepada Dia yang menggenggam semesta.*(ald)

 

by: aldian syahmubara