TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Di tengah gegap gempita persiapan menyambut Pacu Jalur Baserah 2026, sebuah ancaman senyap muncul dari bantaran Sungai Kuantan. Turap penahan tebing di kawasan Arena Pacu Jalur Tepian Lubuok Sobae Basogha, Kecamatan Kuantan Hilir, dilaporkan mengalami kerusakan akibat abrasi yang terus menggerus tepian sungai dari waktu ke waktu.
Kerusakan itu bukan sekadar persoalan infrastruktur. Di lokasi yang setiap tahun menjadi pusat berkumpulnya ribuan masyarakat dan wisatawan tersebut, kondisi turap yang melemah berpotensi menjadi ancaman serius bagi keselamatan publik apabila tidak segera ditangani.
Situasi itu membuat Bupati Kuantan Singingi, H. Suhardiman Amby, mengambil langkah cepat. Tanpa menunggu kondisi semakin memburuk, ia langsung menginstruksikan Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kuansing untuk turun ke lapangan melakukan pengecekan sekaligus menyiapkan langkah penanganan.
"Saya sudah meminta Bidang SDA Dinas PUPR Kuansing segera turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan dan mengupayakan langkah penanganan. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama, apalagi kawasan ini akan menjadi pusat aktivitas saat pelaksanaan Pacu Jalur nanti," tegas Suhardiman Amby, Sabtu (30/5/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap keselamatan masyarakat. Terlebih, Pacu Jalur Baserah bukanlah kegiatan biasa. Tradisi budaya yang telah hidup selama ratusan tahun itu selalu menjadi magnet yang menarik ribuan penonton memadati tepian Sungai Kuantan.
Dalam kondisi seperti itu, keberadaan turap penahan tebing menjadi sangat vital. Bangunan tersebut berfungsi menjaga kestabilan bantaran sungai, menahan tekanan tanah, serta mencegah longsor maupun abrasi yang dapat mengancam fasilitas publik dan keselamatan pengunjung.
Jika kerusakan terus dibiarkan, abrasi berpotensi mempercepat pengikisan tanah tebing. Bukan hanya mengurangi kekuatan struktur penahan tebing, tetapi juga dapat memicu kerusakan yang lebih luas pada kawasan arena pacu jalur.
"Kita ingin masyarakat yang datang merasa aman dan nyaman. Jangan sampai ada potensi bahaya yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal," ujar Bupati.
Instruksi cepat dari kepala daerah itu langsung ditindaklanjuti oleh jajaran teknis di lapangan.
Kepala Dinas PUPR Kuansing, Ade Fahrer Arif, melalui Kepala Bidang SDA, Zulderi, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima arahan langsung dari Bupati untuk segera melakukan peninjauan.
"Benar, kami telah menerima arahan dari Bapak Bupati. Tim Bidang SDA juga sudah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan kondisi turap penahan tebing yang mengalami kerusakan akibat abrasi," kata Zulderi.
Menurutnya, hasil pengecekan lapangan kini sedang dianalisis untuk menentukan langkah teknis yang paling efektif dan sesuai dengan tingkat kerusakan yang ditemukan.
"Kami sedang menginventarisasi kondisi di lapangan dan mencarikan solusi terbaik sesuai arahan pimpinan. Yang jelas, perhatian Bapak Bupati terhadap keselamatan masyarakat dan kelestarian aset daerah sangat besar," jelasnya.
Abrasi sendiri merupakan proses alam yang terjadi akibat gerusan arus air secara terus-menerus terhadap bantaran sungai. Dalam jangka panjang, fenomena ini dapat mengikis tanah, melemahkan struktur bangunan penahan tebing, hingga memicu longsor.
Di kawasan Tepian Lubuok Sobae Basogha, ancaman tersebut menjadi perhatian serius karena lokasi itu bukan hanya arena perlombaan, tetapi juga pusat aktivitas masyarakat dan salah satu ikon budaya Kecamatan Kuantan Hilir.
Masyarakat setempat berharap hasil peninjauan yang dilakukan pemerintah tidak berhenti pada tahap pendataan semata. Mereka menginginkan langkah nyata agar kerusakan turap segera diperbaiki sebelum Pacu Jalur Baserah digelar.
Harapan itu cukup beralasan. Setiap tahun, ribuan orang memadati kawasan arena untuk menyaksikan adu cepat jalur-jalur terbaik di Sungai Kuantan. Dalam kondisi keramaian seperti itu, keamanan infrastruktur menjadi faktor yang tidak bisa ditawar.
Langkah cepat yang diambil Bupati Suhardiman Amby pun mendapat perhatian positif. Di saat banyak persoalan infrastruktur kerap menunggu hingga terjadi kerusakan lebih parah, respons cepat terhadap potensi ancaman keselamatan publik dinilai sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat.
Kini, publik menanti hasil konkret dari peninjauan tersebut. Sebab waktu menuju pelaksanaan Pacu Jalur Baserah terus berjalan, sementara abrasi tidak pernah berhenti bekerja.
Ketika ribuan masyarakat nantinya memadati tepian Sungai Kuantan untuk merayakan warisan budaya leluhur, yang mereka harapkan bukan hanya kemeriahan perlombaan. Mereka juga ingin pulang dengan rasa aman.
Dan untuk mewujudkan itu, perbaikan turap yang tergerus abrasi bukan lagi sekadar pekerjaan konstruksi, melainkan bagian dari upaya menjaga keselamatan, melindungi warisan budaya, dan memastikan Pacu Jalur Baserah berlangsung tanpa meninggalkan cerita duka.*(ald)