BASERAH (KilasRiau.com) — Di tepian Sungai Kuantan yang mengalir tenang membawa jejak sejarah dan denyut peradaban Melayu, semangat itu kembali dipanggil. Semangat yang selama ratusan tahun hidup dalam denting kayuh, gemuruh sorak masyarakat, dan derap langkah anak negeri yang tak pernah rela budayanya tenggelam dimakan zaman.
Di Tepian Lubuok Sobae Basogha, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, persiapan menuju Pacu Jalur Event Kebudayaan Baserah Tahun 2026 resmi dimulai. Sebuah rapat sederhana di Ruang Rapat Kantor Camat Kuantan Hilir, Kamis (21/5/2026), seolah menjadi titik awal dibukanya kembali lembaran panjang tentang tradisi, kebanggaan, dan marwah masyarakat di sepanjang aliran Sungai Kuantan.
Di ruangan itu, bukan hanya nama-nama panitia yang disusun. Lebih dari itu, harapan sedang dirangkai. Sebuah tekad sedang dipahat untuk menjaga nyala budaya agar tetap hidup di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Plt. Camat Kuantan Hilir, Rahman Candra, berdiri di hadapan para tokoh masyarakat, pemuda, dan unsur pemerintahan dengan satu keyakinan: Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan perahu panjang yang membelah sungai. Ia adalah denyut identitas masyarakat Kuansing yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Pacu Jalur bukan hanya perlombaan tradisional Baserah, tetapi identitas dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. Karena itu panitia yang sudah terbentuk harus langsung bergerak dan bekerja maksimal. Kita ingin Pacu Jalur Event Kebudayaan Tahun 2026 lebih meriah, tertata, dan mampu menjadi daya tarik budaya daerah,” tegas Rahman Candra.
Kalimat itu terdengar lebih dari sekadar sambutan resmi. Ia seperti panggilan batin untuk menjaga sesuatu yang lebih besar dari sekadar acara tahunan. Sebab di Kuansing, Pacu Jalur bukan hiburan biasa. Ia adalah napas kolektif masyarakat Melayu yang hidup bersama sungai.
Sungai Kuantan telah terlalu lama menjadi saksi. Ia menyimpan cerita tentang para datuk yang dahulu menebang kayu terbaik dari hutan, mengukirnya menjadi jalur panjang penuh wibawa, lalu menurunkannya ke air dengan doa dan harapan. Dari sanalah lahir semangat persatuan, sportivitas, dan gotong royong yang hingga kini masih mengalir di dada masyarakat.
Baserah sendiri bukan nama kecil dalam sejarah Pacu Jalur. Daerah ini dikenal sebagai salah satu titik penting tumbuhnya tradisi tersebut. Maka tak heran jika setiap kali event Pacu Jalur digelar di Tepian Lubuok Sobae Basogha, masyarakat selalu menyambutnya dengan gegap gempita, seolah sedang menyambut pulang sejarah mereka sendiri.
Kini, untuk menyambut event budaya tahun 2026, kepanitiaan inti resmi dibentuk. Nama-nama yang dipercaya memegang amanah itu diharapkan mampu membawa Pacu Jalur tampil lebih megah tanpa kehilangan ruh tradisinya.
Kepanitiaan inti dipimpin oleh Titus Arianto, S.Pd sebagai Ketua Umum, didampingi Jefriyoni sebagai Ketua I, Masrianto sebagai Ketua II, serta H. Wiwit Erianto sebagai Ketua III.
Sementara di bagian sekretariat, Thomas Alpa Edison, S.Pd dipercaya sebagai Sekretaris Umum bersama Didik Marka Hendika, S.IP sebagai Sekretaris I. Sedangkan amanah pengelolaan keuangan berada di tangan Hj. Ermiati, SE sebagai bendahara dan Meilany Sri Utami, ST sebagai Bendahara I.
Bagi masyarakat Kuansing, terbentuknya panitia bukan sekadar administrasi kegiatan. Ia adalah tanda bahwa genderang budaya mulai ditabuh. Bahwa hari-hari menuju Pacu Jalur telah mulai dihitung.
Dalam waktu ke depan, berbagai persiapan akan mulai digerakkan. Arena akan ditata. Jalur-jalur akan dipersiapkan. Suara anak pacu akan kembali menggema di tepian sungai. Pedagang kecil mulai menaruh harapan. Pelaku UMKM menanti ramainya pengunjung. Anak-anak muda kembali bersiap menjadi bagian dari pesta budaya yang selalu menyatukan masyarakat tanpa memandang status dan golongan.
Karena setiap Pacu Jalur digelar, Kuansing seakan berubah menjadi rumah besar kebudayaan. Orang-orang datang bukan hanya untuk menyaksikan siapa tercepat membelah arus sungai, tetapi untuk merasakan suasana kebersamaan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Ada kebanggaan yang tak bisa dibeli ketika suara gondang mulai ditabuh, ketika sorak penonton pecah dari tepian, dan ketika jalur-jalur panjang meluncur gagah di atas air membawa nama kampung masing-masing.
Di situlah budaya menemukan rohnya.
Rahman Candra pun mengingatkan bahwa suksesnya event budaya ini bukan hanya tanggung jawab panitia ataupun pemerintah kecamatan semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
“Kita berharap seluruh masyarakat, tokoh adat, pemuda, sponsor, dan seluruh pihak terkait ikut mendukung. Ini bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi bagian dari menjaga marwah budaya Kuansing,” ujarnya.
Kalimat “menjaga marwah budaya” terasa begitu dalam. Sebab hari ini, banyak tradisi perlahan hilang ditelan modernitas. Namun di Kuansing, Pacu Jalur masih bertahan. Ia tetap hidup karena masyarakatnya belum rela kehilangan akar.
Dan mungkin benar, budaya hanya akan tetap hidup selama masih ada orang-orang yang mau menjaganya dengan cinta.
Maka dari Tepian Lubuok Sobae Basogha, semangat itu kembali dinyalakan. Sebuah semangat yang lahir dari sungai, tumbuh bersama masyarakat, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya agar mereka tahu bahwa di tanah Kuantan Singingi, ada tradisi besar yang tak pernah berhenti mengajarkan arti persatuan, kehormatan, dan kebanggaan terhadap kampung halaman.
“Mari kita jadikan Pacu Jalur sebagai kebanggaan bersama. Budaya ini harus terus hidup, dijaga, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkas Rahman Candra.
Dan di tepian sungai itu, angin sore seakan ikut membawa pesan yang sama:
bahwa selama Sungai Kuantan masih mengalir, Pacu Jalur akan tetap hidup di hati masyarakatnya.*(ald)