Bumi Bertuah Akan Menggema di Hari Bhayangkara ke-80, Seratus Penari Hadirkan Kisah Riau dari Surga Hijau hingga Semangat Green Policing

Bumi Bertuah Akan Menggema di Hari Bhayangkara ke-80, Seratus Penari Hadirkan Kisah Riau dari Surga Hijau hingga Semangat Green Policing
foto: doc. KilasRiau.com

 

PEKANBARU (KilasRiau.com) – Ada kalanya sebuah tarian bukan sekadar rangkaian gerak tubuh yang mengikuti irama musik. Ia menjelma menjadi bahasa bumi, suara pepohonan, jerit sungai, dan doa yang dipanjatkan manusia agar alam tetap lestari.

Begitulah makna yang akan dihadirkan dalam tari kolosal "Bumi Bertuah", sebuah karya monumental yang dipersembahkan Laman Seni Seri Melayu pada puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Rabu, 1 Juli 2026, pukul 10.00 WIB, di halaman Kantor Polda Riau.

Selama sekitar 10 hingga 15 menit, sebanyak 100 penari akan memenuhi arena pertunjukan dalam sebuah kolaborasi seni yang mengangkat wajah Riau sebagai negeri yang kaya akan hutan, sungai, dan budaya Melayu, sekaligus mengajak masyarakat menjaga warisan alam melalui semangat Green Policing yang terus digaungkan Polda Riau. Program Green Policing menjadi salah satu pendekatan Polda Riau dalam mengajak masyarakat menjaga kelestarian lingkungan melalui edukasi, penanaman pohon, dan kolaborasi lintas elemen masyarakat.

Diproduksi oleh Laman Seni Seri Melayu, pertunjukan ini dikoreografi oleh Aldi, dengan tata musik garapan Anggara Satria, sementara konsep artistik dirancang oleh Epi Martison sebagai konseptor sekaligus art director.

Pertunjukan dibuka dengan babak "Tuah Negeri Riau Tempo Dulu."

Di atas panggung, Riau digambarkan sebagai tanah yang diberkahi Tuhan. Hutan gambut berdiri kokoh, sungai-sungai mengalir jernih, sementara pepohonan menari bersama desir angin.

Gerak tari Melayu yang anggun berpadu dalam formasi dedaunan dan pepohonan, menghadirkan suasana damai yang begitu menyejukkan hati.

Seekor gajah melintas sebagai lambang kebesaran alam, sementara burung-burung beterbangan menjadi simbol kebebasan kehidupan liar yang hidup harmonis di bumi Melayu.

Alunan gambus, akordeon, biola, kompang, bebano, dan marwas menyatu dalam komposisi musik Melayu kontemporer, menghidupkan denyut peradaban yang telah berakar sejak ratusan tahun silam.

Namun kedamaian itu tak berlangsung lama.

Memasuki babak kedua bertajuk "Tuah Alam Terancam", panggung berubah kelam.

Para penari berpakaian gelap memasuki arena dengan membawa bendera api sebagai simbol kebakaran hutan dan lahan.

Irama musik berubah menjadi keras dan menghentak.

Gerakan-gerakan patah, cepat, dan penuh benturan menggambarkan kerakusan manusia yang menebangi hutan secara ilegal, mengeksploitasi bumi tanpa belas kasih, hingga meninggalkan ranting-ranting kering dan pohon-pohon tumbang.

Alam yang semula hijau berubah menjadi luka.

Asap membumbung.

Satwa kehilangan rumah.

Bumi menangis dalam diam.

Di tengah suasana mencekam itulah harapan mulai muncul.

Babak ketiga menghadirkan tema "Hadirnya Green Policing."

Penari berseragam Polri memasuki arena bersama masyarakat.

Mereka tidak digambarkan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga penjaga kehidupan.

Adegan demi adegan memperlihatkan patroli hutan, pemadaman kebakaran lahan, penangkapan pelaku perusakan lingkungan, hingga penyuluhan kepada masyarakat agar mencintai alam dan gemar menanam pohon.

Gerakan para penari kemudian membentuk lingkaran besar, melambangkan persatuan, musyawarah, dan komitmen bersama dalam menjaga bumi.

Puncak pertunjukan hadir pada babak terakhir bertajuk "Melindungi Tuah, Menjaga Marwah."

Seluruh penari berubah menjadi simbol kehidupan.

Mereka mengenakan kostum bernuansa hijau menyerupai pepohonan, sambil membawa bibit tanaman yang akan ditanam sebagai lambang harapan baru.

Panggung yang semula dipenuhi warna kelam perlahan berubah menjadi hamparan hijau.

Di penghujung pertunjukan, seluruh penari membentuk formasi kolosal yang membentangkan logo Green Policing Polda Riau dan Hari Bhayangkara, disertai semboyan yang menjadi ruh pertunjukan:

"LINDUNGI TUAH, JAGALAH MARWAH SEBAGAI PERISAI NEGERI."

Lebih dari sekadar hiburan, "Bumi Bertuah" merupakan refleksi bahwa keamanan tidak hanya berbicara tentang menjaga manusia dari ancaman kejahatan, tetapi juga menjaga hutan dari api, sungai dari pencemaran, serta bumi dari keserakahan.

Sebab ketika alam tetap lestari, sesungguhnya kehidupan pun ikut terjaga.

Melalui kolaborasi seni, budaya, dan semangat pengabdian, pertunjukan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga Riau bukan hanya tugas pemerintah ataupun Polri, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Karena bumi yang diwariskan leluhur tidak boleh habis oleh kerakusan generasi hari ini.

Dan di atas tanah Melayu yang bertuah, setiap pohon yang ditanam adalah doa, setiap hutan yang diselamatkan adalah marwah negeri, dan setiap langkah kecil menjaga alam adalah warisan paling berharga bagi anak cucu di masa depan.*(ald)